'nBASIS

Home » ARTIKEL » JOKOWI: TAK BURUK-BURUK AMATLAH

JOKOWI: TAK BURUK-BURUK AMATLAH

AKSES

  • 512,606 KALI

ARSIP


IMAGE0003

Di medan politik (Sumut) yang begitu “liar” alangkah tragisnya Jokowi dikorbankan. Ia tentu saja akan menjadi orang yang kerap bermenung setelah ini

Konon ada pertukaran nilai yang sudah terjadi cukup lama. Kota kecil Solo diurus oleh Jokowi atas mandat awal PDIP. Seterusnya terserah Jokowi. Ya, terserah Jokowi, bukan PDIP. Tak semua orang yang dimandati oleh PDIP dapat bertindak benar, termasuk Megawati Soekarnoputri yang akhirnya gagal menjadi Presiden setelah “dihadiahi” oleh Amien Rais separoh waktu dari jabatan itu dengan pelengseran Gus Dur. Sebelumnya juga ia gagal menjadi Presiden meski mendapat mayoritas suara di parlemen (hasil pemilu 1999 yang tak pernah disaingi oleh partai apa pun hingga kini). Megawati Soekarnoputri adalah seorang petahana pertama yang gagal meraih kekuasaan dalam keadaan sumberdaya cukup sejak penerapan pemilihan langsung di Indonesia.

Jokowi adalah Jokowi, yang belakangan memang diblow up di tengah krisis integritas pemimpin. Meski ia tak bermaksud menghina sosok dan pemeranan diri SBY sebagai pemimpin tertinggi dan pemimpin-pemimpin lokal lainnya di Indonesia, tanpa sepenuhnya menyadari ia telah tiba pada puncak dari sebuah klasemen khsusus yang diciptakan seiring kehausan dalam arena tahun politik yang gonjang-ganjing.

Media Darling Project. Opini publik telah bergulir sedemikian rupa, mengelu-elukan dan sekaligus memposisikannya sebagai orang yang tak kenal kata terimakasih (kepada Megawati Soekarnoputri, khususnya), karena tanpa sadar telah diusung menjadi presiden paling diharapkan untuk Indonesia meski perhelatannya masih menunggu setahun lagi. Ia sendiri baru saja mengenal Jakarta, dan dengan gagap-gagap melakukan berbagai uji-coba seperti tanpa arah, sebetulnya ia masihlah dalam keadaan mencari kejelasan pekerjaan dalam konteks lama di lingkungan baru.

Untung ada Ahok yang pecicilan (bahasa khas Medan: bertingkah unjuk kebolehan secara tak santun dan aroganitas yang khas bagi seseorang yang baru saja menyadari ada kehebatan dalam dirinya). Dalam ketak-santunan Ahok ada keberuntungan, sehingga Jokowi, entah sedang bingung atau berfikir, tak menjadi perhatian. Mengupas-ngupas artikulasi dua nama untuk orang yang sama saja (Ahok dan Basuki Tjahaya Purnama) sebetulnya media mainstream sudah kehilangan halaman-halaman dan ruang-ruang produktifnya. Artinya Jokowi selamatlah dengan itu. Selamat dari badai banjir yang berulang. Selamat dari usaha “konyol” mereplikasi pikiran-pikiran usang Foke yang sudah sempat dicaci-maki. Tampaknya kini media mainstream menganggap cukup mengamati tubuhnya yang kurus, bahasa dan aksen khas Jawanya yang sebetulnya sudah sangat akrab bagi media, karena bahasa lain boleh disebut baru dikenal dalam arena politik Indonesia yang berselera Jawa, terutama pasca kejatuhan Soeharto. Tentu Jokowi akan tetap aman dalam kebingungan itu selama media darling project belum dihentikan oleh yang empunya kemauan.

Bukan Kunci Pas. Oneng dan Teten Masduki butuh Jokowi di Jawa Barat, begitulah “perintah” PDIP untuk si kerempeng Jokowi dengan tawa dan senyum yang khas ini. Lalu tokoh “outsourching” ini pun diarak ke sana menantang Ahmad Heryawan. Sang petahana memang sedang ditimpa bermacam prahara, mulai dari imbas ketertangkapan Presiden PKS karena suap impor daging sapi sampai kepada ketak-beresan pengucuran kredit design Ahmad Heryawan si kader PKS ini. Tetapi semua orang PDIP dan Jokowi sendiri tak begitu memperhitungkan bahwa Ahmad Heryawan didampingi “Nagabonar” Deddy Mizwar. Belakangan terbukti tak begitu sulit memang mengalahkan Sang aktor filem Dede Yusuf. Tetapi Naga Bonar sungguhan Deddy Mizwar tak bisa. Kerinduan akan sosok pemimpin yang responsif dan tak mati demi toto coro yang mentamengi ketak-mampuan melayani malah sudah diperkenalkan oleh Deddy Mizwar si Nagabonar “Sang Jenderal dari Lubuk Pakam” ini beberapa dekade sebelum media mengenal Jokowi.

Naga Bonar adalah milik Indonesia, sosok yang belum mampu direplikasi Jokowi. Bayangkanlah begitu mudahnya rakyat Aceh menautkan diri kepada seseorang yang dalam waktu lama hanya ada dalam memori ingatan mayoritas. itulah Teuku Hasan Tiro. Dengan melepaskan catatan awal tentang pertemuan Helsinki, mestinya hope rakyat Aceh atas sebuah paradigma keacehan baru telah dianggap bersesuaian dengan sosok Hasan Tiro yang pulang setelah begitu lama melancarkan harapan dari pengasingan yang sangat jauh secara spatial.

Jokowi itu Jawa. Maka ia adalah jawaban atas bias Jawa yang sudah lama terbentuk di Jakarta. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Mayoritas penduduk Jakarta yang orang Jawa ini, dan dengan support dari penduduk Cina dan penduduk pendatang dari suku lain yang lebih identik dengan sekularitas dan kenon-musliman dan atau keabangan (meminjam term Clifford Geertz), jadilah Jokowi-Ahok sebagai raja dan wakil raja baru untuk Jakarta baru itu. Inilah yang tak mau diakui oleh para analis politik hingga kini, dan media menutup mata terhadapnya. Karena itu, mengarak-arak Jokowi ke Sumut adalah jawaban kosong atas popularitas dan elektibilitas Effendi Muara Sakti Simbolon yang rendah.

Effendi Muara Sakti Simbolon sungguh orang asing di sini. Bukan cuma karena ia cukup aneh menyebut Bagansiapi-api akan menjadi model pengelolaan sumberdaya maritim untuk kesejahteran rakyat Sumut. Etika politik yang dilanggar dengan arogansi PDIP telah menjadi tanggungannya. Kepada saya jauh-jauh hari sebelumnya Bintatar Hutabarat, seorang pejabat tinggi PLN yang sejak dini membentuk tim sukses untuk pengorbitan dirinya menjadi Gubernur Sumut, telah menyatakan dirinya akan didukung oleh PDIP menjadi Cagubsu. Saya heran sekali waktu itu. Tetapi dia, bersama almarhum Abdullah Endah Nasution dari Angkatan 66, tetap berusaha meyakinkan saya bahwa laenya (iparnya) ada di DPP PDIP. Itulah Effendi Muara Sakti Simbolon, yang dijanjikannya akan memihaki dan menjamin pencalonannya dari PDIP. Saya menolak teori Bintatar, karena menurut saya orang Batak di PDIP (DPP) itu ya kurang lebih seperti Ruhut Sitompul saja di PD. Anda tahu maksud saya.

Menurut segmentasi politik lokal, sangat masuk akal sejak awal RE Nainggolan berusaha meraih dukungan PDIP bersama PDS dan partai-partai sekuler berbasis dukungan non-muslim. Tentulah banyak orang, terlebih RE Nainggolan, dapat bercerita mengapa ia tak menjadi calon usungan PDIP. Seberapa besar kekecewaan konstituen PDIP telah ditunjukkan oleh hasil pilgub 7 Maret 2013. Orang-orang seperti Taufan Agung Ginting tentu masih bisa menambahi cerita tentang kultur berpartai dan tautan-tautan elit yang manggonggomi (merajut) ke bawah. Juga Syamsul Hilal, Soetarto, Alamsyah Hamdani, Eddy Rangkuti dan Muhammad Affan. Pada level bawah Pak tua Edy Parman akan mampu menceritakan pengharapan-pengharapan yang tak kesampaian, sebagaimana halnya Pak tua Pairin dari Kampung Dadap atau malah Doni Arsal Gultom yang akhirnya memilih melompat keluar pagar. Memang cerita seperti ini bukan dominasi PDIP.

Di medan politik (Sumut) yang begitu “liar” alangkah tragisnya Jokowi dikorbankan. Ia tentu saja akan menjadi orang yang kerap bermenung setelah ini, karena baru sadar status outsourchingnya hanyalah seperti sebuah enmaleg (sekali saja untuk selamanya) dan itu hanya khas Jakarta. Jokowi sudah tentu bukan kunci pas. Meskipun begitu, Megawati Soekarnoputri masih bisa “memaksanya” menjadi wakilnya untuk maju pada Pilpres 2014, karena di Solo pun ia meninggalkan sisa masa jabatannya untuk dinikmati Wakilnya. Berbahagialah Ahok dengan mimpi ini.

Penutup. Menurut sejarahnya Islam di Jawa Barat adalah Islam Politik, sama halnya dengan Sumatera Utara. Jangan lupa Hassan Bandung sang pemikir Islam yang mendapat bumi berpijaknya di sana, sebagaimana Mohd Natsir yang sejak awal menekuni pelajaran-pelajaran penting beragama dan bernegara di sana, atau Kartosuwirjo yang malah pengikutnya (NII) belum pupus secara ideologis hingga kini (di sana). Kartosuwirjo yang orang Jawa Tengah saja memilih lahan perjuangannya di Jawa Barat. Sangat tak mungkin pula mengabaikan Abdul Haris Nasution sang Jenderal hijau, sebagaimana diungkap dalam disertasi Dr Asren Nasution. Pada generasi lebih muda Endang Syaifuddin Anshari, Bang Imaduddin (Langkat) dan lain-lain lebih dari cukup membuktikan Jawa Barat bukan cuma Bandung yang kota mode.

Ketika Pemilu 1977 Kasman Singodimedjo membuat ratusan ribu massa tak begeming dan sekiranya sebutir taik burung layang-layang jatuh akan kedengaran sangkin senyapnya “dihipnotis” olehnya di lapangan Merdeka. Pada tahun 1982 Rhoma Irama yang kala itu masih sangat muda juga dihadirkan dalam kampanye politik PPP di Tuntungan. Sejak pagi hingga tengah malam jalan menuju lokasi pertemuan luar biasa padat. Kebanyakan orang hanya kebagian mendengar deru suara helikopter yang membawanya ke arena kampanye.

Karakteristik ini memang sangat dihitung untuk memunculkan tokoh alternatif. Tetapi keterbagian pemilih muslim ke Gusman, Charly dan Ganteng telah pula diimbangi oleh keterbagian pemilih non muslim antara ESJA dan Amri-RE. Amri sendiri selalu menyebut title Haji di depan namanya, dan ketia tampil dalam acara resmi RE Nainggolan menyimbolkan sesuatu dengan tanpa peci. Rupanya tidak efektif. Saya bersyukur telah menyaksikan event yang sangat menarik ini. Sebuah tontonan demokrasi yang mengasyikkan, meski bukan sesuatu yang menjanjikan perubahan dan penghentian degradasi Sumut.

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian WASPADA Senin 11 Maret 2013, hlm B6


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: