'nBASIS

Home » ARTIKEL » SYARIF KOTO EKSPONEN ANGKATAN 66

SYARIF KOTO EKSPONEN ANGKATAN 66

AKSES

  • 564,592 KALI

ARSIP


734076_4395270761883_5369384_n

RAPAT hampir usai. Dalam keterlambatan tiba, saya temukan senior yang eksponen Angkatan 66 ini ada di luar ruangan pertemuan. Dia cukup kedinginan di ruang ber AC di lantai 2 Sukma City Hotel milik pengusaha Ben Sukma itu. Saya tertawa saja melihatnya. Dia pun, seperti biasanya, ketus-ketus saja.

Saya sudah menyampaikan pendapat saya tentang apa yang harus dilakukan oleh Angkatan 66 sebagai upaya untuk melawan upaya para pihak yang ingin mengkomersilkan lahan Gedung Nasional dengan dalih kesulitan mencari dana pemeliharaan itu. Saya senang, rapat itu berakhir dengan kesepakatan.

Menjelang pulang, saya melihat senior Syarif Koto masih ada di luar gedung. Padahal hampir satu jam saya berada di dalam ruangan setelah semua peserta rapat keluar kecuali Susi Gurning, sekretaris. Saya ingin memastikan Susi Gurning telah mencatat dengan baik semua keputusan yang sudah diambil oleh rapat.

Gedung Nasional-1Memang cuaca agak tak bersahabat. Hujan. Saya tawarkan ia ikut bersama saya, dan rupanya tawaran itu sudah ditunggunya. Di perjalanan ia banyak bercerita. Tak usahlah saya ceritakan apa yang sudah ia ceritakan dengan amat serius kepada saya.

Saya tak langsung pulang ke rumah, dan saya sudah jelaskan tidak akan bisa mengantarkannya hingga ke rumahnya. Di mana saja perhentian yang tepat untuk mencari angkutan ke rumah, di situlah nanti turun, saya sarankan. Tetapi dari perjalanan dari jalan Sisingamangaraja hingga jalan Sutomo, ia belum memberi aba-aba akan turun. Saya langsung merubah agenda. Saya singgah di sebuah kantor pengacara. Bukan untuk meminta bantuan hukum.

Ketika ia duduk, saya lihat ia sebagai objek kamera yang baik. “Klik”, dan selesai. Ia menoleh dan berkata “apa itu tadi?”. Saya tertawa kecil. “Kalau abang tak berkulit hitam, abang akan saya panggil apek”, saya jawab. Matanya sipit, berkacamata agak tebal.

Gedung Nasional-2Saya senang dengan orang-orang seperti ini. Dia biasa saja. Mungkin bagi orang lain ia dianggap aneh. Tetapi saya ingin mengungkap rahasia keaanehannya itu. Selalu. Seperti saya melaakukannya dengan beberapa orang lain yang juga dianggap aneh. Tak usah saya sebut.

Tentang Gedung Nasional yang sedang dipermasalahkan itu, ia berpendapat “banyak orang yang menunggu kita lupa agar ia menjualkannya. Ia sanggup mengorbankan sejarah demi recehan”, katanya. Siapa dia? Atau siapa mereka?IMAGE0012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: