'nBASIS

Home » ARTIKEL » GEDUNG NASIONAL MEDAN

GEDUNG NASIONAL MEDAN

AKSES

  • 512,716 KALI

ARSIP


bangunan

Salah satu bentuk penandaan pembukaan kembali gedung itu ialah Acara Peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan yang dipimpin langsung oleh Gubsu T Rizal Nurdin. Setelah itu berulangkali dilakukan kegiatan di sana, seperti dialog tentang Bulog Gate yang dihadiri Bachtiar Chamsjah, waktu itu Ketua Pansus. Acara-acara seminar di bawah payung angkatan 66 kerap diadakan. Bahkan acara pesta perkawinan pun diselenggarakan di sana

TADI malam, Kepala PUSSIS Unimed Dr Ichwan Azhari mengirim pesan singkat kepada saya. Ia katakan ia sudah beberapa hari tidak dapat tidur. Ia galau. Apa pasal? Gedung eks percetakan Sjarikat Tapanoeli yang konon sangat penting maknanya sebagai wadah perjuangan kemerdekaan telah dirubuhkan oleh pemerintah kota (Medan). Kini sudah rata dengan tanah. Di sanalah, di percetakan itu, untuk pertamakalinya dicetak kata “merdeka” dalam bentuk penerbitan pers. Di sanalah, kemudian, sejumlah surat kabar berhaluan perjuangan dicetak.

Lalu, Anda tahu Gedung Nasional? Itu pertanyaannya kemudian. Tentulah saya tahu. Saya pernah menjadi Sekretaris Umum Dewan Pengurus Angkatan 66 setelah kepengurusan yang dipimpin oleh Dr H Zakaria Siregar, Sp.Ak. Pusat kegiatan kami ada di sana, meski ada kantor lain menumpang di Jalan Multatuli No 2 Medan, berupa sebuah gedung kecil eks milik PTPN.

Sekitar tahun 2004 yang lalu pernah santer berita akan dibisniskannya Gedung Nasional dengan melakukan perombakan besar hingga menghilangkan unsur-unsur kesejarahannya. Siapa yang berada di belakagnya? Tentulah para pelaku perekonomian, para agen (baik dari unsur pemerintahan, maupun di luarnya). Tetapi, dipimpin oleh almarhum Dr H Zakaria Siregar, Angkatan 66 menolak keras rencana jahat itu sehingga pihak-pihak yang berniat buruk itu akhirnya mundur.

“Kalau bukan kita, gerangan bangsa mana yang akan sudi menghargai sejarah kita?”, tegas Ketua Umum Dewan Pengurus Angakatan 66 Sumatera Utara Dr H Zakaria Siregar, Sp.AK, suatu ketika di sela “gerilya” menolak kolaborasi corpoate-pemerintah yang berniat meruntuhkan Gedung Nasional Medan. Almarhum M.Sa’at Gurning, seorang pentolan gerakan Angkatan 66 di Medan, secara pribadi dan dengan begitu emosional waktu itu menantang bertarung dengannya, siapa saja yang berniat akan meruntuhkan gedung bersejarah itu. Saya yang selalu ditunjuk untuk merumuskan hasil diskusi dan rapat-rapat untuk menjadi notulen resmi atau untuk menjadi surat yang akan dilayangkan ke berbagai pihak.

Abdillah yang kemudian pada tahun 2005 terpilih kembali menjadi Walikota Medan untuk periode keduanya berjanji  kepada Angkatan 66 yang berdelegasi ke kantornya: “selama Dillah Walikota, abang-abang yakinlah gedung itu akan kita pelihara sebagai warisan sejarah perjuangan kemerdekaan kita. Kita akan alokasikan biaya perawatan secara rutin”.

Untitled-4

Kemudian pihaknyapun mengalokasikan biaya untuk renovasi. T Rizal Nurdin selaku Gubsu waktu itu menyanggupi bantuan yang jumlahnya lebih besar untuk menyempurnakan renovasi. Setelah itu Gedung Nasional dibuka kembali dan Angkatan 66 memutuskan berkantor di sana agar tidak ada lagi yang berani berencana jahat terhadap gedung bersejarah itu. Peralatan mobiler pun sudah cukup memadai. Salah satu bentuk penandaan pembukaan kembali gedung itu ialah Acara Peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan yang dipimpin langsung oleh Gubsu T Rizal Nurdin.

Setelah itu berulangkali dilakukan kegiatan di sana, seperti dialog tentang Bulog Gate yang langsung dihadiri oleh Bachtiar Chamsjah yang waktu itu sebagai Ketua Pansus Bulog Gate DPR-RI. Itu yang menyebabkan orang seperti Dharma Indra Siregar hingga kini bersikukuh mengatakan bahwa saham Angkatan 66 Sumatera Utara sangat besar menjadikan Bachtiar Chamsjah politisi PPP ini menjadi Menteri Sosial RI.

Acara-acara seminar di bawah payung angkatan 66 kerap diadakan, misalnya perlombaan untuk anak sekolah. Chairuman Harahap sewaktu menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi juga berceramah di sana.  Nur Hasanah, waktu itu jurnalis, yang kini menjadi anggota DPRDSU, juga pernah membaca puisinya di sana dengan begitu menggelegar. Bahkan acara pesta perkawinan pun sudah sering diselenggarakan di sana.

Dari berbagai forum dialog dan seminar yang diselenggarakan Angkatan 66 di sana, saya dan Nirwansyah Panjaitan telah menghasilkan sebuah buku proceeding berjudul Thesis, Anti Thesis dan Sinthesis. Dari gedung ini pula saya bersama teman-teman angkatan 66 merumuskan sebuah pokok pemikiran tentang Indonesia masa kini yang akhirnya kami beri judul “Memorandum Politik Angkatan 66 Sumatera Utara” yang kami sampaikan kepada Presiden RI, Ketua MPR RI, Ketua DPD RI, Ketua DPR-RI, Kapolri, Panglima TNI, Menkopolhukam, Ketua MK, Gubsu, Pangdam I/BB, Kapoldasu, dan lain-lain. Ketua Umum Dewan Pengurus Angkatan 66 Sumatera Utara, waktu itu, Ridwan Matondang dan saya langsung mengantarkan dokumen itu ke Jakarta. Di Jakarta kami bergabung dengan M Yusuf Pardamean, mantan Anggota DPR-RI asal Sumut.

Sewaktu menjabat Ketua Umum Dewan Pengurus Angkatan 66, Ridwan Matondang bahkan pernah serius mengajukan rencana pendirian sebuah Sekolah Tinggi di sana. Waktu itu, kalau bukan Sekolah Tinggi Ekonomi, ya Sekolah Tinggi Hukum, atau mungkin Sekolah Tinggi Jurnaliasitk. Itu sekadar usaha agar tak ada yang kelak berniat lagi meruntuhkannya untuk kepentingan bisnis.

Sekarang ancaman baru telah tiba. Pergilah ke sana (Jln Sutomo/Veteran, Medan), sekeliling gedung itu sudah ada pagar sebagaimana lazimnya sebuah lokasi yang akan dibangun.

Pihak Yayasan sebagaimana waktu-waktu dulu pernah merasa memiliki hak untuk memperlakukan Gedung Nasional sesuai seleranya, meskipun itu akan meruntuhkan nilai sejarah, tentu tidak boleh melakukan itu. Perubahan dalam bentuk kepemilikan yang apalagi perubuhan gedung bersejarah itu, tidak boleh. Mungkin saja ada niatan komersial seperti dulu. Tetapi itu harus ditolak.

gedung nasional medan

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Medan Bisnis, Jum ‘at 1 Maret 2013, hlm 2


1 Comment

  1. […] Dr H Zakaria Siregar, Sp.AK atas nama Angkatan 66 Sumatera Utara saya pernah mendisain sebuah kegiatan di Medan dan untuk itu […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: