'nBASIS

Home » ARTIKEL » DISKUSI SOSIOLOGI POLITIK

DISKUSI SOSIOLOGI POLITIK

AKSES

  • 564,592 KALI

ARSIP


peol otik

Pagi tadi saya singgah di kantin Fakultas sebelum masuk ke ruangan saya. Sebetulnya saya sudah ditunggu oleh beberapa mahasiswa, tetapi saya minta mereka bersabar sejenak karena saya ingin sarapan lontong sayur terlebih dahulu.

Di kantin itu saya temukan ada sejumlah mahasiswa tengah berdiskusi serius. Saya mendekat ke posisi mereka dan mengambil tempat duduk berdekatan. Saya lihat mereka menyatukan 2 meja yang berukuran kecil di kantin itu agar mereka yang berjumlah 6 orang itu dapat duduk dengan posisi saling hadap-hadapan. Rupanya topik diskusi mereka tentang Sosiologi Politik. Ini menarik buat saya. Di depan mereka ada beberapa lembar fotocopy berupa bagan yang melukiskan peta sejarah kajian intelektual dalam ilmu ini yang terpaut erat dengan 4 tokoh besar. Begini bagan yang mereka bikin:

bagan sosiologi politik

Pemimpin diskusi itu bernama Sahal. Ia memperkenalkan diri sambil menyodorkan copy bahan diskusi mereka. Saya pun berterimakasih. Setelah mencermati saya pun coba ikut nimbrung. Dengan mencermati kedua aliran studi sosiologi politik tersebut di atas tentunya akan mudah membuat definisi Sosiologi Politik. Benar kan? Iya, pak. Iya. Begitu seseorang menjawab dengan penuh semangat. Ia seorang perempuan berjilbab dengan kacamata minus bergagang warna hitam.

Saya pun meneruskan. Saya ingin mereka menukik ke persoalan aktual. “Dalam Evaluasi Demokrasi Indonesia untuk Sumut (2010) disebutkan bahwa demokrasi di Sumatera Utara sangat bermasalah. Dalam pemilu selalu ada pemihakan penyelenggara, padahal ia dibentuk sebagai lembaga independen. Kedua, money politic sangat lazim dan meluas, mulai dari hulu sampai kehilir. Ketiga, perhitungan suara selalu tidak jujur dan tidak adil”. Bagaimana kita melihat fakta-fakta ini?”

Saya cukup menikmati diskusi ini. Karena sebelum menjawab apa yang saya kemukakan, seseorang dengan suara pelahan sambil melihat catatan yang dibuat dengan tulis tangan berwarna merah, mengatakan begini: “Dalam Evaluasi Demokrasi Asia (211) disebutkan bahwa Indonesia adalah Negara yang tidak memiliki kemampuan berbuat adil dalam mendistribusi sumber-sumber kepada warga negaranya. Akibatnya kesenjangan begitu mencolok. Pelaku monopoli pada Orde Baru mendaapat tempat yang lebih baik pada era reformasi”.

Sahal kemudian menimpali. “Ada pihak yang berpendapat bahwa kerusakan demokrasi dan politik di Indonesia berawal pada (1) tiadanya ideology partai politik (2) tidak jelasnya rekrutmen partai politik (3) tidak jelasnya kaderisasi partai politik (4) tidak jelasnya asal muasal dana partai politik”.

Hidup benar diskusi ini. Very fruitfull. Perempuan berkacamata menambah lagi satu isyu baru. Katanya begini “Pekan lalu sebuah artikel pada media massa lokal dengan judul “Memilih Pak Mustahil” menerangkan bahwa pemilukada sumut yang akan berlangsung tanggal 7 Maret 2013 hanya akan menghasilkan pemimpin lokal  yang mustahil tidak korupsi. Selanjutnya disarankan agar memilih pasangan yang paling minim potensi korupsinya dengan memeriksa rekam jejak semua kandidat”.

Sayang sekali seseorang menelefon. Saya diminta memutuskan jika memang belum punya waktu bertemu sekarang, lebih baik ditunda setelah siang hari karena yang menunggu akan segera masuk ujian kurang lebih 10 menit ke depan. Saya minta maaf kepada Sahal dan teman-temannya karena tidak bisa ikut melanjutkan diskusi yang menarik itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: