'nBASIS

Home » ARTIKEL » FAKTA PERSIDANGAN

FAKTA PERSIDANGAN

AKSES

  • 551,569 KALI

ARSIP


FAKTA PERSIDANGANS

Anas Urbaningrum (AU) sudah menjadi tersangka. Ungkapan-ungkapannya menjelang pengunduran diri sebagai Ketum Partai Demokrat tampaknya menjanjikan sebuah perlawanan. Tetapi bagaimana bentuk perlawanan itu dan akan efektifkah itu, menarik untuk didiskusikan.

Cukup banyak dukungan untuk AU pasca penetapannya sebagai tersangka kasus Hambalang. Dukugan tidak cuma moral, tetapi juga sarat muatan politik. Esprit de corps (rasa senasib) sejumlah orang cukup kuat. Tentu bukan ini saja yang harus dilihat.

Sekiranya sebuah perlawanan dari momen ini dapat dihembuskan untuk perguliran bagai bola salju, hingga terbentuk agregasi  untuk sebuah pergerakan perlawanan, optimismenya tentulah harus ditilik dari besaran jumlah manusia (Indonesia) yang kini tak puas dan sadar atas ketidak-puasannya.

Memicu Perlawanan dari Peradilan ? Marilah lebih dahulu dicermati ucapan-ucapan AU menandai sikapnya. Sebelumnya lewat socialmedia tersebar dua ungkapan pendek “Ojo Gumunan” (jangan cepat heran/kagum) dan “Nabok Nyilih Tangan” (menggebuk pinjam tangan).

 “Barangkali ada yang berpikir ini adalah akhir dari segalanya. Hari ini saya nyatakan: ini baru permulaan. Ini adalah awal sebuah langkah berat”. Banyak menerjemahkan kalimat ini sebagai pernyataan “perang”. Perang dengan siapa? Ya tentu dengan SBY. Dipertegas lagi “Ini baru halaman pertama. Masih banyak halaman berikutnya yang akan kita buka dan baca bersama untuk kebaikan.” Menganalogikan kasusnya sebuah buku, AU menegaskan lagi bahwa “ini bukan tutup buku. Ini pembukaan halaman pertama. Saya yakin halaman berikutnya akan makin bermakna bagi kepentingan kita bersama”.

Berusaha mempersiapkan jalan untuk pemahaman publik terhadap pikirannya, AU pun berkata: “buku-buku itu jangan dipahami dalam perspektif yang ngeres. Tapi yang konstruktif, kemaslahatan, dan perbaikan yang lebih besar.” Ungkapan lain yang relevan untuk tema tulisan ini baiklah disalin (1) “Kongres itu ibarat bayi yang lahir, Anas ibarat bayi yang lahir tidak diharapkan.” (2) “Saya akan melepas jaket ini, menjadi manusia bebas dan merdeka. Selamat berjuang kepada para kader Demokrat.” (3) “Saya menjadi yakin akan menjadi tersangka saat diminta untuk lebih fokus berkonsentrasi menghadapi masalah hukum di KPK (oleh Majelis Tinggi Partai Demokrat)” (4)  “Ketika itu saya merasa sudah divonis atas status hukum. Status hukum yang dimaksud tentu tersangka.” (5)  “Beberapa dari mereka hakulyakin kalau saya tersangka. Pasti minggu ini Anas tersangka” (6) “Tidak butuh pencermatan yang terlalu canggih untuk mengetahui rangkaian itu”.

Tentu banyak yang menduga AU akan “berteriak” sekeras-kerasnya nanti di peradilan tentang hal-hal yang penting untuk maslahat dirinya dan Indonesia menurut persepsinya. “Jika saya seorang pencuri, tebaklah pencuri kelas apalah saya ini”. “Maukah kalian, wahai rakyat Indonesia, membandingkan tungau yang mestinya dianalogikan kepada saya dengan gajah yang harus dianalogikan kepada orang-orang lain di dekat saya, dalam peta korupsional yang begitu buruk dan semua itu bukan tanggung jawab saya sama sekali?”

Jika itu yang akan ditempuh AU, maka kurang lebih seperti ungkapan orang Batak “dang di ho dan di ahu, tagonan diallang begu” (biar setan saja yang mengambil manfaat dari semua kemelut ini). AU bilang tidak butuh pencermatan yang terlalu canggih untuk mengetahui rangkaian peristiwa yang menyebabkannya menjadi tersangka. Hubungkan dengan ungkapan Ruhut Sitompul: “”…mungkin Anas Urbaningrum tidak sampai menjadi tersangka jika sebelumnya dia mau mundur secara legowo dari jabatan ketua umum. Sejumlah kader sudah menyarankan agar Anas mau mundur secara legowo”. Maka sebetulnya makin sia-sialah perlawanan yang akan dilakukan AU.

Bukankah peradilan terhadap Antasari Azhar (mantan Ketua KPK) telah mempertontonkan betapa fakta persidangan tidak selalu dianggap relevan? Kesaksian Williardi Wizard yang menggemparkan tentang scenario “pembungkaman”  Antasari Azhar dikesampingkan. Gambaran itu bisa dialami AU. Meskipun demikian, perlawanan bukan tidak ada manfaatnya. Terpulang kepada AU apakah akan lebih mengagendakan keselamatan pribadi atau mengagendakan kemaslahatan Negara-bangsa.

Ideologi Kemapanan. Tetapi kita kenal AU. Bahkan sebagian orang yakin bahwa orang ini bukan tipe pelaku perlawanan frontal. Ia tipe kompromistis. Mungkin ideologi kemapanannya yang membuat seperti itu yang dapat dijelaskan oleh sejarah dan karir (khususnya dalam politik) AU. Karena itu jika ia akan bermetamorfosis menjadi semacam simbol perlawanan, akan ada paling tidak kesimpang-siuran pemahaman bagi publik yang luas, karena memang perlawanan seperti itu dianggap bukan tipe AU. Katakanlah ia hanya seorang lobbyist yang selalu akan berusaha berselancar di sisik kekuasaan.

Permasalahan AU akhirnya akan dihadapinya sendirian. Itu hanya butuh waktu yang tak lama sejak sekarang. Ideologi kemapanan juga yang menonjol ketika riuh solidaritas atas wafatnya Abdul Aziz Angkat (Ketua DPRDSU) dalam sebuah demonstrasi dan akhirnya surut seiring waktu berjalan. Bukankah seratusan pengacara yang menyatakan dukungan mengawal peradilan untuk kasus ini kelihatannya telah tak efektif hingga ketidak-puasan publik atas hasil persidangan menjadi memori belaka?

Dengan jenis kasus dan pasal-pasal tuduhan yang ditimpakan kepada AU kecil pula peluangnya untuk menjadi korban politik yang menunggu momen bersinar kembali seiring pudarnya kekuasaan rezim.

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali dimuat oleh Harian Medan Bisnis, Rabu 27 Februari 2013, hlm 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: