'nBASIS

Home » ARTIKEL » DIDO

DIDO

AKSES

  • 512,606 KALI

ARSIP


dido
Saya sangat merasakan, bahwa memiliki teman dengan keteguhan pendirian seperti Dido adalah sebuah keberuntungan. Saya yakin pula bahwa orang lain juga merasakan hal yang sama


Beberapa orang mengirimi saya sms mulai pukul 21.12 tadi malam, 16/02/2013. Adik saya, Abyadi Siregar, memberi tahu “Bang Mukhlizardy Mukhtar  (Mukhlizardy M Dido) meninggal dunia saat berada di Bandara Soekarno Hatta. Saat menghembuskan nafas terakhirnya, beliau sedang dalam perjalanan menuju Medan”.

Dari Abyadi Siregar saya tahu bahwa jenazah Mukhlizardy Mukhtar yang kerap dipanggil Dido itu akan dimakamkan di kampung halaman, Sumatera Barat. Saat merampungkan tulisan ini Yani Tania  pada akun Hilman Zarkasih (salah seorang putera Dido) menulis komentar “Jenazah sudah diberangkatkan pukul 5.50 waktu Jakarta. Tiba di Padang kemungkinan pukul 7.20 dan insyaa Allah jenazah akan disemayamkan di Lubuk Sikaping”. Menurut Yani Tania, kampung asal Dido ialah Sungai Pandahan, Kecamatan Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman.

Ponakan saya Hadian Siregar juga memberi kabar singkat lewat sms, dan kemudian bertelefon. Hadian Siregar adalah teman sebaya anak sulung Dido. Mereka tinggal bertetangga di Binjai.

Saya kira sayalah orang pertama yang diberitahu Nirwansyah Putra Panjaitan kabar ini di antara seluruh temannya. Saya tahu mereka memiliki hubungan ideologis yang unik. Saya rasakan kalimat Nirwansyah Putra Panjaitan dalam sms-nya, sebagaimana halnya Abyadi Siregar, bukan sekadar pemberitahuan. Kalimat yang padat andung (tangisan), rasa kehilangan dan doa tulus dalam kepasrahan menerima taqdir.

Kali pertama menjadi jurnalis saat-saat akhir perkuliahan (S1) Nirwansyah Putra Panjaitan, seingat saya memang adalah pada sebuah media lokal (mingguan) yang   di dalamnya Dido berperan penting. Juga ketika bersama Abyadi Siregar menerbitkan Tabloid Koran Politik dan Hukum, Dido berperan sangat penting di sana. Dido tak pernah saya saksikan mendikte para juniornya ini. Ia guru yang baik, yang kebanyakan memilih senyum saja dan sedikit kata-kata untuk menegur ataupun memberi lead.

Saya pernah menyaksikan bagaimana cara khas Dido “marah”. Nara sumber yang memintanya mewawancarai kebetulan bertipe terlalu under-estimated dengan karakter rada narsistik dan mengidap semacam sindrom figurisme yang parah meski memiliki kelebihan lain berupa penguasaan secara perfeksionistik atas beberapa masalah sejarah, politik global dan budaya. Tetapi nara sumber itu tidak kenal Dido yang mungkin saja jauh menguasai apa yang dikuasasinya. Dido hanya berucap “ya, pak”. Ya, pak”. “Ya, pak”. Tetapi ketika tiba saat nara sumber harus jeda berbicara karena kehabisan nafas dalam produktivitas bicaranya, Dido pun dengan senyum memandang tepat pada kedua mata nara sumbernya, lalu berdiri dan permisi. Ia berlalu.

Saya sukar menemukan “marah” yang berusaha sangat santun seperti itu. Dido yang halus pandai sekali menemukan cara untuk tetap menghargai orang yang meskipun tak memberinya respek sepatutnya.

Apa kata nara sumber itu? “Mengapa ia pergi?”. Saya jawab dengan ringan: “ia tak menemukan news value dari keseluruhan ucapan Anda”.

Saya kenal Dido saat masih wartawan TEMPO di Medan (tahun 1990-an), bersama seniornya Bersihar Lubis. Setahu saya basik pendidikan Dido adalah pengajar kimia. Ia menguasai dengan baik bidang ini. Bahkan menurut saya kemampuan dalam bidang itu jauh sekali melebihi kompetensi yang digaransi oleh titel akademis yang disematkan oleh almamaternya kepadanya.

Saya tak pernah bertanya mengapa ia kemudian beralih menjadi jurnalis. Barangkali profesi sebagai pendidik tetap saja memanggilnya sehingga belakangan menyempatkan diri juga mengajar di beberapa lembaga pendidikan teknik di Medan.

Suatu ketika ia memang berkata “Saya senang berbincang tentang kaitan sains dengan spriritual. Menulis adalah pekerjaan saya sejak tahun 1987. Saya senang menulis masalah ilmu pengetahuan, lingkungan hidup, budaya dan spiritual”.

Jadi saya kira itu klop. Ia menjalaninya dengan sangat jujur. Tidak ada yang harus dipertentangkan di situ, mengajar dan menjadi jurnalis.

Orang yang penyabar, ramah dan sangat santun ini sangat menyenangkan dalam pergaulan. Ia kerap juga mengajukan pemikiran jenaka yang sangat menghibur tanpa harus menyerempet ke hal-hal vulgar. Ia memang sophisticated. Ia ajukan pemikiran jenaka bukan demi kejenakaan itu sendiri, melainkan semacam pilihan cara mendekati sebuah permasalahan untuk lebih difahami. Yang paling menarik, ia tahu kapan akan berbicara serius dan kapan akan mengundang tawa dengan pemikiran jenakanya.

Saya adalah salah seorang pendengar setia acara Senin Pagi asuhannya bersama Nian Poloan, Wan Muhammad dan Cory Novrika Sinaga pada Indonesia First Channel milik Radio Prapanca Medan sebelum beberapa waktu lalu berubah nama dan manajemen. Kolaborasi mereka sangat baik sehingga dialog yang digelar selalu mendalam, kritis dan bersifat solusional.

Saya sangat merasakan, bahwa memiliki teman dengan keteguhan pendirian seperti Dido adalah sebuah keberuntungan. Saya yakin pula bahwa orang lain juga merasakan hal yang sama.

Banyak orang akan kehilanganmu, Dido.  Orang tidak hanya akan mengenang ungkapan-ungkapan bernasmu yang tampaknya mengekspresikan respon atas situasi atau terhadap temuan-temuanmu di tempatmu terbawa kaki pelang-langbuanaanmu (seperti Nahum Situmorang dulu menuliskan dan meng-arrange  semua kisah pengembaraannya menjadi lagu)  seperti:

  • MERASA. Kita tak boleh merasa bersih, karena akan ada bukti kita kotor. Kita tak boleh merasa alim, karena akan datang bukti kita jahat.
  • MACAN TIDUR. Macan tidur kini terbangun. Selama ini dia tidur kekenyangan. Kini dia mengaum ‘marah’ sebab 1 M tangkapan besarnya lepas.
  • MAULID NABI. Di Jalan Pasar Lama, Serang, Banten, banyak dijual keranjang Maulid Nabi. Ada yang berbentuk hewan dan ada pula berupa kapal atau masjid. Selain itu, masyarakat juga berziarah ke makam Sultan Banten.
  • ANGKOT PADANG. Larinya kencang, musiknya keras. Jauh dekat dua ribu. Kalau hendak berhenti harus berteriak keras: Siko Ciek.
  • TAROMPA dalam bahasa minang maknanya adalah sandal atau selop. Tarompa datuk adalah selop atau sandal yang biasa dipakai penghulu atau pengetua adat dalam acara adat di Minangkabau disebut datuak atau datuk. Lantaran bentuknya khas, terbuat dari kulit dan dikerjakan dengan tangan, tarompa datuk banyak diminati para turis, baik lokal dan manca negara. Harga sepasang tarompa datuk, di pasaran Kota Padang antara Rp 150.000 – Rp 180.000. Jika Anda berminat rekan kami di Padang bisa membantu membelikan.
  • PECAH. Perubahan pertama ‘Gerakan Perubahan’ adalah pecah.
  • HARI IBU. Indonesia juga disamakan dengan ibu dan dijuluki ibu pertiwi. Dan kita masih tinggal di “rahim”-nya. Selamat Hari Ibu.
  • MENDIDIK. Sampai hati mereka menyikat tunjangan profesi guru. Tapi bagaimana lagi begitulah kualitas pemimpin kita. Makanya guru mendidiklah dengan baik, agar muridnya kelak jangan jadi koruptor bila jadi pemimpin.
  • CALON GUBERNUR. Semua calon gubernur Sumut rendah hati. Misalnya, ada calon “beraksi” dengan duduk dekat tukang sepatu.

Dido yang baik. Bagimu soal kebahagian itu adalah masalah persepsi, sebagaimana tergambar dari kalimatmu yang ini: “Kebahagiaan ditentukan pada cara kita menerima keadaan. Ini buktinya uang tak bisa membeli bahagia. Warga Singapura ternyata paling tak bahagia di dunia”.

Akhir Januari yang lalu (25/01/13) pada dinding facebook-mu pun tertulis: “Duka cita yang dalam atas meninggalnya kakanda Dr. H. Teuku Syaifuddin S. Almarhum adalah sahabat yang baik dan rendah hati. Bersama beliau, kami (Nian Poloan, Efendy Naibaho, A Haris Nasution) tahun 1999 menerbitkan Harian Ekspres, Semasa hidupnya almarhum pernah menjadi Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Sumut. Selamat jalan abangda. Semoga mendapat tempat yang layak di sisiNya. Innalilahi wa inna ilaihi rojiun.

Kini giliranmu pula yang tiba.  Selamat jalan. Semoga Allah memuliakanmu. Semoga keluarga dan terutama anak-anakmu yang sedang tumbuh dan sedang berjuang untuk masa depan bangsa dan negaranya, tabah dan tawaqqal.

Inna lillahi wa inna ilaihi raa jiun. Allahummagfirlah. Warhamh. Wa’afih. Wa’fuanh.

Shohibul Anshor Siregar. Dengan sedikit perubahan, naskah ini diterbitkan oleh Harian Medan Bisnis, Senin, 18 Februari 2013, hlm 2.

photo


4 Comments

  1. Dasril Alies says:

    Shohibul Anshor Siregar :Terima kasih artikelnya tentang kehidupan dan karir dari Alm. Mukhlizar M Dido. Almarhum adalah adik kandung dari isteri abang ipar saya di Padang yg sempat berkunjung kerumah saya di Depok tgl 31 Januari 2013 bersama keluarga Abangnya (Mukhnizar) di Serang.
    Terakhir saya bertemu dan bicara dengan Dido pada hari Sabtu 2 Februari 2013 pada pesta pernikahan Yani Tania (putri Abangnya) di Serang,
    Jadi Yani Tania adalah keponakan dari almarhum Dido bukan anaknya. Walaupun jarang bertemu tetapi saya mempunyai kesan bahwa beliau adalah orang baik dan santun. Di Padang thn 2012 yll beliau pernah dirawat (opname) di rumah sakit cukup lama karena penyakit yg dideritanya namun almarhum terlihat tetap ceria & semangat menghadapi hidup dan masa depannya, kenyataanya beliau memang terlihat sudah sehat.
    Kita manusia hanya bisa punya rencana dalam hidup ini namum keputusan akhir hanya milik Allah Swt yg maha kuasa dan maha mengetahui.
    Selamat Jalan Mukhlizar M Dido, semoga egkau tenang di alam sana dan mendapat tempat yang layak disisi Allah Swt, Amin !

    Shohibul Anshor Siregar:
    Dido orang baik. Insyaa Allah ia salah seorang penghuni sorga.

  2. ebi says:

    Slamat jalan om, kami sayang om TT

    Shohibul Anshor Siregar:Kita semua kehilangan.

  3. iwan says:

    Orang baik yang selalu akan dirindukan.

    Sohib: Kata Roni Jambak, orang seperti ini dijuluki “mamak lunak” di Sumatera Barat

  4. nbasis says:

    Mungkin saya telah melakukan kesalahan dalam tulisan ini dengan menyebut demikian “…Hilman Zarkasih (salah seorang putera Dido)”. Ketika saya menulis demikian: “Hadian Siregar adalah teman sebaya anak sulung Dido. Mereka tinggal bertetangga di Binjai”, yang saya maksudkan dengan anak sulung itu ialah seorang yang waktu itu berperawakan agak gemuk, jika tak salah dipanggil Yudha.
    Mohon ma’af atas kesalahan ini.

    Shohibul Anshor Siregar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: