'nBASIS

Home » ARTIKEL » DESA DI NEGARA AGRARIS

DESA DI NEGARA AGRARIS

AKSES

  • 545,203 KALI

ARSIP


TANI

Dikaupun tahu langkanya akses layanan usaha dan modal, panjangnya rantai tataniaga dan tak adilnya sistem pemasaran. Jangan lupa, rendahnya kualitas, mentalitas, dan keterampilan sumberdaya petani begitu menyedihkan, termasuk kelembagaan dan posisi tawar petani

Jumlah orang yang cemburu dan bahkan merasa hak-hak normatifnya selalu dirampas (relative deprivation) bertambah banyak. Tidak hanya di sini, tetapi juga di seluruh dunia. Mereka kebanyakan di desa. Berapa jauh mereka dari pusat pemerintahan? Punyakah mereka rumah ibadah dan gairah peribadatan? Adakah niat bepergian naik haji? Berapa kali makan satu hari? Menu apa yang mereka asupkan kepada anak-anak mereka? Sehatkah mereka? Pernahkah mereka berekreasi? Seberapa hitam legam kulit mereka? Berapa luas sawah dan ladang mereka? Komoditi apa yang mereka tanami, dan bagaimana fluktuasi nilai tukar (ekonomik) mereka (petani) itu?

Semua pertanyaan itu terarah kepada orang yang masih peduli tanpa basa-basi. Mereka yang ada dalam institusi terpenting pengambil kebijakan. Mereka yang memiliki kewenangan penganggaran. Mereka yang menilai seseorang itu sama dengan seseorang lainnya, tak peduli berdomisili di kota atau desa. Ini memang soal kepedulian, rasa tanggap dan rasa keadilan. Publikasi buku statistik yang selalu setengah hati menceritakan keberadaan mereka sama sekali tak menuntun pengenalan lebih baik. Jangankan untuk merubahnya.

Akumulasi Permasalahan di Kota. Karena generasi muda yang disekolahkan (dengan pengorbanan material besar yang sekaligus mengerdilkan terus-menerus potensi desa) selalu tak pernah kembali dari “sekolahnya” yang abadi di kota, maka perubahan tak pernah begitu mudah. Agent of change memang mestinya selalu terkait dengan kualitas sumber daya manusia, dan itu dipastikan menjadi sebuah kelangkaan di desa.

Maukah dikau, tinggal di sebuah desa yang jauhnya 100-150 km dari pusat kota, tetapi ketika setiap pagi dikau akan pergi bekerja ke kota tempat instansimu berada jarak tempuh yang dibutuhkan hanya 20-30 menit? Setiap usai sarapan ubi jalar pada pukul 7 pagi ada moda angkutan massal yang melaju  antara 200-300 km perjam. Di desamu dikau tak perlu risau hubungan lewat dunia maya. Sanitasi yang tak lebih buruk dari kondisi terbaik di pusat kota. Udara yang bersih dari polusi dengan pepohonan di sekeliling rumah yang selalu ditingkahi aneka corak kicau unggas dan lenguh sapi yang bergembira ria menyambut kedatanganmu setiap sore. Perasaan guyub dalam lingkungan sosial yang amat peduli sesama, dan selalu menyebut namamu dengan pertanyaan besar saat kau sekali saja tak muncul dalam perwiridan dan pesta pernikahan atau sunatan warga.

Sungguh tak terbandingkan dengan suasana sumpek dan saling tak peduli di kota.Dikaupun sudah merasakan keterpaksaan hidup dengan rumah tak punya jendela. Jarak tinggalmu dengan keluarga lain hanya berbatas dinding yang jika lagu dangdut dibunyikan agak keras di sebelah, dikaupun tak cuma bisa mengikuti jogetnya, tetapi juga sekaligus bisa hanya mengelus dada karena hilangnya tenggang rasa. Tidurmu pun terbiasa dengan kebisingan, dan sebagai manusia biasa seperti yang lain, dikaupun memang dapat beradaptasi dengan corak hidup yang dehumanistik itu.

Semakin sulitnya mencari penghidupan telah menjadi salah satu faktor kumulatif pendorong (push factor)  bagi setiap motivasi berurbanisasi. Hanya ada sekolah tinggi di kota, dan karenanya dikaupun tak tega anak dan cucumu tak menikmati peluang eskalasi sosial vertikal itu. Dengan ijazah lebih tinggi gaji anak dan cucumu patut diharapkan lebih tinggi kelak. Itu pun jika angka pengangguran tak bertambah setiap tahun dan tak toleran terhadapmu dalam memikirkan dan mengupayakan hal terbaik bagi keturunanmu.

Berapa waktu yang dikau perlukan setiap hari untuk pergi dan pulang dari pekerjaan di kotamu? Itu cuma satu di antara banyak jenis permasalahan klasik. Nanti mungkin akan tiba pula saatnya dikau merasa sama saja memiliki atau tak memiliki kenderaan, karena kemacetan dimana-mana menjadi pertanda bagi kesulitan serius mengiringi modernitas di kota tempatmu tinggal.

Karena dikau dan jutaan orang sepertimu tak memiliki jawaban selain adaptasi, maka beban kota tempatmu seolah terselip semakin kumulatif. Harga tanah membubung tinggi sesuai hukum pasar. Tetapi jika dikau dan jutaan orang lainnya nyata-nyata terfasilitasi dan terakomodasi untuk tinggal jauh dari kota dengan tanpa kekurangan kontinum kenikmatan hidup dan akses prima terhadap semua modernitas pelayanan seperti yang ada di kota, maka begitu naifkah orang-orang yang merelakan degradasi kualitas kemanusiaannya untuk kesempatan berkompetisi secara sengit hidup berdesakan di kota?  Dikaupun kini sungguh tak menyadari bahwa kota tempat tinggalmu yang sumpek itu benar-benar menderita penyakit kedesaan. Sisi ini menandai urbanisasi yang terjadi di seluruh kota besar Indonesia. Jakarta sebagai ibukota Negara yang pernah akan dipindahkan itu adalah jeritan serius tanpa jawaban solusional dari politisi dan elit berkuasa.

Kilas Balik Kebijakan. Dikau boleh lupa sama sekali, tetapi visi pembangunan pertanian Indonesia tahun 2005 -2009 ialah terwujudnya pertanian tangguh untuk pemantapan ketahanan pangan, peningkatan nilai tambah, dan daya saing produk pertanian serta peningkatan kesejahteraan petani. Sekaitan dengan itu, suatu ketika, dihembuskanlah konsep pertanian organic. Dalam usia relatif muda konsep ini diharapkan mampu ternyatalaksanakan untuk mengangkat citra produk pertanian organik dalam rangka ketahanan pangan, meskipun akhirnya dikau pun tahu bahwa upaya nyata menghimpun berbagai sumberdaya dan kekuatan untuk merevitalisasi pertanian sebagai pilar utama pembangunan ekonomi nasional dalam bentuk yang riil hanyalah sebatas konsep nyata.

Pekan lalu seorang aktivis penggerak pertanian dari Karo menangis tersedu di tengah pertemuan konsultasi yang diselenggarakan oleh UNDP di Medan. Mengapa sampai begitu? Ya, hingga kini pembangunan pertanian dihadapkan pada keterbatasan dan penurunan kapasitas sumberdaya diiringi lemahnya sistem alih teknologi dan kurang tepatnya sasaran. Dikaupun tahu langkanya akses layanan usaha dan modal, panjangnya rantai tataniaga dan tak adilnya sistem pemasaran. Jangan lupa, rendahnya kualitas, mentalitas, dan keterampilan sumberdaya petani begitu menyedihkan, termasuk kelembagaan dan posisi tawar petani. Dikaupun bertemu dengan lemahnya koordinasi antar lembaga dan birokrasi, serta belum berpihaknya kebijakan ekonomi makro. Itulah sedikit catatan dari kinerja KIB jilid pertama yang juga sangat dirasakan pedih oleh aktivis dari tanah Karo itu. Bukankah singkong harus diimpor mengiringi impor raskin? Dia memang menangisi degradasi.

Penutup. Tahukah dikau devisa dari sektor pertanian dan usaha lain berbasis pertanian periode pemerintahan KIB jilid pertama sangat diharapkan meningkat dari sekitar 7,8 milyar US$ menjadi 12 milyar US$ tahun 2009? Itu tak tercapai.  Revitalisasi Pertanian tetap tinggal cerita, tak menjadi prioritas pembangunan ekonomi nasional yang serius. Adakah yang peduli mendorong terwujudnya pertanian tangguh, berdaya saing dan mendorong peningkatan kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian nasional, melalui peningkatan PDB, ekspor, penciptaan lapangan kerja, penanggulangan kemiskinan, dan peningkatan kesejahteraan, serta memperjuangkan perlindungan petani dan pertanian dalam sistem perdagangan Internasional?  Maka sebaiknya mulailah pembangunan dari desa.

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada, Medan, 24 Desember 2012, hlm B7

Advertisements

1 Comment

  1. Saya setuju pendapat kakanda.
    Mohon memberikan kontribusi pemikiran pada diskusi advokasi kesehatan pada masyarakat marginal terutama penyakit tbc pada orang miskin di Garuda Plaza hari Senin tanggal 14 Januari 2013 Pukul 09.00 Wib

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: