'nBASIS

Home » ARTIKEL » DEBAT: CATATAN TERSISA DARI KAMPANYE PILGUBSU

DEBAT: CATATAN TERSISA DARI KAMPANYE PILGUBSU

AKSES

  • 568,727 KALI

ARSIP


Foto Ismail Ucok Nst

Foto Ucok Ismail Nst

Memang saya berpandangan, dalam siatuasi berhadap-hadapan dan saling menyerang begini, dan dengan tingkat akses yang tak begitu memungkinkan bagi seluruh masyarakat untuk berubah pilihan di wilayah-wilayah yang luas seperti Sumatera Utara, sebetulnya saya, jika misalnya menjadi salah seorang calon, tidak akan ikut dalam debat yang bukan mandatory event

Saling menjatuhkan. Itulah salah satu catatan saya di sela debat yang diselenggarakan dengan siaran langsung tv-one. Mereka memang memaparkan secara singkat apa yang akan mereka jalankan jika berhasil keluar sebagai pemenang. Awal yang cukup merontokkan kewibaan telah diperagakan oleh Ihsanuddin Noorsyi dan Subhilhar. Mereka memilih metode yang dapat disebut kuis kejar-kejaran (kalau istilah ini dapat digunakan).

Jika kedua orang ini sadar siapa yang mereka hadapi dalam kaitannya dengan kontestasi, tentulah mereka akan sedikit berfikir tentang resiko yang bisa fatal buat pasangan calon. Mereka sebetulnya bisa membuat tak mewadahi selera bertegang ria. Inilah contoh terbaiknya: “Bapak berdua bertekad menjalankan visi dan misi ini. Saya melihat paling tidak ada lima masalah yang akan dihadapi. Pertama, ini. Kedua, ini. Ketiga itu, keempat itu dan kelima ini. Menurut saya penting bapak jelaskan agar publik dapat lebih memahami”.

Saya tidak tahu apakah kedua orang ini sengaja diperankan oleh TV-One untuk memperlakukan semua pasangan seperti pesakitan saja. Kelima pasangan ini tidak harus diperlakukan seperti itu. TV-One tidak berhak membuka celah untuk kejatuhan marwah di depan publik. Perhatikan pemosisian diri kedua orang yang bertindak seperti guru diktator terhadap murid-muridnya yang sedang diuji secara lisan ini.

Merasa akan dapat adventage lewat siaran tv, debat kandidat cagub/cawagub “memilih” saling menjatuhkan. Mereka lupa rakyat berfikir lain. Itu kesimpulan saya. Ada perasaan bisa merebut tambahan pemilih jika berhasil membuat rival kewalahan. Dari titik ini dapat disimpulkan, memang black campaign itu sebuah pilihan juga, terserah bagaimana dilakukan dan dengan media apa.

Sesi-sesi Debat “Tajam juga di ujungnya”, kata Alfito Deanova (host) beberapa detik setelah Fadly Nurzal menyampaikan penyesalannya kepada Gatot Pujo Nugroho atas fakta besarnya fokus pemprovsu, mengalokasikan dana untuk hal-hal tak penting, terutama belanja baliho pencitraan. Kejadian ini muncul saat sesi debat Gatot vs Fadly. “Gara-gara ditawari kredit akhirnya ibu-ibu itu menjadi punya utang, susah”, sindir Jumiran kepada Gus Irawan. Soekirman bermaksud memberi apologi, rupanya habis waktu. Ini mungkin dimaksudkan oleh Jumiran sebagai ketak-setujuan atas Gusman yang kerap mengemukakan pengalaman Gus Irawan dalam penyaluran kredit kecil sewaktu dirut Bank Sumut. Tema ekonomi kerakyatan ini cukup tak terterima bagi Jumiran Abdi.

Hal yang lebih panas muncul saat host menghadapkan ESJA dengan AMRI-RE. Effendi Simbolon menyindir Amri tentang usianya yang tua dan geraknya yang lamban. Efendi Simbolon malah seperti mempermainkan dengan menyebut “saya tak jelas apa yang ditanyakan”. Amri yang mengetahui trik itu dengan tenang menghadapi dan memberi jawaban. Tetapi Efendi Simbolon kelihatannya tak hendak mendengar. Memang Amri paling irit bicara, dan visinya malah tak selesai dibacakan ketika bel tanda habis waktu berbunyi.

Serangan Erry Nuradi langsung kepada Chairuman Harahap dengan mengatakan pengalamannya sebagai Bupati itu sangat penting menjadi nilai tambah untuk modalitas memimpin Sumut. Sedangkan bagi Chairuman Harahap justru faktor itulah yang membuat Sumut selama ini terpuruk. Artinya, seperti dikemukakan oleh Efendi Simbolon, “jangan duduk-duduk saja”. Amri juga menyerang, atas pancingan host, untuk program bantuan 1 milyar perdesa milik Chairuman Harahap dan Fadly Nurzal. Di sini host curang karena peluang tidak sedang diberikan kepada pasangan nomor urut 3 untuk menjawab. Kelihatan sejumlah pasangan dan pewawancara seperti “takut” atas program bantuan 1 milyar perdesa itu. “Ini sebetulnya pertanyaan seorang wakil Bupati kepada Bupatinya”, tegas Erry Nuradi saat disodok dengan pertanyaan (yang mungkin terasa menggurui) tentang apa yang dimaksud social atau public services. Secara konsepsional terlihat Soekirman lebih faham soal itu ketimbang Bupatinya yang menjadi lawan tanding di medan pilgubsu. Publik menjadi tahu “api dalam sekam” yang membara di antara kedua orang ini meski sudah selama 2 periode memimpin Kabupaten Serdangbedagai.

Kira-kira kemana arah serangan Gus Irawan saat mengarang cerita yang katanya berasal dari penuturan seorang teman di facebook tentang “terpaksa terbangun” saat melintas perbatasan Sumbar dan Sumut? Hal sama terjadi saat melintas dari perbatasan Aceh ke Sumut dan Riau ke Sumut. Pasangan Gusman tidak mengakui tingkat kerusakan jalan sekitar 9 atau 10 %, malah mereka memberi angka 30-an %.

Pada sesi lain Gatot Pujo Nugroro berusaha membela diri dengan menyudutkan rakyat. Katanya rakyat memang tidak tahu siapa yang bertanggung jawab untuk jalan tetentu, karena ada jalan Negara, Jalan Provinsi dan Jalan Kabupaten. Secara tak sadar ia telah memukul diri sendiri yang berpasangan dengan seorang Bupati yang masih aktif dan telah memimpin selama dua periode. Hangatnya debat antara Jumiran Abdi dengan Erry Nuradi telah ditimpali oleh Effendi Simbolon pada satu sesi. “Mainkan, bang. Sama-sama Anak Medan ini”, dan “kampung saya di sini”.

Terasa provakasi untuk menyadarkan rakyat bahwa Gatot Pujo Nugroho bukan orang Sumut seperti pernah dengan tegas diucapkan Soekirman saat deklarasi. “Iki sing Asli Jowo Sumatera”, katanya. Tetapi Efendi Simbolon rupanya lebih ingin dapat meyakinkan masyarakat tentang siapa yang lebih orang Sumut, antara dia yang lahir dan besar di Kalimantan dengan Gatot Pujo Nugroho yang sudah menjadi Plt Gubsu dan sebelumnya memimpin PKS di sini tetapi berasl dari Magelang.

Penutup “Na bisuk nampuna hata, jala na oto tu panggadisan. I dont care you understand it or not“. Itu saya tulis sebagai pertanda akan mengakhiri aktivitas saya memberi respon atas debat yang berlangsung. Memang saya berpandangan, dalam siatuasi berhadap-hadapan dan saling menyerang begini, dan dengan tingkat akses yang tak begitu memungkinkan bagi seluruh masyarakat untuk berubah pilihan di wilayah-wilayah yang luas seperti Sumatera Utara, sebetulnya saya, jika misalnya menjadi salah seorang calon, tidak akan ikut dalam debat yang bukan mandatory event.

Saya sama sekali tidak merasa gentar berdebat. Hanya saja, manfaatnya untuk menambah pemilih tampaknya tidak banyak. Lebih baik memfokuskan sintuhan langsung ke kantong-kantong yang terisolasi karena buruknya infrastruktur jalan dan jembatan, serta kelompok yang hingga kini masih merasa harus “abstain” karena faktor frustrasi politik yang bersejarah. Catat, bahwa untuk beberapa daerah terpencil distribusi perlengkapan pilkada masih harus menggunakan kenderaan zaman batu (kuda).

Diterbitkan pertamakali oleh Harian Medan Bisnis, Rabu 13 Maret 2013, hlm 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: