'nBASIS

Home » ARTIKEL » FKWJ: 750.000 SUARA UNTUK CHARLY

FKWJ: 750.000 SUARA UNTUK CHARLY

AKSES

  • 512,606 KALI

ARSIP


IMAGE0004

Dari sekitar hampir 5 jutaan komunitas Jawa di Sumut, 35 % adalah warga FKWJ. Itu berarti sekitar 1 juta lebih. Kami punya target 750.000 suara saja. Di antara pengurus daerah ada yang menantang FKWJ dapat menyumbangkan di atas satu juta suara. Tetapi saya lebih yakin angka 750.000 itu. Untuk apa sesumbar?”, jelas Mbah Djamin Sumitro

“Forum Komunikasi Warga Jawa (FKWJ) optimis mampu menyumbangkan paling sedikit 750.000 suara untuk kemenangan Chairuman-Fadly dalam pemilukada 7 Maret 2013 nanti. FKWJ harus mempunyai andil, dan itu sudah dihitung secara cermat”.

Demikian Ketua Umum FKWJ Sumut Mbah Djamin Sumitro usai memimpin rapat tertutup “Rembuk Pilkada” yang diikuti seluruh pengurus wilayah dan para Ketua dan Sekretaris Pengurus Daerah FKWJ Se-Sumatera Utara, di Sekretariat organisasi itu Jalan Pertiwi Medan, Minggu (24/02/213).

“Tadi sudah dibuat simulasinya. Dari sekitar hampir 5 jutaan komunitas Jawa di Sumut, 35 % adalah warga FKWJ. Itu berarti sekitar 1 juta lebih. Kami punya target 750.000 suara saja. Di antara pengurus daerah ada yang menantang FKWJ dapat menyumbangkan di atas satu juta suara. Tetapi saya lebih yakin angka 750.000 itu. Untuk apa sesumbar?”, jelas Mbah Djamin SUmitro.

Mbah Djamin menjelaskan tidak percaya dengan cara-cara partai mengumpul orang entah siapa-siapa, dan malah ada yang diberi duit kabarnya. Model penggalangan FKWJ berbeda, semua dilakukan secara tertutup dengan menggunakan jaringan organisasi.

“Kami mengutamakan komunikasi langsung dan tidak akan mau buang-buang waktu melayani debat dengan tim pemenangan pasangan manapun. Karena itu orang tidak akan menyadari gerakan ini, sebab sampai pemilukada usai, FKWJ tidak akan membuat acara terbuka. Tidak akan mengikuti pola parpol yang merasa sudah cukup dengan memasang spanduk dan memesan secara borongan halaman-halaman Koran.  Bukan pertemuan-pertemuan terbuka yang diandalkan dalam gerakan ini”, jelas Mbah Djamin Sumitro.

Menjelaskan karakteristik dan peta wilayah organisasi FKWJ, Mbah Djamin Sumitro mengatakan bahwa pada umumnya warga FKWJ yang terdapat di 20 Kabupaten/Kota, ada di pinggiran dan perdesaan.  Menurutnya lagi, organisasi yang didirkan sejak tahun 2004 itu memiliki karakteristik yang mudah dikenali, yakni pada sifat guyub dan kebersahajaannya.

“Di antara organisasi paguyuban Jawa saat ini, tidak ada yang lebih baik koordinasi dan penataan organisasinya melebihi FKWJ. Yang lain cuma mengurusi kaum elit perkotaan dan karena semua punya kepentingan atas kekuasaan, akhirnya terpecah-belah menjadi dua, tiga dan masing-masing mengklaim punya pengikut. Itu sudah kebiasaan lama. FKWJ tidak seperti itu, dan saya sebagai Ketua Umum tidak berpantang turun ke desa dan bahkan nginap di rumah warga yang saya pimpin”.

Tidak Ada Perpecahan. Mbah Djamin Sumitro mengakui ada dua tiga orang yang mengatasnamakan FKWJ bergabung dengan pasangan lain. Mereka itu hanya cari sedikit uang kantong pribadi. Kita tidak menafikan itu. Ketika ditanya mengapa tidak ditindak saja, Mbah Djamin Sumitro menjawab bahwa kesantunan harus menjadi jawaban untuk hal-hal seperti ini.

“Kita sudah tahu bagaimana pendekatan legalistik formal telah dipilih oleh orang-orang yang haus kekuasaan untuk menggantang dukungan organisasi tertentu. Hasilnya, ia hanya bisa mengantongi surat-surat, bukan keserta-mertaan dukungan tulus dari masyarakat. Sekiranya pun para pentolannya dapat uang, ya uang itu lagi-lagi untuk memperkaya diri mereka. Mereka mungkin merasa beruntung dapat memainkan bos mereka yang  sama sekali tidak faham karakteristik para pialang yang kerap memperdagangkan organisasi”.

Mbah Dajmin Sumitro mengaku cukup dongkol juga sebetulnya melihat tingkah polah para pialang politik yang seenaknya saja menklaim.

“Cobalah pikirkan, mas. Mengapalah baru sekarang orang ngaku-ngaku FKWJ dan ingin duluran (berfamili) dengan FKWJ? Selama ini mereka kemana saja? Nah, karena mereka lazim melakukan tindakan “habis manis sepah dibuang”, maka nanti mereka pun tidak akan mengenal FKWJ lagi. Itulah sebabnya FKWJ tidak sembarang memilih tokoh untuk didukung dalam Pilkada. Kami dukung Chairuman-Fadly karena Chairuman Harahap itu adalah penasehat FKWJ sejak tahun 2006. Beliau masuk FKWJ tidak dengan niat dan motif politik”.

Pola-pola berbasis kesederhanaan dan kepaguyuban yang bersahaja terbukti telah membawa manfaat besar dan pengakuan bagi organisasi ini. Sukar dibayangkan FKWJ yang didirikan di Tanjung Morawa kini sudah menjadi Organisasi Sosial Kemasyarakatan tingkat Nasional dan berkedudukn pusat di Jogjakarta.

“Apalah yang dipandang oleh Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengku Buwwono X kepada saya? Tetapi nyatanya beliau bersedia menjadi Ketua Dewan Penasehat dan Putri beliau menjadi Ketua Umum DPP sejak dideklarasikan setahun lalu. Saya sendiri tidak tamat SD, kok Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X mau menjadi Ketua Dewan Penasehat?”

Karena itu, menurut Mbah Djamin, mereka yang mencoba-coba menantang FKWJ dengan mengacau seperti itu tidak perlu diberi perhtian. Mereka akan menerima balanya sendiri. Siapa berbuat baik pasti dibalas Gusti Alloh dengan balasan yang lebih baik, di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, bagi yang iri dan dengki, ganjarannya ada pula. Itu bukan saya yang bilang. Itu ajaran agama, kata Mbah Djamin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: