'nBASIS

Home » ARTIKEL » HADAPKAN SAJA KEPADA UYA KUYA

HADAPKAN SAJA KEPADA UYA KUYA

AKSES

  • 512,968 KALI

ARSIP


0

Jadi seseorang dikatakan tidak munafik, punya integritas, hanyalah jika perilaku dan tindakannya sesuai dengan nilai, keyakinan, dan prinsip yang dipegangnya. Apa-apa saja yang dikatakannya dalam bingkai nila, keyakinan dan prinsip itu, benar-benar sesuai dengan perilaku dan tindakannya (konsisten)

Mungkinkah seremoni penandatanganan dokumen pakta integritas oleh Partai Demokrat justru menjadi bagian dari kemunafikan yang lebih canggih terutama dikaitkan dengan sifat-sifat korupsi yang memang kerap double talk  (omong ganda)? Kira-kira, tanpa mempersoalkan kedudukannya dalam hukum nasional serta kontroversi tentang itu, mana lebih kuat pakta integritas ini ketimbang sumpah pocong? Pertanyaan itulah yang muncul dalam benak saya ketika membaca berita tentang gerakan yang dilancarkan oleh SBY mendepak Anas Urbaningrum yang antara lain ditandai dengan penandatangan Pakta Integritas oleh seluruh pengurus partai yang diambil alihnya dari orang yang disebut terakhir.

Sumpah Pocong. Integritas itu apa ya? Ini pasti dari bahasa asing. Apa padanannya dalam bahasa Indonesia? Bisakah kita temukan pengertian yang sama dari kosa kata ini dalam bahasa Jawa, Melayu, Sunda, Batak, Nias, Minang, dan bahasa-bahasa lokal lainnya? Memang itulah salah satu kesulitan kita sebagai bangsa Indonesia. Kebanyakan konsep yang berlaku umum dalam pergaulan dunia harus kita pinjam sebelum kita Indonesiakan.

Dalam sebuah sumber disebut bahwa integritas itu adalah mutu, sifat, atau keadaan yg menunjukkan kesatuan yg utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yg memancarkan kewibawaan; kejujuran. Maka jika digunakan misalnya dalam sebuah kalimat , katakanlah “integrasi nasional”, maknanya dapat diterima sebagai wujud keutuhan prinsip moral dan etika bangsa dalam kehidupan bernegara.

Maka apabila integritas adalah keteguhan dan ketetapan (hati) yang tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan, maka ia adalah perilaku yang menunjukkan kesamaan kata dengan perbuatan seseorang.  Ia berbasis kejujuran dan kebenaran yang diakui dan dijunjung tinggi. Mungkin benar bahwa lawan dari kata integritas adalah hipocrisy (hipokrit). Hipokrit itu apa pula? Munafik, bukan?  Jadi seseorang dikatakan tidak munafik, punya integritas, hanyalah jika perilaku dan tindakannya sesuai dengan nilai, keyakinan, dan prinsip yang dipegangnya. Apa-apa saja yang dikatakannya dalam bingkai nila, keyakinan dan prinsip itu, benar-benar sesuai dengan perilaku dan tindakannya (konsisten).

Jangan Pandang Bulu. Meski akhirnya menandatangani, Anas yang tadinya disebut-sebut oleh media seakan memberi perlawanan, mengatakan bahwa  agenda ini adalah menjadi gerakan nasional partainya. Hanya saja ia menilai pakta integritas ini bukan hal baru. Dalam pandangannya ini hanyalah penegasan komitmen, idealisme, dan etika yang harus dipegang teguh kader PD di seluruh Indonesia.

Rupanya hal serupa juga dipikirkan oleh partai lan, PPP misalnya. Menurut Ahmad Yani, anggota DPR dari PPP, partainya malah dalam waktu dekat akan menjalin kerjasama dengan KPK dalam penandatanganan pakta integritas untuk seluruh kadernya. Pakta integritas model PPP bukan jargon dan bukan pencitraan,  kata Yani. Itu dijabarkan sebagai turunan dari enam prinsip PPP yang sejalan dengan nafas partainya yang meyakini bahwa keadilan wajib ditegakkan meskupun itu terdahap keluarga sendiri.

Tidak mau kalah, Martin Hutabarat, Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra, mengingatkan bahwa kader partainya sudah sejak tiga tahun lalu terikat dalam Pakta Integritas. Karenanya, jika ada kader yang telah ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus korupsi, langsung diberhentikan.

Martin Hutabarat mengklaim bahwa Pakta Integritas telah terbukti membentengi kader jarang tersangkut kasus korupsi. Melihat perbandingan dengan partainya, Martin Hutabarat menyayangkan mengapa SBY terlambat “meniru” pakta integritas yang dibuat partainya. Meskipun tentunya perilaku korupsional pada partai politik itu pasti berkaitan dengan level kekuasaannya yang terkait dengan hasil pemilu dan populasi wakilnya di legislatif. Kecil partai kecil kesempatan dan peluang. Karena aksesnya tak seberapa. Dalam keadaan tak memiliki akses dan kesempatan, orang kerap hanya galak meneriaki korupsi. Benar kan?

Apatisme masyarakat. Korupsi menjadi salah satu musuh terbesar bangsa saat ini. Bagaimana jika para tersangka ini dihadapkan saja dengan UYA KUYA yang kerap tampil di layar tv menghipnotis orang untuk digali pengakuan-pengakuannya yang paling jujur? Ini memang bukan sebuah solusi. Tetapi rakyat yang sudah apatis cenderung berpikiran revolusioner, antara lain dengan membayangkan UYA KUYA atau Sumpah Pocong saja.

sumber

Uya Kuya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: