'nBASIS

Home » ARTIKEL » KERINDUAN

KERINDUAN

AKSES

  • 512,606 KALI

ARSIP


IMG_4027

Bukan musik yang menghibur. Mengapa harus update berita? Saya punya hiburan terbaik. Berita terpenting. Hiburanmu tak laku. Informasimu tak update.  Saya menjudg  standar sesuka hati.

Terkadang saya ingin kebisuan dalam kesendirian. Dan menghindari keramaian. Menyetir sendiri dan nyaris tanpa persiapan, kecuali soal kenderaan (minyak, tekanan ban dan yang lainnya), dan tak memberi tahu siapa-siapa. Itu karena saya ingin membawa pertanyaan-pertanyaan substantif yang belum bisa saya berikan jawaban. Saya butuh kekuatan.

Biarpun semua orang menghubungi lewat HP. Dia tak perlu saya jawab. Ia perlu menunggu, karena saya sudah menempatkannya dan urusannya sebagai sesuatu di bawah label “belum perlu dan belum penting”.

Bukan musik yang menghibur. Mengapa harus update berita? Saya punya hiburan terbaik. Berita terpenting. Hiburanmu tak laku. Informasimu tak update.  Saya menjudg  standar sesuka hati.

Saya datangi tempat-tempat seperti ini, sendirian. Memory mengalir seperti air. Ia seakan kembali.Teringat seseorang. Amat terindukan. Dimanakah gerangan dia kini. Apa kabarnya kini? Di sekitar sini, membeli beberapa kilo buah segar, untuk buka puasa. Dulu, beberapa tahun lalu. Sholat tak berjama’ah. Berlama-lama. Berhening ria. Seperti sedang merajuk. Di tengah kesepian dan dinginnya cuaca. Seolah perjalanan menuju batas.

Di sini, dulu, di lahan yang sudah digerus ini, dalam malam yang penuh keramaian. Tetapi saya ragu. Apakah di sini atau di tempat lain. Semua sudah berubah. Tidak, tak perlu mempertanyakan kepada siapapun. Tetapi, di sini, atau, mungkin di sinilah. Saya ingat seseorang teman telah menyodorkan segelas besar minuman. Ia telah terlebih dahulu meminumnya, dan menambah, menambah dan menambah lagi. Kelihatannya memang banyak stock disediakan di sini.

Saya dengan sangat berterimakasih mulai meminumnya. Ini minuman keras? Ah, kandungan alkoholnya rendah kok. “Makanlah ikan panggang ini”, katanya. Ah, kau memang preman. Saya tahu kau berniat baik. Tetapi tak baik buat saya. Saya tidak sedang berkompromi tentang itu, meski di sini saya sungguh sedang memperluas social capital untuk sebuah ranah yang musykil. Wah, begitu bersemangat semua teori diuji-cobakan. Used to be.

IMG_4026Di mesjid ini. Betapa sejuk. Ini seperti sebuah keasingan. Ia dimaksudkan untuk para santri. Tetapi santrinya sudah lama pergi. Bukan karena tamat. Jika memang sudah tamat, itu kan satu generasi. Mana generasi lainnya? Mengapa menjadi begitu asing dan terasing mesjid ini. Saya tak perlu bertanya. Cukup mandi saja di sini, lalu berwudhu, dan sholat. Membuat fotonya saja saya merasa sedang berobat kerinduan. Juga kepadanya yang entah di mana kini. I really really miss you, now. From the bottom of my heart.

Tetapi saya sudah mengukur sebuah waktu untuk pemenuhan janji. Saya tidak akan mengecewakan kalian. Saya datang. Saya sudah di situ, jangan ragu. Saya sudah di situ. Bersama kalian. Tetapi, ini tak layak. Saya sudah akan berada bersama kalian. Maka kalian tak harus ikut kesendirian saya. Bagaimana kalian bisa nyaman jika dengan pakaian seperti ini saya berada di tengah kalian?

“Beri saya celana panjang blue jeans nomor 32 atau di atasnya sedikit. Kemeja size L atau M. Serasikan warnanya. Oh, sebaiknya yang hitam ini saja. Dimana kamar pas?” Jaka dan dara swalayan ini terheran-heran bukan saja atas ketergesa-gesaan saya. Saya memang tak membawa jam tangan, tetapi saya sudah tahu waktu yang tersisa sekitar 15 menit sebelum bergabung.

“Ayo, ambil gunting. Potong semua label yang ada pada celana panjang dan kemeja ini. Cepat. Cepat. Ini uangnya, bayarkan ke kasir”.

“Oh tidak, pak. Tak boleh. Bapak sebagai konsumen yang langsung bayar. Itu peraturannya”, kata jaka swalayan. “Sekarang saya yang buat peraturan. Kau yang harus bayar, cepat. Kalau tidak saya tidak akan bayar. Saya pergi sekarang, biar jadi urusan. Mau?”

“Ah, ah. Bapak ini sangat serius candanya. Ayoklah pak”, kata dara swalayan. Serentak jaka dan dara swalayan dengan halus menggenggam tangan kanan dan kiri saya sambil mendorong sangat halus menuju kasir. Saya mengalah kepada jaka dan dara swalayan ini.

Sang kasir dan pembantunya heran. “Jadi bapak langsung pakai celana dan bajunya?”, tanyanya dengan senyum lebar. “Saya kira itu tidak diatur sebagai pelaanggaran di sini, bukan?” tanya saya sambil menunjuk sebungkus rokok di lemari kaca kecil di atas mesin kasir itu.

Saya masih melihat ada peluang untuk minum juice di cafe itu. Saya datangi pelayan. “Ini uang saya Rp 10.000. Buatkan saya juice seharga ini”. “Bapak langganan di sini ya, kok langsung tahu harga juice kuwuni Rp 10.000?”, tanyanya begitu. Saya tak jawab pertanyaan itu. “Kalau kau bisa cepat, saya sangat berterimakasih. Lihat nanti, kalau kau lama akan saya tinggalkan dan juice itu terpaksa kau minum. Setuju?”, saya bilang kepadanya.

Semua seperti terukur. Saya tiba beberapa detik saja setelah yang lain. Seseorang beberapa langkah di depan saya, dan ia IMG_4030tak menyadari saya ada di belakangnya. “Pak Walikota, tunggu saya”. Ia pun berhenti, menoleh dan mengulurkan tangan untuk bersalaman sambil betkata, oh bang Shohib. Sehat, bang? Suara kami berdua cukup gaduh. Seseorang yang lain yang sudah menunggu di lantai 2 langsung menyabut (ketika kami tiba bersamaan) dengan kalimat “Ah, kalah saya. Sudah bergabung PKS dengan ‘nBASIS”, katanya sambil berdiri menyalami.

“Di studio kami sudah hadir para nara sumber. Saya sapa terlebih dahulu Bapak Sigit Pramono Asri dari PKS mewakili Tim Ganteng. Apa kabar, Pak Sigit? Dari Tim ESJA M Affan. Apa kabar Pak Affan? Dan pengamat politik kita dari Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya, sudah ada di studio. Apa kabar Pak Shohibul Anshor Siregar?” Itu kalimat-kalimat pembuka host Pieter Manopo di studio Lite FM, Jum’at 8 Maret 2013.

Done. Done. Saya sudah pulih. Saya tinggalkan galau di perjalanan. Saya bakar selama kesendirian dan kesunyian. Kata Usman Pelly suatu ketika “orang dengan tingkat imaginasi yang sangat tinggi sebetulnya tidak layak menyetir. Dia bisa berdialog keras antara dirinya yang satu dengan pendiriannya yang lain. Dia bisa tak peduli di depannya ada kenderaan”.

Tetapi saya telah melintasi “bahaya” itu dan selamat. Sepanjang siang dan sore berdurasi kurang lebih 3 jam ini. Apakah saya tadi sudah ngebut di jalanan? Tidak mungkin untuk sebagian. Tetapi ya untuk sebagian waktu yang lain, terutama setelah menjelang pukul 16.30 WIB.

I miss you so very much. From the bottom of my heart.

IMG_4032


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: