'nBASIS

Home » ARTIKEL » BERGANTI TAHUN, ARTINYA KORUPSI LANJUT

BERGANTI TAHUN, ARTINYA KORUPSI LANJUT

AKSES

  • 564,592 KALI

ARSIP


INDONESIA

Saya terbangun dari tidur oleh hebatnya bunyi petasan pada malam pergantian tahun (2012-2013). Bersahut-sahutan. Semula saya menduga ada kejadian besar yang memicu kekacauan hingga terjadi bentrokan bersenjata. Siapa tahu korupsi sudah makan tuan dan menyebabkan perang saudara seperti perang saudara yang pernah terjadi sekitar tahun 50-an (PRRI-Permesta).

Rupanya hanya ada petasan. Orang hanya mabuk menyembah lembaran kalender yang harus berganti. Itu saja rupanya. Saya lihat hp saya menandakan ada input. Mungkin panggilan tak terjawab atau pesan. Saya periksa. Rupanya pesan singkat. Saya tidak mengenal mereka yang tak menyebut nama, karena seluruh pesan yang masuk adalah dari nomor yang tak tersimpan pada hp saya.  Isinya mengucapkan selamat tahun baru.

Untuk tidur lagi rasanya sudah agak sulit. Terkadang sangkin kerasnya suara petasan yang melintas seperti di atas ubun-ubun, jantung pun serasa akan copot. Jadi harus ada pengalihan perhatian. Saya cobalah menulis. Pertanyaan saya ialah, benarkah asumsi yang ada dalam pikiran saya bahwa 2013, pergantian tahun, artinya korupsi lanjut?

Rupanya saya tidak cukup konsentrasi untuk menyelesaikan tulisan itu. Namun, pagi ini saya turunkan menjadi catatan pada dinding akun facebook saya. Ini selengkapnya:

KAMI DI INDONESIA: ADAKAH PENGARUH BAHASA DALAM KEGAGALAN MEMBERANTAS KORUPSI?

Ada ketakutan umum untuk kebanyakan pengguna bahasa Indonesia, bahwa:

(1) Mundur bukan ke belakang.
(2) Maju bukan ke depan.
(3)Turun bukan ke bawah, dan naik bukan ke atas.

Benarkah gerangan? Mundur seolah masih mungkin bukan ke belakang, karena kami di Indonesia selalu berucap memastikan: “mundur ke belakang”. Maju masih berpeluang bukan ke depan, karena dalam kebiasaan kami sehari-hari ucapan normal adalah “maju ke depan”.

Turun ke bawah. Naik ke atas. Kedua kalimat itu pun melukiskan peluang yang berbeda dari apa yang ditunjukkan secara jelas oleh pokok kalimat. Kita tak temukan keraguan tindakan jika memberi perintah “berhenti” (misalnya “berhenti bergerak” untuk memaksudkan diam). Tak ditemukan kebiasaan memberi perintah, misalnya, “berhenti stop”.

Itu bahasa kami, bahasa Indonesia.

Adakah pengaruh bahasa dalam setiap prilaku? Tentulah sudah umum diketahui. Pepatah lama “bahasa menunjukkan bangsa” tak perlu diragukan lagi. Mari kita diskusikan dengan hati-hati.

Perlu diambil contoh, katakanlah pemberantasan korupsi. Mengapa harus korupsi? Bukankah harus ada yang mengelus dada karena merasa gerah berhubung akan disebut-sebut?

Sulitnya lagi, yang akan disebut-sebut itu pastilah orang penting. Tentu. Orang penting. Karena jembel tak mungkin bisa korupsi, bukan? Bagaimana mungkin jembel bermain korupsi dan menyenanginya sebagai habit (kebiasaan hidup) jika kekuasaan tidak ada padanya dan bahkan kekuasaan itu yang lazim saja menimpanya hingga selalu tersiksa dan menderita?

Kembali ke pertanyaan pokok: Adakah pengaruh bahasa dalam kelambanan pemberantasan korupsi di Indonesia?
Terimakasih untuk setiap pembaca terutama yang berkomentar.

Advertisements

2 Comments

  1. […] Korupsi lanjooot […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: