'nBASIS

Home » ARTIKEL » MOHD NATSIR ISFA

MOHD NATSIR ISFA

AKSES

  • 512,968 KALI

ARSIP


227505_1723743418765_3800116_n

Banyak yang harus kutuliskan tentangmu, sahabatku. Aku tak tahu harus memulai dengan kalimat apa dan dari bagian yang mana. Apakah akan aku mulai dari saat aku memangkas rambutmu atas permintaanmu di sudut kampus, dan karena itu kemudian kau pergi ke tukang pangkas sungguhan berhubung rambutmu cukup berantakan aku buat?


Apakah akan aku mulai dari perjalanan naik Mitsubishi tuamu menuju pesanteren Muhammadiyah di Kerasaan saat mempersiapkan penerimaan kunjungan Menteri Penerangan Harmoko? 

Atau sebaiknya dari kalimat Dr H Dalmy Iskandar, rektor kita, yang selalu memujimu dengan ungkapan “seseorang yang selalu hadir saat sebelum dihimbau dan sudah beranjak pergi saat kita belum merasa bosan”? 

Atau saat kita mengelilingi kota Semarang dengan meninggalkan Dr.H.Dalmy Iskandar, Ir H Nazaruddin Hisyam dan Prof Dr Usman Pelly, MA dalam acara yang memang bukan untuk kita di Hotel Patrajasa? (Tahukah kau kawan, tadi, di sini, Ir H Nazaruddin Hisyam malah mengingatkan aku tentang nomor HP-nya masih tetap yang pertama dulu kau berikan bersamaan dengan sejumlah nomor HP para petinggi kita di Kopertis dan BM-PTSI Wilayah I?)

Atau ketika secara sembunyi-sembunyi kita menghindari pertemuan atau berpapasan sekalipun dengan H Agussalim Siregar (pendiri UMA) pada pesawat Garuda dalam penerbangan yang sama dari Polonia Medan menuju Padang berhubung kita berdua mendapat seat terbaik sedangkan atasan kita itu di seat biasa?

Atau saat kita hampir kehabisan akal mencari hewan qurban pesanan PP Muhammadiyah untuk dibagikan ke kaum dhu’afa pada hari ketiga hari raya qurban di Medan?

Atau saat kita begitu lelah setelah berpekan-pekan mempersiapkan hal-hal strategis dan taktis untuk penganugerahan dan pengukuhan  Guru Besar Ilmu Politik kepada Dr Suhardiman, SE; atau saat kita berbagi tugas mendampingi kuliah umum Prof Dr Sri-Edi Swasono dan menunjuk jalan untuk ibu Halida Hatta, sang doktor Antropologi itu, saat ingin mengelilingi kota Medan?

Atau ketika kau menjadi pemicu solidaritas dan perlawanan aktivis mahasiswa se kota Medan karena perlakuan buruk yang kau terima dari seorang oknum penegak hukum di jalanan? 

Atau tentang ikat pinggangmu berwarna hitam yang kau beli begitu mahal di pusat perbelanjaan di Jakarta padahal tak berbeda kualitas dengan ikat pinggang yang berharga murah yang aku beli di pasar tradisional Sukaramai?

Atau ketika kita mensiasati pendirian Radio Kampus kita saat kedatangan Menteri Penerangan Harmoko padahal saat itu sudah tidak mungkin lagi diberi izin untuk radio baru? Atau tentang semua berkas yang kita susun, jilid dan kemas untuk keperluan surat-surat izin pembukaan prodi baru, atau statuta kampus, atau usul-usul akademis perombakan qaedah perguruan tinggi Muhammadiyah?

Atau ketika ban kiri depan Mitsubishi tuamu menggelinding mendahului dan kita heran itu ban siapa padahal adalah ban mobil yang kita kenderai sendiri di persimpangan depan istana Maimoon? Atau ketika di jalan Halat Mitsubishi tuamu itu mogok dan aku ambil inisiatif memanggil Saragih, mekanik kenalan kita di bengkel jalan HM Joni dekat makam pahlawan, dan ketika Saragih bertanya aku tidak bisa menjelaskan jenis mobil apa yang akan diperbaiki itu? Atau banyak kelakar tentang Mitsubishi tua itu, di antaranya saat kita bandingkan bunyi suara yang muncul ketika kita menutupkan pintunya dan suara yang muncul ketika rektor kita Dr H Dalmy Iskandar menutupkan pintu mobilnya yang mewah? Atau ketika suatu pagi kau sudah hadir di depan rumahku dengan mengenderai sedan baru dan itu menggantikan kebersamaan dengan Mitsubishi tua?  Atau ketika beberapa bulan lalu kau ceritakan mobil barumu Avanza yang adalah hasil dari penjualan rumahmu yang di Jalan Camar XVII Perumnas Mandala agar di masa pensiun kau masih bisa dengan mobilitas yang diperlukan termasuk memanjakan cucumu untuk dibawa berjalan ke sana dan kemari?

Atau tentang pelajaran bahasa Inggeris kita yang belepotan bersama sejumlah dosen lainnya di kampus beberapa bulan lalu, yang menurutku mungkin adalah kelanjutan dari usaha kita pada belasan tahun sebelumnya dan gagal di LIA karena ternyata berdasarkan placement test kita dikategorikan pada kelas yang berbeda dan karena itu kita dengan sendiri-sendiri merasa itu tak perlu dilanjutkan?

Atau tentang pimpinan agen resmi penjualan ticket Garuda yang menangis tersedu di hadapan kita karena merasa bertanggungjawab atas kesalahan anak-buahnya yang sempat bertegang tak mau menkonversi ticket Ketua PP Muhammadiyah AR Fachruddin  Medan-Jakarta-Jogja menjadi Medan-Palembang-Jakarta-Jogja?

Atau tentang si Dedek kecil yang kerap memberi “perlawanan” menyenangkan dengan ungkapan “gopak”?

Atau dari kelakar Ibrahim Sakty Batubara dan almarhum Ali Mukmin Siahaan yang selalu jenaka terhadapmu? Aku beritahu sekarang, bahwa almarhum Ali Mukmin Siahaan tak pernah sakit hati meski kau dan Ibrahim Sakty Batubara sering menuduhnya mursun (murah suntuk). Dia cukup enjoy dengan kelakar itu.

Catatan Yang Tak Terlupakan. Dulu sewaktu masih belia. Aku ingat di Medan ada Radio Eldraba. Penyiarnya untuk acara larut malam adalah seseorang yang kita sama-sama tahu. Dalam hampir setiap 5 menit entah mengapa ia harus menyapa dan menyebut sebuah nama yang berdomisili di sekitar Jalan Pelajar Ujung. Aku tahu makna nama itu untukmu, sahabatku.

Ibrahim Sakty Batubara menghidupkan sepeda motor saat hendak pulang dari kampus pada suatu sore. Dia tak menoleh ke belakang. Tetapi kau naik di boncengan dengan posisi duduk seperti layaknya seorang perempuan yang pakai rok. Artinya duduk di boncengan sepeda motor menghadap kiri dengan dua kaki juga ke sebelah kiri kenderaan. Kau mengejutkan Ibrahim Sakty Batubara karena memeluknya erat. Ibrahim Sakty Batubara kaget, perempuan mana ini, pikirnya. Apa-apaan ini? Jangan, jangan, katanya. Segera setelah itu tawa terbahak-bahak tak terhindari.

Dengan Ali Mukmin Siahaan kau tak pernah berani melakukan adegan ini. Tetapi dengan Ibrahim Sakty Batubara dan Thamrin Lubis sering terjadi. Orang yang duduk di boncengan berganti menjadi pengemudi sepeda motor yang dijalankan terus. Aku tak berani melakukannya denganmu, karena aku tak semahir itu menjaga keseimbangan.

Rektor UMSU membelikan sebuah sepeda motor CB 100CC warna putih. Gagah benar waktu itu. Tetapi itu untuk menampung volume kerja yang semakin dinamis. Sebelumnya kita hanya mengandlkan sepeda motor bebek warna merah milik ibu Wimaslina Chairani Lubis. UMSU saat itu memang kecil, harta pribadi bisa dipinjam dengan tanpa aturan jelas. Tetapi pemilik barang selalu ihlas, karena tahu semua untuk perjuangan.

Hanya dua orang yang telaten merawat sepeda motor CB 100CC itu. Kau dan Thamrin Lubis. Semua yang lain hanya pandai memakai, dan sering setelah dipakai tangki minyak sudah kosong. Ha ha, kau tak akan mernah marah kecuali sekadar cemberut sesaat. Setelah sekian lama “terduduk” menjadi barang rongsokan, akhirnya Eddy Hanafi memintanya dihibahkan kepadanya. Rektor menyetujui. Eddy Hanafi memodifikasinya, bagus. Sekarang aku tidak tahu apakah CB 100 CC warna putih yang bersejarah itu masih ada pada Eddy Hanafi.

Amirhum Purba. Seorang sarjana Ekonomi yang diperbantukan oleh Ketua Dewan Pembina UMSU, H.Agussalim Siregar. Orangnya cerdas. Tetapi mengapa tak komunikatif dengan kita? Oh, sebuah “malapetaka” terjadi ketika orang itu menyalin semua mata kuliah dari sebuah perguruan tinggi dan dimasukkan dalam Renstra UMSU. Begitu besar terpaan yang kita hadapi karena kekhilafan waktu itu.

Lubuk Palas, Air Joman. Itu kampungmu. Kau sudah bawa aku ke sana. Kita begitu waswas di jalan karena Zudirman sangat kencang menyetir kenderaan. Tetapi Selamat. Kita saja yang tak biasa ngebut, Zudirman itu mahir mengemudi. Rumah tuamu sederhana dan kalau tak salah itu rumah panggung. Kau tunjukkan sebuah rumah lain, rumah mantan kepala desa yang dijadikan sebagai tempat peristirahatan untuk Wapres Soedharmono yang datang untuk acara “Marsipature Hutana Be”. Sebuah spanduk berjarak kira-kira 10 meter di depan podium dituliskan nama acara, agar pak Wapres tidak salah sebut “Marsipature Hutana Be. Kau dengan jenaka menuturkan cara pengucapan Wapres “Marsipature Hutana Be” yang sangat Jawa itu.

Di Jogja, dalam keikut-sertaan kita mengikuti Muktamar Muhammadiyah. Kita ke RRI. Ada bang Dian di sana. Di hotel kita didatangi oleh Ibrahim Gultom dan Syawal Gultom (Mantan Rektor Unimed). Pembicaraan kita waktu itu cukup serius. Apakah Muhammadiyah masih tetap akan sehebat yang pernah dilakoninya ketika segesit yang tak terbayangkan oleh kolonial dalam membebaskan Indonesia dari penjajahan. Diskusi itu tak berkesimpulan. Tetapi kita masing-masing serba tak pasti, apa yang akan dihadapi ke depan.

Sering hingga lewat tengah malam harus berada di kantor RRI Jalan Bintang, Medan. Aku kerap mendapat tugas informal menuliskan komentar berdurasi sekitar 5-10 menit untuk siaran pagi Senin usai berita. Di sana ada Ferry Tobing. Ada Ken. Ada Syaiful. Ada Syafri yang tulisannya dan bahasa Inggerisnya sangat bagus. Ada Jhoni Koto. Aku seperti keluarga RRI. Ada Triono sang penyiar sepakbola yang amat piawai itu. Amelia, Tati dan beberapa orang lainnya saya sudah lupa nama mereka.

Aku lupa di jalan mana kejadiaannya, tetapi itu sebuah gang di sekitar wilayah Jalan Serdang. Ketika kita melintas di jalanan bebatuan itu sebuah batu koral terpental karena “terinjak” ban mobil yang kita kenderai. Batu itu melesat dan masuk ke halaman rumah orang. Kita pun membahas sekiranya ada kerugian (orang terluka atau kaca rumah orang pecah), seberapa besar dosa kita. Aku jawab, kita tak berdosa. Kita tak ngebut. Jalan buruk ini bukan tanggungjawab pengguna jalan. Juga bukan tanggungjawab orang yang tinggal di sekitar sini. Itu barang publik (public goods) yang tanggungjawabnya ada pada pemerintah. Maka pilihlah pemerintahan yang baik.

Kita diperintahkan oleh Rektor untuk mempersiapkan kunjungan ke Padangsidempuan. Waktu itu peletakan batu pertama pembangunan kampus UMTS di Jalan STM Arief. Kita pinjam mobil dari pak Haji Arbie, pemilik Hotel Garuda Plaza, berikut supirnya. Tetapi di Rantauprapat mobil sedan merah itu mogok. Kita menunggu beberapa jam. Pak Ruhum Harahap yang sangat berwibawa, berpidato waktu itu. Semangat yang keras mendasari pembangunan UMTS hingga kini menjadi PTS besar.

Ketimbang sebagai orator, kau kusebut administratur. Ya, khutbah di Masjid Taqwa Jalan Mandailing. Menurut Majelis Tabligh kota Medan setiap pimpinan wajib mengisi khutbah Jum’at untuk menjaga podium Muhammadiyah jangan direbut dan dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain. Usai khotbahmu, aku beri komentar. “Orang tidak kenal kita saat masuk mesjid. Hanya Rajab Napolis yang tokoh IPM kawakan itu yang mengenal kita. Khutbahmu monoton, kawan. Karena itu memang bukan bakatmu. Beda dengan Ibrahim Sakty Batubara atau Ali Mukmin Siahaan yang bisa berjam-jam orasi dan orang tak pernah merasa bosan”. Pada pergerakan mahasiwa kau dikenal sebagai Sekretaris yang handal. Jika bukan Sekretaris, tugasmu adalah Bendahara.

NKK dan BKK. Sebuah simalakama tiba. Kampus memberontak kepada pemerintah. Itu situasi terberat bagi pemerintah setelah Malari 1974. Sejumlah teman dan senior kita dalam pergerakan sudah ditangkap. Ibrahim Sakty Batubara, Ibrahim Sinaga, Mayyasyak Djohan, Fauzi Yusuf Hasibuan dan yang lainnya. Yang tidak berhasil diciduk seperti Muhammad Nurman Siregar dari IAIN, Djauli Asly Simamora dari UMSU, Ali Mukmin Siahaan dari UMSU, dan kau sendiri, terpaksa pindah-pindah alamat dalam pengejaran aparat. Djauli Asly Simamora pulang kampung dan juga tak berlama-lama tinggal di sana. Muhammad Nurman juga begitu. Tak lama setelah itu Dalmy Iskandar dan Sabaruddin Ahmad datang ke kampus pada suatu sore. Berbicara lantang. Indonesia harus kita selamatkan. Ekstrimis harus diberi penyadaran. Aktivis yang masih setia kepada Negara harus memberi dukungan kepada pemerintahan Soeharto. Kau dan k au, kata mereka berdua menunjuk kau dan Ali Mukmin Siahaan, harus berangkat ke Jakarta untuk bergabung dengan aktivis se Indonesia. Itu sesuatu yang sangat sulit kita putuskan. Jika tidak memperturutkan kehendak mereka, bagaimana? Jika memperturutkan keinginan mereka kita sudah tahu resikonya bahwa akan ada tuduhan pengkhianatan sesama pejuang.

Masih teringat bagaimana suasana malam yang hening dan gelap gulita aparat militer menggiring Ibrahim Sakty Batubara dari kampus. Ia tak menunjukkan perasaan gentar sedikit pun. Hanya member pesan kepada teman-teman yang lain: Jangan berpikir yang tidak-tidak. Kebenaran tidak akan terkubur karena penangkapan ini, dan aku yakin yang lain pun akan menyusu aku ke tahanan. Hasanuddin Panggabean begitu gigih mempertahankan keterangannya bahwa Ibrahim Sakty tidak ada di kampus ini mala mini. Ia memang tokoh kami, tetapi ia tidak di sini. Setelah Ibrahim Sakty ditemukan di salah satu ruangan, dua orang menghampiri Hasanuddin Panggabean lagi. Seseorang ingin memoporkan senjatanya. Tetapi seorang yang lain menahan: itu sebuah solidaritas, orang ini tidak bisa disalahkan begitu saja. Ayo, kita bawa Ibrahim Sakty Batubara segera. Para aktivis itu tak pernah diadili meski ditahan lebih dari 3 bulan. NKK dan BKK diberlakukan.

Rahmat Adiwiganda dari UISU menyebar undangan Studium General Jenderal AH Nasution di kampusnya. Kalau aku tak salah topiknya adalah soal penyimpangan-penyimpangan pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945. Kita hadir dalam forum sakral itu. Begitu heing dan begitu berpengaruh pidato beliau. Diskusi kita hari-hari berikutnya kembali lagi menghangat tentang pemerintahan yang melenceng. Aku tidak ingat persis tanggal berapa Studium General itu.

Prof Dr HAMKA datang ke kampus dan memberi ceramah. Luar biasa kehadiran massa. Semua orang berebut untuk bersalaman, termasuk kaum ibu. Tiba-tiba giliran Paidin yang tukang sapu bersalaman. Ia membuat semua orang terheran-heran karena ia berkata kepada Buya Hamka “Bapak kenapa bersalaman kepada perempuan yang bukan muhrim. Itu haram”. Buya Hamka tersenyum melihat Paidin dan berkata “semua itu anak aku, termasuk kamu”.

Kau menjelaskan bahwa Paidin tidak perlu diberi hukuman, karena ia memang sudah kita ketahui sedikit aneh. Yang salah ya kita, mengapa kita beri ia kesempatan berkata seperti itu padahal kita tahu ia seperti apa selama ini.

Ketika kita “dikhianati” dalam sebuah suksesi yang amat tak adil. Aku tegaskan pendapatku, kita sudah dibuang oleh orang-orang yang merasa pertalian darahnya lebih penting dari kaderisasi dan profesionalitas serta kapabilitas. Jika dunia ini mau adil, mestinya harus ada cara pandang agar orang-orang yang lebih memiliki kapabilitas tidak disingkirkan secara sistematis. Aku merasa orang-orang penadah tangan sudah masuk, dan rezim sudah menjadi penyandang gelar kepahlawanan palsu. Tak lama ini akan mengudang bahaya besar. Terbukti ucapanku itu. Kampus kita mengalami kerugian besar oleh orang-orang yang berkhianat kepada cita-cita besar KHA Dahlan. Kita bukan orang-orang yang harus bertindak fatalistik dan destruktif. Seburuk apa perlakuan kepada kita, kita tak pernah berniat bertindak jauh. Mengapa kampus kita sendiri yang kita hancurkan, padahal kita yang memupuknya hingga terwarisi sebagai aset besar oleh orang-orang sekarang.

Adik kita Mohd Yusri. Ia amati aku dari jauh sejak tadi, di antara orang yang datang melayatmu. Aku menghindar dengan mengalihkan pandangan. Maksudku, aku mau menyendiri di sini, di tengah keramaian ini. Tetapi tak ada celah untuk maksudku itu. Sama seperti Dr H Dalmy Iskandar meninggal dulu. Aku memilih menyendiri sambil mengenang semua hal yang sudah menyejarah. Tetapi Yusri datang menangis di hadapan aku. Dia ceritakan bahwa ia terlambat menggaris bawahi tanda-tanda kepergianmu. Pertama, ketika beberap bulan lau di kampus kau pandangi sampai mobil Yusri jauh hingga keluar area kampus sedagkan kau tetap berdiri di sisi mobilmu yang terparkir. Yusri melihatmu dari kaca spion dan bertanya, ada apa gerangan. Kedua, kau rupanya menelefonnya beberapa waktu lalu untuk mmeminta disiapkan makan bersama di rumahnya. Yusri ada di luar waktu itu, dan terburu-buru pulang ke rumah. Ketiga, kau titip Rp 1.000.000 agar diserahkan oleh Yusri kepada Wulan, panitia pembangunan Mesjid di kampung (Lubuk Palas, Air Joman).

Dalam hati aku berkata. “Kau kira aku tak kehilangan, Yusri? Kau kira kau saja yang kehilangan? Kau tak memilihnya menjadi abangmu dan juga ia tak memilihmu menjadi adiknya. Tetapi aku memilihnya menjadi sahabatku, begitu pun ia memilih aku menjadi sahabatnya. Kita tak usah saling mengukur kehilangan yang kita rasakan. Kita semua kehilangan beliau, Yusri”.

Aku tak marah kepada Yusri. Tidak sama sekali. Hanya saja aku tak mau diintervensi soal kehilangan ini. Ini memang cengeng. Aku tahu wataknya. Ia besar di hadapan kita, sama seperti almarhum Iwan, adik Ibrahim Sakty Batubara yang meninggal beberapa tahun lalu.

Semoga Allah Mengampuni Kekhilafanmu. Mungkin kita pernah berselisih faham suatu ketika yang aku lupa entah kapan, dan itu bukan salahmu. Kau tak punya kesalahan terhadapku, terhadap sejawatmu, terhadap tetanggamu terhadap orang lain di mana saja. Aku ingin pastikan itu. Di RRI tempatmu berkarir. Di MRadio tempat pengabdianmu yang lain di Muhammadiyah, dan di KIP yang kau tekuni terakhir. Kau orang baik, kawan.

Hari ini, Selasa 29 Januari 2013. Kau segera akan kami antarkan ke peristirahatanmu yang terakhir. Kami semua kehilangan.

Semoga Allah mengampuni segala kekhilafanmu. Selamat jalan sahabatku.

Shohibul Anshor Siregar


2 Comments

  1. marli efendi says:

    dari cerita yang Bapak tulis jadi ikut merasakan bagaimana Pak Natsir dalam kehidupan sehari2nya n menjadi semangat buat kawan2nya….salam….

    Shohibul Anshor Siregar: terimakasih. Mohon do’a untuk beliau. Sekali lagi terimakasih

  2. sastra says:

    Assalamu’alaikum Subhanallah kisah yang tidak terlupakan dan sangat berkesan, Insya Allah menjadi kenangan yang abadi dan dikenang selalu iya adinda Shohibul Anshory. Innalillahi wainnailahi Roaji’un Kakak baru dengar Ali Mukmin Siahaan telah berpualng ke Rahmatullah, beliau meninggal dimana ?? dan keluarganya dimana ?? tks iya kisah nya wassalam

    Shohib: Terimakasih atas do’anya. Tentang Almarhum Ali Mukmin Siahaan silakan dibaca di sini: https://nbasis.wordpress.com/2011/07/26/ali-mukmin-siahaan-perginya-seorang-aktivis/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: