'nBASIS

Home » ARTIKEL » KAMPANYE

KAMPANYE

AKSES

  • 538,914 KALI

ARSIP


TIM SUKSES

Potensi korupsi pada masing-masing kandidat menjadi sebuah ancaman besar. Masalahnya, bagaimana untuk tidak korupsi mengingat mereka mengeluarkan biaya yang besar?

Hari sudah menjelang siang. Panasnya sinar matahari benar-benar menyengat kepala dan punggung. Hartoyo Utomo Sumringah Wardoyo (bukan nama sebenarnya) merasa perlu mencari perteduhan setelah sekian kilometer mutar-mutar dengan betornya dan tiada penumpang yang berhasil diangkut. Sebetulnya tadi di Jalan M Nawi Harahap ada seorang anak sekolah memberi tawaran. Tetapi jarak yang diminta cukup jauh untuk ongkos yang mampu ia berikan. Hartoyo Utomo Sumringah Wardoyo menolak.

Tetapi sebetulnya Hartoyo Utomo Sumringah Wardoyo menyesal telah menolak tawaran anak berseragam sekolah itu. Ia sudah akan terlambat tiba di sekolahnya kalau naik angkutan umum. Mengapa begitu materialistik pikiran saya? Padahal saya ini kan seorang miskin? Betapa sia-sianya sikap saya telah mematahkan sebuah kesempatan emas yang sangat mungkin diraih oleh anak sekolah yang saya tolak di Jalan M Nawi Harahap itu. Tuhan, maafkan aku. Maafkan aku ya tuhan. Begitu dialog dalam diri Hartoyo Utomo Sumringah Wardoyo.

Ia ingat dari rumah ia dibekali oleh isterinya uang Rp 10.000. Itu untuk beli minyak. Karena “modal” itu Hartoyo Utomo Sumringah Wardoyo pun berani mampir di sebuah warung pinggir jalan yang didirikan di atas parit  di sekitar Jalan Rakyat. Sebelumnya, saat melintas di jalan Jati, ia teringat ketika dulu masih ada pepohonan rindang yang membuat banyak orang betah berteduh, bahkan ada yang bermaksud tidur siang di atas beca di lokasi itu. Beberapa usaha tukang pangkas juga ada di sana. Tetapi itu dulu.

Cuma segelas kopi yang ingin dibeli oleh Hartoyo Utomo Sumringah Wardoyo. Ia tak mau kehabisan modal. Paling tidak Rp 5.000 nanti masih bisa beli satu liter bensin, seandainya tak mendapat penumpang hingga sore. Sembari menunggu mbok Minah, pemilik warung, menyediakan kopi pesanannya, Hartoyo Utomo Sumringah Wardoyo pun berpikir memulai kampanye untuk belasan orang yang sama-sama duduk di warung mbok Minah.

“Pilgubsu tinggal sebulan lebih lagi. Kalau saya sudah mantap akan memilih pasangan nomor sekian. Soalnya sudah saya baca visi dan misinya. Kalau ini memang pasti akan baik. Akan lebih mantap. Akan lebih ini dan akan lebih itu”. Karena merasa tak ada yang menyanggah, dan mengira semua yang ada di warung mbok Minah setuju dengan pendapatnya, maka ia pun seperti pidato, dan panjang lebar pula penjelasannya.

Orang-orang memperhatikannya dengan cara yang berbeda. Ada yang benar-benar ingin berdialog dan ada yang seperti tak mendengar tetapi menyimak. Ada yang sambil bersiul membolak-balik halaman-halaman koran.

Tiba-tiba seseorang beranjak dari tempat duduknya sambil berkata: “politik lagi neh. Tukang beca kok seperti politisi. Heran aku. Mbok kau betulin becakmu saja biar gak mogok-mogok kenapa?” Lalu orang ini pun menaiki betornya dan menghidupkan mesin untuk kemudian berlalu.

Sebetulnya Hartoyo Utomo Sumringah Wardoyo merasa cukup tersinggung. Ia pun berucap: “kayak orang sinting kurasa dia itu. Siapa dia?”

Orang yang duduk di sebelah Hartoyo Utomo Sumringah Wardoyo bereaksi. “Kurasa kau yang sinting. Orang itu tadi sudah menjelaskan prinsip-prinsip dasar demokrasi dan politik di sini. Sebelum kau datang. Itu anak kuliahan yang tak kesampaian karena biaya tak ada. Ia orang pintar. Calonmu pun sudah dibahasnya tadi. Katanya terindikasi korupsi. Kau tahu makna terindikasi korupsi?”

Hartoyo Utomo Sumringah Wardoyo terdiam sejenak. Tetapi tak habis akal. Ia pun menyanggah, bahwa semua tuduhan itu fitnah. “Kalian mungkin baca koran. Saya juga. Tidak setiap orang yang dituduh korupsi langsung bisa disebut koruptor. Bahkan orang yang sudah ditahan dan diadili pun bisa terbukti tidak korupsi”.

Orang yang duduk di sebelah Hartoyo Utomo Sumringah Wardoyo semakin meninggi. “Kau memang orang bodoh. Sama seperti aku. Koran ini, nah baca ini, begitu jelas menyebut calonmu koruptor. Soal tak diadili atau belum dipenjarakan, itu tak usah membuat kau merasa semua yang ditulis di koran ini fitnah. Emang siapa yang membuat tuduhan korupsi? Kan bisa sesama koruptor dan mereka bisa main mata? Otakmu dangkal. Aku hanya mau Sumut ini tidak lagi menjadi anak yatim nanti karena gubernurnya masuk penjara lagi seperti Syamsul Arifin itu. Atau kalaupun karena lihainya calonmu membuat ia lolos dari jeratan hukum, bagi saya ia menjadi orang yang amat berbahaya. Mengapa? Sudah korupsi mampu pula membuat hukum mandul”.

Tanpa menunggu lama, Hartoyo Utomo Sumringah Wardoyo langsung menyambut dengan ancaman. “Kau bisa kena pidana. Kau sudah menuduh penegak hukum bersekongkol. Kau fitnah lagi”.

“Sekiranya kau berotak normal, bukan aku yang harus kau sudutkan. Kau harus bersyukur masih ada orang seperti aku di dunia ini yang mau memperbaiki cara berpikirmu yang lebay itu. Jika semua pemilih sebodoh kau akan ke lautlah Sumut ini 5 tahun ke depan”. Pernyataan keras dari orang yang duduk di sebelah Hartoyo Utomo Sumringah Wardoyo ini membuatnya terdiam. Terdiam seribu bahasa.

Saat mbok minah meletakkan kopi pesanannya persis di depannya pun,  Hartoyo Utomo Sumringah Wardoyo malah jadi lupa mengucapkan terimakasih. Di antara belasan yang duduk dalam warung rupanya tak seorang pun yang sependapat dengannya. Dalam hati ia berpikir “siapa calon orang ini agaknya? Betul juga orang-orang ini. Kalau watak korupsi itu membahana, bisa saja ia tak bisa tertangkap tetapi terus-menerus menghabisi uang rakyat. Mampus aku. Isteriku malah sudah banyak mengkampanyekan kepada tetangga. Ini tak betul. Ini sebuah kesalahan”.

Lingkungan politik warung mbok Minah sudah terbentuk rupanya. Sambil mengiris bawang untuk menyiapkan pesanan mie rebus dari tukang becak yang lain, mbok minah malah berkata seperti menasehati Hartoyo Utomo Sumringah Wardoyo. “Sekiranya calon yang kita dukung masing-masing terindikasi korupsi, mestinya kita sendiri yang ngomong sama calon itu agar mundur saja ketimbang buat susah kita-kita. Aku bisa faham jika kita yang miskin ini diberi segoni beras dan segepok uang, lantas tak kritis lagi. Kita orang miskin, lebih penting makan hari ini ketimbang bahagia dan sejahtera lima tahun ke depan. Kita ini orang-orang terdesak. Tak punya tabungan. Penghasilan pas-pasan. Nyekolahin anak tak sanggup. Kita memang selalu menjadi sasaran bagi para elit politik itu”.

Hartoyo Utomo Sumringah Wardoyo merasa mendapat pencerahan hari ini. Dalam hati ia berkata, “apakah saya sedang mendapat hidayah?”

Ia pun beranjak dari tempat duduknya begitu mendengar azan zuhur di Mesjid dekat persimpangan jalan. Usai sholat, ia pun berdo’a. Mohon ampun. Mohon hidayah. Mohon kebahagiaan. Mohon kesejahteraan. Mohon kelapangan rezeki.

“Ya Allah. Ampuni dosa-dosaku. Berilah hambamu kesempatan bertaubat. Sejuta harap dari rakyat Sumut yang mendambakan pemimpin yang bersih, kabulkanlah ya Allah. Kau pun tahu ya Allah, semua calon ini tak mungkin tak korupsi karena sudah dan akan mengeluarkan biaya tak terhingga untuk usaha mereka meraih kemenangan. Setelah itu mereka pasti korupsi. Ya Allah, setidaknya yang paling minim potensi korupsinya. Setidaknya yang paling kecil daya hancurnya. Itulah menangkan ya Allah. Kabulkanlah ya Allah. Kabulkanlah ya Allah”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: