'nBASIS

Home » ARTIKEL » HARY TANOESOEDIBJO

HARY TANOESOEDIBJO

AKSES

  • 512,316 KALI

ARSIP


HARY

Sebagian orang berpendapat dengan pengunduran diri Hary Tanoesoedibjo partai Nasdem akan layu sebelum berkembang. Betulkah perkiraan itu?

Pengakuannya di layar kaca tentang sikap umum para pengusaha yang cenderung menghidari politik begitu populer. Ini mengesankan pentingnya sebuah rasionalisasi untuk difahami publik, mengapa seorang pengusaha sukses seperti dia memilih jalan baru, yakni dunia politik. Ia perlu mengekspose motifnya yang kuat itu, agar menjadi daya tarik bagi publik. Begitu kan?

Tetapi apa-apa pun belum. Hary Tanoesoedibjo sudah “hengkang” dari partainya, Nasdem. Sikap itu dipilihnya karena ketidak-cocokan dengan “pemilik” partai yang berawal dengan sebuah ormas yang bernama sama itu. Kedudukan Hary Tanoesoedibjo pada partai itu adalah Ketua Dewan Pakar. Konon sikap itu pun diikuti oleh beberapa elit partai di level nasional maupun daerah.

Akankah Nasdem akan layu sebelum berkembang ibarat bunga di taman gersang? Jangankan seseorang sekaliber Hary Tanoesoedibjo, pengunduran diri seorang kader yang tak memiliki sumberdaya saja bisa menjadi sebuah cacat serius bagi sebuah partai.  Ke depan, gaya otoriter yang lazim diterapkan oleh semua “pemilik” partai di Indonesia mungkin akan segera kelihatan mencolok pada partai ini. Tentu itu bukan sebuah keanehan, bahkan untuk partai yang mengklaim dirinya sebagai aset terbesar demokrasi di negeri ini.

Hengkang dari Surya Paloh, banyak partai sudah menunjukkan keterus-terangannya untuk “meminang”. Tetapi kelihatannya itu tidak akan serta-merta diterimanya. Menurut bos MNC Group ini kelak ia bisa memilih aktif dalam sebuah ormas, atau membangun patai sendiri dengan visi perubahan atau restorasi sebagaimana pernah didengungkannya bersama Surya Paloh.

Mengapa ia sampai mengambil keputusan itu? Tentu tidak selalu ada cara bagi setiap orang untuk nenutupi semua yang dipersengketaan. Ia sendiri menolak kecuali menyebut bahwa Surya Paloh itu ambisius, egois dan maniak power. Itu cuma seperangkat sikap yang mesti ada pada politisi. Ia mestinya tahu itu dari awal. Jangan-jangan sikap ambisius, egois dan maniak power itu juga yang dilihat oleh Surya Paloh pada dirinya sehingga merasa tak mengapa jika harus dilepas. Memang Surya Paloh tentulah tidak dalam posisi menolak atau menerima pengunduran diri Hary Tanoesoedibjo.

Barangkali memang ia tak perlu berpartai. Kecuali ambisi dan maniak power tak lagi dapat direduksi. Artinya, naiflah jika hari gini orang belum tahu bahwa politisi itu embisius, egois dan maniak power. Itu yang menyebabkan orang bisa menghalalkan segala cara. Artinya sebagai orang yang memilih terjun ke dunia politik, langkahnya untuk mundur dari partainya adalah sesuatu yang sangat terbuka dipertanyakan. Kalau begitu masih ada alasan substantif lainnya dalam pengunduran diri itu. Apa?


2 Comments

  1. Ucok Blue Eagle says:

    salah satu kemungkinan untuk menaikkan posisi tawar, bisa jadi pengen mau jadi menteri atau paling sial dilamar partai2 besar…hehehe

    ‘nBASIS: jadi menteri apalah yang cocok dia ini?

  2. Ucok Blue Eagle says:

    menurutku jadi menteri olahraga saja, Mr
    gantikan Kanjeng Raden Mas Tumenggung Roy Suryo Notodiprojo. Minimal siaran langsung bola di liga2 indonesia dan dunia ga diacak lagi🙂

    ‘nBASIS: berarti kurang setuju dengan pengangkatan Roy Suryo. Padahal baru beberapa hari sdh usul ganti. Ha ha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: