'nBASIS

Home » ARTIKEL » TUKANG BUTUT BERINFAK

TUKANG BUTUT BERINFAK

AKSES

  • 512,713 KALI

ARSIP


Scan20001

 

Orang miskin ihlas berinfak adalah antipoda keras bagi fenomena korupsi. Bukankah keihlasan menjalani kehidupan dengan bimbingan ajaran Tuhan menjadi penentu telah begitu luas dijelaskan oleh aliran sosiologi motif? Memang, secara umum orang akan melihat ada hal yang pradoksal di sini. Mengapa orang miskin yang selalu kekurangan malah berinfak? Maka, jika suatu ketika Anda bertemu dengan orang yang sama, tolong tanyakan kepadanya tentang motif orang menjadi koruptor. Mungkin KPK, BPK, Kepolisian dan Kejaksaan dan bahkan ICW dan seluruh inspektorat sangat perlu belajar kepadanya

Tukang butut. Bukan toke butut. Jadi yang akan saya ceritakan ini hanyalah orang biasa. Tetapi sangat mandiri. Tidak ada rasa was-was sama sekali. Jiwanya terkesan amat tenang karena optimisme yang menyala. Ia berbicara produktif tetapi perlahan, dan terkesan hampir seperti berbisik. Meski dengan kecepatan di atas rata-rata, tetapi orang ini selalu bervokal amat jelas, intonasi dan pilihan kata yang bagus dan santun. Hampir tak pernah berucap dua kali untuk sebuah pokok pikiran yang disampaikannya kepada lawan bicaranya.

Hari ini dia berinfak. “Titip ya pak. Saya tadi dapat rezeki mengantarkan barang ke jalan Denai Ujung. Bayarannya cukup bagus. Saya ingat dulu bapak menjual barang-barang bekas kepada saya agar uangnya bisa diinfakkan ke mesjid. Saya titip ya pak, katanya. Itu dilakukannya setelah membayar Rp 15.000 untuk barang bekas yang saya jual kepadanya. Setelah berada di luar pagar rumah, ia menoleh lagi dan berucap: “terimakasih ya pak”.

Pejuang Lemah Posisi. Secara umum orang mengenal tukang butut sebagai profesi dalam sektor informal, tetapi tak selalu disadari betapa penting perannya dalam masyarakat. Mereka kerap menerima perlakuan buruk. Beberapa tahun lalu itulah yang saya bicarakan dengan Persatuan Pedagang Barang-barang Bekas (P2B2SU).  Pemerasan dari orang-orang yang senang menikmati status kepremanan. Tuduhan menyakitkan (sebagai pencuri) dari para babu orang kaya yang berpagar rumah tinggi.  Bentakan dan perlakuan  kasar lainnya dari petugas security komplek-komplek perumahan mewah, dan lain-lain. Padahal semua “predator” itu adalah sesama orang miskin. Bedanya, mereka membawa wajah dan kewibawaan tuannya saat memaksa konflik dengan para tukang butut.

“Kita harus menciptakan ID Card bagi setiap anggota. Ketika masuk pemukiman mewah itu, titipkan kepada petugas security dan ambil lagi saat keluar. Itu sebagai jaminan bahwa kita orang-orang baik yang tidak mau merugikan siapa pun. Ajarkan mereka bahwa sebetulnya tukang butut menempati peran dalam sebuah institusi penting yang tak selalu disadari. Tukang butut adalah mekanisme sosial yang hadir dengan iktikad beroleh rezeki melalui kerja membersihkan (sampah), memilah dan delivery ke pemilik mesin daur ulang untuk kebutuhan kolektif. Jarang orang mengetahui akhir proses yang memproduk kebutuhan baru dengan bahan-bahan lama dan jelas dengan harga lebih murah, dan meski akan menjadi musuh bagi industriawan raksasa, orang-orang kecil pastilah sangat terbantu.

Gagasan motivasional itu saya jelaskan kepada para tukang butut di P2B2SU. Mereka setuju dan sebelumnya semua pemukiman mewah di kota ini akan disurati terlebih dahulu agar mereka tahu keberadaan P2B2SU sebagai orang-orang jujur dan mandiri. Pembentukan organisasi ini pun dilatari oleh banyak kejadian menyedihkan. Seseorang telah ditahan pihak kepolisian karena dituduh mencuri barang bekas sisa bangunan di Jalan Perak. Padahal ia membayar kepada orang yang dianggapnya kompeten di area itu sebelum membawa beberapa lembar seng bekas. “Bawalah semua beca yang kita miliki untuk unjuk rasa ke kantor kepolisian. Sebelumnya kita ke tempat orang yang mengadukan anggota kita itu agar bersedia minta maaf dan mencabut pengaduannya. Inilah weapon of the weakness (senjata orang-orang lemah). Sebelumnya lagi, kita kumpulkan recehan yang kita punyai untuk belanja isteri dan anak teman kita yang malang itu.  Waktu itu seorang utusan dari LBH Medan selalu aktif memberi advokasi hukum untuk perjuangan membebaskan sahabat miskin itu.

Setelah organisasi ini mulai besar, muncul lagi tantangan baru. Ada toke yang merasa penting mengkooptasi. Biasanya dengan cara memancing pemberian modal kecil untuk kemudian memupuk ketergantungan (dependency). Setiap pagi si toke menyediaakan pinjaman uang dengan harapan sore hari sudah terbayar saat peminjam menyerahkan barang bekas. Pada saat yang tepat dimulailah pendiktean dengan penentuan harga beli barang secara sepihak. Itu bentuk pemerasan yang tak manusiawi. Saya pun baru menyadari bahwa di kota ini dan di seluruh kota besar lainnya rupanya berbilang orang yang sudah menjadi kaya (raya) dari sektor informal yang satu ini.

Negara Lepas Tanggungjawab. Suatu ketika berkumpullah mereka di sebuah bekas gedung sekolah di Jalan HM Joni Ujung. Pihak Kepolisian diminta berceramah tentang jaminan keamanan untuk berusaha. Ada pihak Koperasi yang diharapkan memberi bimbingan teknis untuk kolaborasi dan jejaring kuat. Pihak BRI berceramah memakai infokus. Kepada mereka semua saya katakan, “saya ingin mengagunkan keberadaan penuh para tukang butut P2B2SU untuk jaminan pinjaman modal usaha. Bank konvensional tak kenal itu. Walau tanpa hasil, saya dan para tukang butut di P2B2SU tak pernah menganggapnya sebagai kesia-siaan.

Penutup. Hari ini saya menerima infak dari seseorang yang kerap diperlakukan tak setara. Dari isteri saya hari ini telah saya ketahui bahwa orang yang sama juga telah pernah menitipkan infak untuk mesjid. Ketika itu, infak itu, malah disisihkan dari proyeksi keuntungan dari pembelian setumpuk koran bekas dari rumah saya. Orang miskin ihlas berinfak adalah antipoda keras bagi fenomena korupsi. Bukankah keihlasan menjalani kehidupan dengan bimbingan ajaran Tuhan menjadi penentu telah begitu luas dijelaskan oleh aliran sosiologi motif?

Memang, secara umum orang akan melihat ada hal yang pradoksal di sini. Mengapa orang miskin yang selalu kekurangan malah berinfak? Maka, jika suatu ketika Anda bertemu dengan orang yang sama, tolong tanyakan kepadanya tentang motif orang menjadi koruptor. Mungkin KPK, BPK, Kepolisian dan Kejaksaan dan bahkan ICW dan seluruh inspektorat sangat perlu belajar kepadanya.

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada, Senin 31 Desember 2014, hlm B7


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: