'nBASIS

Home » ARTIKEL » NEGARAWAN SONTOLOYO

NEGARAWAN SONTOLOYO

AKSES

  • 512,606 KALI

ARSIP


Terbukti bahwa para pembantunya itu hanya terdiri dari para penjilat ke atas, tak hirau nasib rakyat. Padahal diketahui Presiden SBY rajin bongkar pasang menteri (reshuffle)

PAGI hari tanggal 18 Agustus 2009. Editorial Metro tv waktu itu mengulas mentalitas menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB). Pasalnya, sejumlah menteri memilih menghindar mendampingi Wapres JK saat berkunjung ke lokasi pembangunan Bandara Kualanamu yang tak kunjung selesai itu. Sebagai ganti mereka, diutuslah para pejabat eselon II yang siapapun tahu tidak kompeten untuk kunjungan tugas itu Saat itu memang aroma pemilu sudah begitu kental dan mulai memanas. Presiden dan wakil presiden sama-sama maju mencalonkan diri menjadi presiden dalam pasangan berbeda.

Mereka tidak dimundurkan oleh ketentuan perundangan-undangan yang berlaku. Karenanya, serba kikuk dan serba tak bagus. Apalagi jika dilihat dari pencampuradukan kepentingan pribadi dan kepentingan jabatan dalam segala langkah untuk melampiaskan permusuhan sesama.

Dialog interaktif yang diawaki oleh Elman Saragih dan Indra Maulana pagi itu, mendapat sambutan dari berbagai daerah. Seorang penelepon dari Aceh, misalnya,  mengingatkan bahwa di satu sisi kepantasan SBY menjadi presiden cukup menonjol. Tetapi rupanya di sisi lain, amat disayangkan, ketika mengetahui ia amat lemah dalam memilih menteri.

Terbukti bahwa para pembantunya itu hanya terdiri dari para penjilat ke atas, tak hirau nasib rakyat. Padahal diketahui Presiden SBY rajin bongkar pasang menteri (reshuffle).

Penelepon lain pagi itu melihat kemungkinan antipati rakyat kepada SBY jika penyakit para pembantunya itu masih akan dilanjutkan pada Jilid II pemerintahannya bersama Budiono. Inlander, kata Elman Saragih lebih mendramatisasikan.

Kita perlu menteri yang berorientasi kepada tugas, kata Indra Maulana. Bukan mentalitas buruh kebon. Itu, menurut mereka berdua, yang memungkinkan kerja-keras untuk negara dan bangsa, dan pada saat melihat presiden tidak becus, bahkan mereka tidak akan segan mengundurkan diri. Itu mereka isyaratkan sebagai jawaban untuk seseorang yang menangis tersedu di ujung telefon.

Bung Hatta dan HB IX. Kenanglah ketika Hatta mengundurkan diri sebagai wakil presiden. Ia menganggap Soekarno sudah “jahat” dan benar-benar tak paham  upaya mengindonesiakan Indonesia. Begitu juga Hamengkubuwono IX ketika merasakan sudah tidak ada lagi yang perlu dipertahankan dalam jabatan wakil presiden saat Soeharto sudah mendefinisikan kekuasaannya bukan sebagai tahta untuk rakyat.

Ketika itulah Hamengkubuwono IX merasa negara sudah tak terhindari dari proses degradatif dari keniscayaan tetap menyerasikan relasi interaktif the leader, the man and the gun. Ia tak lagi mau melanjutkan jabatan yang sama untuk periode kedua bersama Soeharto.

Mundur terhormat, itulah sikap “merah putih” yang secara simbolis dikibar-kibarkan dengan tanpa sejuta seremoni. Itulah makna terdalam dari nilai-nilai ksatria Indonesia yang tercermin dari Lagu Indonesia Raya, dari Lagu Maju Tak Gentar, dari lagu Garuda Pancasila, dan lain-lain  yang sering didewa-dewikan dalam simbolisasi seremoni berjuta energi itu.

Kedua negarawan itu tak bisa disamakan dengan mundurnya Andi Alfian Mallarangeng dari jabatannya karena menjadi tersangka korupsi. Meskipun begitu, apa yang dilakukannya tentulah sebuah keluarbiasaan juga untuk Indonesia.

Hipokritas Bukti Kekeroposan. Saat itu juga (Agustus 2009) tersiar luas berita tentang ribuan penyelam terlatih dari satu korps tertentu mengibarkan bendera di bawah permukaan laut. Saya bertanya-tanya hingga kini, apa gerangan yang hendak mereka katakan kepada dunia dengan acara itu?

Indonesia pasti bisa menjahit perpaduan kain warna merah dan putih sepanjang daratan Sumatera, bersambung lagi di atas laut hingga menyeberang ke Pulau Jawa. Tetapi untuk apa? Indonesia juga bisa membangun nasi tumpeng setinggi tugu Monas. Tetapi untuk apa? Tak ada lagikah yang lebih bermanfaat untuk mengasah nasionalisme di saat peringatan kemerdekaan yang sakral dan di tengah fakta kemiskinan yang melanda? Mungkinkah mereka ini sedang takut kehilangan berketerusan dalam sejarah kewibawaan maritim yang harus dikenang dalam makna simbolis Phinisi nusantara? Mengapa tak memikirkan hilanglahnya Ambalat karena tanpa pengawalan?

Mengapa bukan hilangnya Sipadan dan Ligitan? Mengapa bukan hilangnya pulau-pulau terluar yang bahkan belum sempat diberinama oleh pemilik (Indonesia)? Paradoks benar dengan kesan yang kita dapat tentang kehebatan angkatan perang (TNI) kita. Apa yang salah? Apa yang tak betul? Taubat siapa yang harus didulukan? Memang begitu kompleks.

Saat-saat itu (Agustus 2009) banyak kejadian yang mengundang pertanyaan besar atas kesungguhan bernegara. Di sebuah tempat seseorang memimpin seremoni lagu Kebangsaan Indonesia Raya tetapi ia lupa syairnya. Ada pula kejadian bendera Merah Putih jatuh melorot dalam upacara peringatan hari kemerdekaan di suatu tempat lain.

Di rumah dinas Gubsu Syamsul Arifin teratak yang didirikan untuk sebuah acara besar tiba-tiba runtuh, yang mengakibatkan gagalnya acara yang direncanakan. Kesemuanya mengindikasikan mentalitas Inlander, buruh kebon khas jajahan, yang hipokrit,  yang sudah merasuk akibat kepemimpinan dan tanggungjawab yang buruk. Bagaimana mengeliminasi orang-orang hipokrit?.

Shohibul Anshor Siregar.Naskah ini pertamakali dimuat oleh Harian Medan Bisnis, 17 Januari 2013 hlm 2


1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: