'nBASIS

Home » ARTIKEL » INDEPENDENSI

INDEPENDENSI

AKSES

  • 545,203 KALI

ARSIP


536900_2817087482464_2002587791_n

Untuk menjadi catatan bagi kita semua, di level lain pun kini sedang gencar terjadi pemanfaatan organisasi untuk kepentingan diri sendiri. Sekiranya IMM menyadarinya sebagai kader penerus yang kerap dijuluki Pelopor, Pelangsung dan Penyempurna Amal Usaha Muhammadiyah (P3AM), justru ia tidak boleh tersandera duluan dalam masalah yang sama

PEMILUKADA Sumut untuk memperebutkan jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur periode 2013-2018 tengah hangat-hangatnya saat ini. Waktu pemilihan yang dijadwalkan oleh KPUD Sumut adalah tanggal 7 Maret 2013. Berbagai kelompok dan organisasi memiliki macam-macam sikap. Ada yang berayun kian kemari, ada yang memecah diri menjadi beberapa kubu dan ada yang menghebat-hebatkan diri di luar kondisi sesungguhnya. Sampai sejauh ini tidak muncul kelompok civil society yang benar-benar berupaya mendorong demokratisasi yang luhur dan elegan, bahkan boleh disebut lebih banyak yang hanyut dalam arus politik.

Lalu kemaren tersebutlah sebuah organisasi mahasiswa yang adalah kelompok muda otonom dalam Muhammadiyah. Namanya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Organisasi ini, untuk tingkat Sumut, belum lama ini telah menyelenggarakan Musyawarah Daerah hingga telah ditetapkan program baru dan sekaligus pengurus baru. Setelah mendapatkan pengesahan pusat (DPP) maka tibalah saatnya mereka membicarakan pelantikan. Itu memang sebuah seremoni belaka, tetapi organisasi mana sih yang kini tak menganggapnya penting?

Nah, saat akan menyelenggarakan pelantikan itulah pro dan kontra terjadi. Salah satu pasangan yang maju dalam pemilukada dikait-kaitkan dengan event pelantikan. Bahkan spanduk ucapan selamat ditebar di berbagai penjuru kota, di antaranya yang diterakan di atas itu.

Sebetulnya saya merasa enggan untuk memberi komentar. Tetapi karena masalah ini telah menjadi pembicaraan yang memasuki arena media sosial dan seseorang telah membuat pro kontra ini sebagai status pada dinding facebook saya, dengan mengunggah foto spanduk yang dipersoalkan, maka mau tidak mau perlulah saya beri kometar. Saya kira ini tak ubahya seperti memberi sambutan lazim buat tamu yang datang ke rumah.

Sebelumnya ingin saya ingatkan bahwa benda yang dipersoalkan sebagai awal dari seluruh cerita ialah spanduk bertuliskan ucapan selamat dari pasangan calon gubernur/wakil dengan nomor urut 5, yakni Gatot Pujo Nugroho dan T Erry Nuradi. Jika spanduk ucapan selamat Gatot Pujo Nugroho (yang beberapa hari lalu sudah ditetapkan oleh Mendagri sebagai Gubernur Sumut (definitif), bukan lagi Pelaksana Tugas (Plt) yang dipasang, bagi saya tetap saja menjadi masalah. Jangan katakan ia sebagai Plt Gubsu, sebab ia kini dalam masa cuti.

Sebagai perbandingan, Panwaslu sendiri telah meminta netralitas pelaksanaan kampanye tidak terganggu dengan acara pelantikan Gatot Pujo Nugroho. Memang, meskipun dilantik hari ini apalah gunanya kecuali memberi publikasi luas kepada masyarakat yang mempengaruhi bobot netralitas. Toh ia tidak dapat melaksanakan tugas mengingat dalam keadaan cuti. Memang ada auran cuti selama kampanye. Bahkan jika netralitas yang ingin dijaga, sebetulnya pelantikan Gatot Pujo Nugroho sebaiknya dilaksanakan setelah Pemilukada. Tetapi itu terserah saja pada elit di sini.

(1) Saya kira Dewan Pimpinan Daerah (DPD) IMM secara korps tidak memberi dukungan murni dan elegan. Mungkin hanya dua tiga orang yang dengan sadar merelakan organisasinya menjadi semacam “mainan politik”, termasuk membiarkan dirinya seperti disubordinasikan kepada politik kepentingan sesaat, yakni kepemihakan kepada pasangan Gatot Pujo Nugroho dan T Erry Nuradi di antara lima pasangan yang sedang berebut mandat (Gus Irawan-Soekirman, Efendi Muara Simbolon-Jumiran Abdi, Chairuman Harahap-Fadli Nurzal, Amri Tambunan-RE Nainggolan).
PSLON_SUMUT_OKED
(2) Saya kira mungkin mereka (DPD IMM) hanya berhadapan dengan situasi sulit yang tak ada pilihan saja, yakni: (a) dalam keadaan tak ada uang, (b) padahal pengen pula dianggap “wah” dengan pelantikan di hotel berbintang, (c) dan pada saat yang sama muncul pula semacam hibah dengan bersyarat atau tekanan tertentu.

(3) Ingatlah bahwa musyda kemaren boleh dikatakan tdk mulus. Ada tarik menarik, baik di daerah maupun di Pusat. Mungkin ada alumni yang menyokong satu kubu. Alumni lain menyokong kubu lain pula. Ingatlah bahwa tarik-menarik pengaruh di antara para alumni lazim terjadi pada organisasi-organisasi kemahasiswaan.

(4) Juga, saya menjadi teringat, lupakah kita semua bahwa Jefry (mantan Ketua Umum DPD IMM periode yang digantikan) dan mayoritas anggota DPD adalah orang yang merasa wajib mendemo Gatot Pujo Nugroho menjelang Muktamar Medan berhubung mereka menilai perlakuan tidak adil dan bahkan memandang sebelah mata terhadap IMM (mengapa demikian, jawabannya tak cukup dijelaskan di sini).

(5) Termasuk “melarang” Gatot Pujo Nugroho berbicara pada acara Muktamar, saya kira telah menjadi fakta yang sangat perlu dipungut untuk lebih memahami keadaan. Bukankah kubu Jefry (Ketum DPD IMM yang baru) tidak berhasil meraih kemenangan dalam Musyawarah Daerah (Musyda) dan secara psikologis apa-apa saja yang menjadi policy-nya yang dulu kini dianggap sesuatu yang tak perlu dihargai oleh Kahfi dan orang-orang di belakangnya?

(6) Dalam kodisi itu, karena ketidak-dewasaan, mereka pengen secara simplistis bergabung kepada pihak yang memberi mereka “nafas pendek”. Nah, ia dapatkan “nafas pendek” itu.

(7) Jangan lupa, ada “agen” di balik ini yang meraup kentungan lebih besar, sedangkan “jualan” ini hanya memberi manfaat yang sangat kecil bagi DPD IMM. Itu jika DPD IMM menyadarinya.

(8) Soal spanduk ini juga hrs ditinjau dari banyak segi. Apakah memang DPD IMM yang memasangnya? Pemilukada kali ini sudah memamerkan segala macam cara untuk menang (entah itu bermartabat atau tidak).

(9) Tetapi, jika memang DPD IMM benar-benar merencanakan semua ini dan sungguh melihat Ganteng menjadi pilihan politiknya hingga berani megambil resiko “dipermainkan” bagai “buih” begini, apa boleh buat. Cerita sudah tamat. Dalam politik image itu penting dan orang bisa “membelinya” dengan harga mahal. Jika pun realitas politik nanti IMM dan Muhammadiyah sekalipun tak ingin memberi suara untuk Ganteng, bagi para agen politik itu bisa saja dianggap tak penting. Mengapa? Ha ha ha.

(10) Jika butir 9 di atas yang terjadi, berarti Kahfi telah menandai awal perjalanannya denga catatan buram dan dengan tanpa modalitas yang mumpuni untuk mengarungi perjuangan berat yang subtatif ke depan. Ketika beberapa bulan menjelang musyda, justru janji independensi yang elegan itu yang “disumpahkannya” kepada saya. Kahfi boleh membantah ini di sini jika ia merasa tak pernah melakukan janji itu kepada saya.

(11) Setiap orang memiliki hak pilih, dan decision yang muncul setelah itu pastilah mencerminkan kedewasaan serta responsibilitas seseorang. Sejarah tidak akan lupa mencatat itu.

(12) Untuk menjadi catatan bagi kita semua, di level lain pun kini sedang gencar terjadi pemanfaatan organisasi untuk kepentingan diri sendiri. Sekiranya IMM menyadarinya sebagai kader penerus (P3AM), justru ia tidak boleh tersandera duluan dalam masalah yang sama.

(13) Jika pemilukada Sumut nanti akan berlangsung dua putaran, problem yang sama juga masih akan muncul. Saya kira tidak ada masalah bagi IMM jika nanti yang berhadapan adalah pasangan yang secara subjektif dapat disebutkannya “kita” dengan pasangan yang dapat disebutnya “mereka”. Benar itu bukan? (artinya saya tak menganggap penting membahas cerita tentang Zulfi Amri yang pernah dikabarkan ke sana dan kemari. Itu saya anggap main-main saja, dan ia tak membawa stempel apa pun ke sana, tentu saja).

Apakah bagi Muhammadiyah menjadi sikap terlarang mencampuri urusan politik? Oh tentu tidak. Itu tergantung bagaimana cara menyikapinya saja, dan tentu tidak boleh seperti istilah umum yang dikenal dalam dunia politik “dagang sapi”, atau “diplomasi meja makan” belaka. Itu rendah.

Berikut ini dipetik sebuah berita yang menunjukkan cerdas dan elegannya sebuah sikap terhadap politik. Mungkin para oknum pimpinan Muhammadiyah di Sumut pun  perlu belajar kepada mereka:

Saat ini dunia pendidikan kita sangat membutuhkan pemimpin yang punya semangat perubahan budaya pendidikan. Sudah sangat lama pendidikan kita jalan ditempat, pendidikan kita juga masih mengclasterkan siapa yang berhak mendapatkan pendidikan dengan segala fasilitasnya

Demikian yang disampaikan oleh Ali Khamdi, Ketua Umum Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Jawa Tengah melalui rilisnya yang diterima redaksi. “Di tahun ini akan jadi pembuktian penerapan kurikulum baru juga pembuktian calon-calon penguasa Jawa Tengah tentang visi pendidikan”, kata Ali

Ali mengatakan bahwa mereka akan mendukung calon gubernur yang pro pendidikan. “Memang semua calon gubernur Jawa Tengah mendatang mempunyai keinginan memajukan pendidikan jawa tengah, tetapi terkadang itu hanya berhenti di jargon kampanye semata, tidak konkrit dan tidak bisa diterapkan sesegera mungkin,” ungkap Ali.

Harus ada pembuktian calon bahwa mereka memang benar – benar Pedulian dengan Pendidikan di Jawa Tengah. Penting disadari bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang dan strategis, sedangkan untuk mencapai tujuan itu perlu upaya yang yang serius dan nyata. Maka, sekali lagi perlu ditekankan bahwa peran penting stakholder (dalam hal ini pemerintah) tidak bisa diabaikan dalam meningkatkan mutu pendidikan secara berkelanjutan (continous improvement)

Ali berharap semua calon Gubernur Jawa Tengah nantinya mau melakukan kontrak politik khusus untuk memajukan Pendidikan di Jawa Tengah. “Kalau perlu ada kontrak politik dari semua calon Gubernur untuk memajukan Pendidikan di jawa tengah,” ungkap Ali.

Jika dicermati berita di atas, IPM Jawa Tengah sangat penting menempatkan faktor komitmen terhadap kemajuan pendidikan sebagai dasar untuk kepemihakan politiknya. Mereka mencampuri urusan dalam konteks high politics dan begitu dewasa tampaknya mereka. Mungkin karena lebih banyak menggeluti perkara remeh-temeh dan kurangnya wawasan hingga DPD IMM Sumut tidak pernah tahu sikap dan kebijakan pemerintahan  Gatot Pujo Nugroho selama ini, apalagi dalam bidang pendidikan. Padahal polemik tentang ini, khususnya pelanggaran konstitusi (UUD Negara RI 1945) oleh Gatot Pujo Nugroho yang menganggarkan dana pendidikan di bawah 20 % dalam APBD secara luas dimuat oleh media massa lokal. Mungkin juga DPD IMM Sumut tidak tahu bahwa pelanggaran prinsip ini sangat berbahaya. Warga negara biasa saja cukup menggerahkan jika melanggar UUD Negara RI 1945, apalagi pejabat negara.

Jika dikaji historisnya, perubahan konstitusi yang sudah melewati 4 kali amandemen berada pada dorongan kuat arus perjuangan Muhammadiyah yang paling tidak waktu itu diwakili oleh putera-puteri terbaiknya yang ada di lembaga tertinggi negara (MPR) dan lembaga-lembaga tinggi Negara lainnya, Amien Rais misalnya. Sulit juga membayangkan perjuangan seluhur itu tidak diapresiasi di internal Muhammadiyah.

Dari contoh ini sebetulnya DPD IMM lebih menyibukkan diri pada proses memberi dorongan terhadap demokratisasi. Mungkin membentuk tim pemantau agar tak terjadi berbagai kecurangan. Mungkin memberi pencerahan agar masyarakat dapat dengan jernih menentukan pilihannya berdasarkan reasoning yang objektif dan sehat. Kini nasi sudah menjadi bubur. DPD IMM Sumut sudah mengambil jalan yang menyimpang dengan mensubordinasikan diri pada arena low politics yang keruh dan buram.


(14) Dalam sejarah IMM di Sumut PC IMM Kota Medan adalah show window yang sangat efektif memberi tindakan-tindakan koreksional yang elegan, bahkan lead yang cemerlang. Mereka tidak akan membiarkan penyimpangan terjadi.

Akhirnya saya mohon maaf jika terlalu banyak mencampuri urusan anak muda. Tetapi, seperti saya kemukakan di atas, saya seakan terpaksa memberi komentar karena pro dan kontra ini telah diterakan sebagai status  pada dinding akun facebook saya. Sekali lagi mohon maaf. Fastabiqulkhairaat.

20130223074139_946

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: