'nBASIS

Home » ARTIKEL » BERTAUBAT

BERTAUBAT

AKSES

  • 512,201 KALI

ARSIP


Medbis 7/2/13

Medbis 7/2/13

“Kita sudah khilaf. Kita ternyata begitu sukar menjadi sebaik platform kita itu. Tetapi dengan izin Alloh, kita akan memperbaiki itu semua. Mari kita semua bersumpah. Bersumpah. Bersumpah”

Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) tersandung. Ia adalah pemimpin tertinggi partai yang berhadapan dengan masalah hukum yang ditangani KPK selama ini. Sebelumnya orang-orang partai yang bernasib sama hanyalah orang kesekian. Katakanlah M Nazaruddin, seorang bendahara sebuah partai terbesar. Karena itu banyak orang beranggapan bahwa ini adalah kasus mengguncangkan dan mengancam eksistensi sebuah partai.

Saya menolak anggapan mereka (sebuah forum yang di dalamnya orang PKS sendiri ada) bahwa PKS ditimpa prahara atau tsunami politik. Justru sudut pandang ini harus dikoreksi, menurut saya. Bagi orang luar PKS, boleh jadi merasa atau dianggap wajar berkata seperti itu dengan berbagai alasan, termasuk mungkin karena senang menyaksikan kejatuhan PKS.

Tetapi jika PKS menyadari, ini adalah sebuah momentum saja. Momentum bertaubat nasuha (sungguh-sungguh) secara nasional. Membersihkan semua yang kotor dan mengamputasi elemen-elemennya yang menjadi bagian atau sumber dari masalah. Kalau karena itu PKS menjadi kerdil, ya biarlah. Dan memang untuk apa ada PKS kalau hanya untuk menambah beban bangsa karena tak sanggup memberi pengabdian yang baik?

Bagaimana jika Alloh membiarkan PKS, misalnya terlanjur menikmati semua pantang politik yang luhur dan menjadi partai biasa saja (biasa korupsi karena sudah habit, biasa berbohong karena keniscayaan, bercitra ria karena dianggap itu lebih penting di atas segalanya). Kasus LHI, bagi saya, adalah sebuah puncak gunung es belaka. Membongkar puncak gunung es itu bisa bertemu dengan masalah-masalah yang mungkin lebih besar.

Soliditas. Kalau ada yang mengatakan PKS semakin solid karena kasus LHI, itu bisa saja. Tetapi harapan saya jangan makin solid karena misalnya menjejalkan pemahaman bahwa PKS dimusuhi dan dijatuhkan oleh sebuah konspirasi besar dengan menggunakan tangan-tangan tersembunyi yang berkekuatan besar. Konspirasi apa yang mungkin berhasil guna jika PKS bersih, sebersih doktrin yang dinukilkan dalam platform-nya? Jadi mestinya tidak ada tempat untuk berapologi. Itu sia-sia. Mestinya makin solid karena pertaubatan nasuha saja.

“Kita sudah khilaf. Kita ternyata begitu sukar menjadi sebaik platform kita itu. Tetapi dengan izin Alloh, kita akan memperbaiki itu semua. Mari kita semua bersumpah. Bersumpah. Bersumpah”. Itu sikap terbaik pemicu soliditas yang baik untuk PKS saat ini.

Jika ada yang mengatakan PKS akan semakin rapuh ke depan, bisa juga akan menjadi kenyataan. Bukan hanya faksionalitas yang saling mengeliminasi antara stakeholder berfaksi keadilan dan stakeholder berfaksi kesejahteran. Tak usah kita hitung Yusuf Supendi di sini.  Perihal “hijrah” dari sifat ekslusif (Islam) menjadi inklusif (terbuka) saja PKS sudah mencatat “kelelahan” yang belum usai. Bersama dengan “yang lain-lain” mengerjakan segala sesuatu yang menjadi maslahat adhock atau maslahat yang dianggap universal ternyata tak mudah untuk tetap menjadi diri sendiri.  Sebetulnya bagaimana menjadi kotor dengan tetap dianggap bersih, bukanlah masalah sesungguhnya. Karena dalam obsesi yang benar ukuran itu tidak ada di antara sesama pendosa.

Bertaubat. Ketika mereka bertanya berpengaruhkah kasus ini terhadap elektibilitas kandidat usungan PKS yang maju untuk pilgub, saya kira jawabnya harus ya. Waktu sangat singkat untuk memulihkan kepercayaan publik sehingga tak banyak yang bisa dilakukan. Khusus untuk Sumut orang akan dengan mudah menghubung-hubungkan kasus LHI dengan kasus-kasus di sekitar Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho yang beraroma korupsi.

Kehadiran Anis Matta, presiden baru PKS, di Medan memang tampak menjadi kebutuhan penting. Juga ke daerah-daerah lain. Begitu penting ia berusaha menghilangkan sak wa sangka terhadap dirinya di seputar masalah baru itu dan masalah-masalah lainnya, sambil memastikan pada detik dan menit berapa akan memberikan instruksi setelah memastikan jamaah sudah jelas melihat dan mengakui tongkat komando tersemat di tangannya.

Tidak ada yang lebih penting bagi PKS saat ini selain bertaubat. Kembali melihat buku dosa dan membakarnya secara berani. Tantangannya tidak sekadar membutuhkan keberanian formal. Karena taubat itu sulit.

Shohibul Anshor Siregar. Tulisan ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Medan Bisnis, Kamis 7 Februari 2013, hlm 2


2 Comments

  1. loning says:

    Saya dulu simpatisan PK, tetapi setelah menjadi PKS saya menjadi tidak simpatisan PKS

    “nBASIS: jika menjadi anggota PKS memang tidak jadi simpatisannya lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: