'nBASIS

Home » ARTIKEL » KETAKUTAN YANG BERSANGATAN

KETAKUTAN YANG BERSANGATAN

AKSES

  • 551,562 KALI

ARSIP


20130401073902_591

TIDAK ada kudeta rupanya. Tidak ada. Hanya ada berbagai peristiwa yang menunjukkan ketidakberesan nasional. Katakanlah misalnya pembunuhan atas sejumlah tahanan yang dikurung di sel seperti burung tak berdaya di sangkar, di sebuah Lembaga Pemasyarakatan (LP) Sleman Yogjakarta. Pelakunya, sejumlah orang yang sebetulnya sangat mudah diungkapkan, tetapi tampaknya dianggap lebih baik tak usah diungkap (awali saja dari mengapa tahanan ini dipindahkan dari pengawasan langsung kepolisian).

Di salah satu polsek di Sumut memang (juga) ada insiden yang membawa korban nyawa seorang aparat kepolisian. Kapolsek Dolok Pardamean Kompol (Anurmerta) Andar Siahaan diteriaki maling saat menciduk seorang juru tulis togel, lalu meninggal dikeroyok massa.Kemajuan penyelesaian kasus Bank Century juga tidak ada yang, misalnya, cukup mengkhawatirkan akan adanya sikap baru DPR. Ratna Sarumpaet dan kawan-kawan pun akhirnya diketahui jelas cuma menggelar aksi bagi-bagi sembako. Bukan bagi senjata untuk ditembakkan ke istana. Anas Urbaningrum juga tidak menunjukkan progress atas buku “catatan dosa negeri” yang dia janjikan saat melengserkan diri akibat tekanan. Jakarta juga tidak cukup memanas seputar pencapresan.

Hal-hal terkait politik dinasti di daerah yang dianggap sangat tak baik itu juga tak begitu menyita perhatian. Padahal jika diseriusi, mestinya awal yang baik mestilah dari sentrum kekuasaan dan dipastikan itu pun sudah menyejarah. Ini memang semacam kebiasaan khas Kemendagri yang ributnya banyak soal-soal tak substantif. Katakanlah meributkan pilkada langsung yang dinyatakan buruk. Padahal semua pilihan langsung di Indonesia sama-sama punya andil buruk dan tak pernah dinilai secara adil yang mana paling destruktif. Korupsi di daerah dianggap sangat berbahaya. Padahal semua berasal dari peradaban yang dibangun Jakarta. Kedwitunggalan kepala daerah didambakan, padahal kedwitunggalan pemimpin tertinggi tak dianggap menjadi contoh nasional. Jadi tidak ada yang mengkhawatirkan. Karena itu semestinya bolehlah tidur dengan nyenyak.

Memastikan Sesuatu Lewat PD. Tetapi, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kemelut yang sedang melanda Partai Demokrat, melalui Kongres Luar Biasa (KLB) di Bali, dugaan-dugaan sebelumnya dari berbagai pihak tentang keniscayaan unik memang terbukti. Sabtu petang seorang politisi Indonesia yang sudah menapaki puncak karir dan berhasil menduduki kursi kepresidenan selama dua periode, telah berhasil meraih jabatan Ketua Umum sebuah partai (Partai Deokrat) yang didirikannya sendiri.

Sebelumnya Ketum lama Anas Urbaningrum telah mengundurkan diri. Dari pengunduran diriannya tersiarlah berita perlawanan yang belum usai. Memang, jika disimak dari urutan kedudukan, sebagai pemimpin yang memimpin diri sendiri, dan posisinya sudah berada di atas, kini ia turun lagi. Tentu turun ke bawah. Sayang sekali. Orang sangat faham bahwa siapa pun yang menjadi Ketum Partai Demokrat selain SBY selama ini tidaklah boleh berbuat tanpa kendali SBY. Jabatan-jabatan yang disediakan untuk SBY dalam partai itu sangat powerfull.Barangkali, seperti biasanya, “hanya Ruhut Sitompul” yang bisa dengan baik menjelaskan tentang bosnya (SBY) ini. Bayangkan, sudah menjadi presiden dua periode, kini ia sekaligus memiliki 4 jabatan tertinggi di partainya yakni Ketua Dewan Pembina, Ketua Dewan Kehormatan, Ketua Majelis Tinggi, sekarang ditambah dengan Ketua Umum. Padahal anaknya Ibas sudah menjadi Sekjen.

Ini bukan cuma menunjukkan partai demokrat itu tidak bersedia membangun tradisi demokrasi yang luhur. Sekaligus SBY ingin menjelaskan kepada publik Indonesia, “Wahai rakyat, Partai Keluarga Kami” ini selain memiliki aturan tertulis juga memiliki aturan tak tertulis. Jika kalian ingin seperti saya sangat berkuasa, maka bikin partai kalian”. Di balik semua itu sangat tergoda untuk bertanya. Gerangan apa yang menyebabkan SBY turun kelas sekaligus seperti menentang ucapan sendiri yang pernah melarang keras para menteri yang sibuk mengurusi partai (tentu bukan Partai Demokrat).

Ada apa di balik semua ini sehingga terlukiskan bahwa kaderisasi di Partai Demokrat telah gagal dan karenanya SBY yang harus menjadi Ketum. Jika hanya untuk menandatangani calon legislative, tentulah itu sesuatu yang sangat rendah. Karena apa pun bisa distir SBY dari semua jabatan yang ada padanya di luar jabatan baru Ketum.

Jelas ada yang dikhawatirkan SBY. Tetapi itu? Tentu hanya dapat ditebak-tebak. Pertama, khawatir setelah pensiun arah politik Indonesia berbalik memusuhinya. Berbagai kasus seperti Century dan kasus-kasus lain bisa ditagih kepadanya setelah nanti tak lagi berkuasa. Kedua, tentulah penguasaan eksekutif harus diawali penguasaan legislatif. Karena itulah Anas harus segera didepak. Karena jika Anas mendesign formasi caleg, maka itu berarti Anas bisa lebih berkuasa dari SBY yang sudah pensiun. Ketiga, anaknya meski sudah menjadi Sekjen, tetap saja dianggap belum dewasa. Keempat, siapa yang akan menjadi presiden usungan partainya nanti tak boleh yang lain kecuali yang diinginkannya SBY. Betul tidak ya?

Penutup. Anas yang diliput media berada di Bali menyatakan ia tak relevan diundang ke KLB. Setengah bercanda ia bilang “jika saya ada nanti malah KLB-nya nggak jadi”. Dari daerah digambarkan adanya desakan yang meminta SBY menjadi Ketum. Itu berbau sangat gaya lama. Padahal beredar kabar ia memarahi Marzuki Alie yang dianggap bermanuver menjelang KLB.

Satu pertanyaan lagi tentang konflik internal. Apakah dengan sendirinya sirna? Secara formal tentu saja. Tetapi, apa pun bentuknya kelak, sebuah pertanyaan sangat penting tak mungkin tak muncul di benak: Apa seburuk itu tingkat kemajuan berfikir seluruh petinggi Partai Demokrat? Orang-orang cerdas di partai ini saya kira merasa malu juga dengan perangkapan 4 jabatan itu dan arah partai dengan perubahan seolah menjadi partai keluarga.

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Medan Bisnis, Senin 1 April 2013, hlm 2
Advertisements

1 Comment

  1. Amri Munthe says:

    Saya sependapat…

    Itu realita bahwa saat ini Partai Demokrat telah menjadi partai keluarga Cikeas.

    Fokus utamanya memang bagaimana mengantisipasi serangan pasca kekuasaan di tahun 2014. Sekuat tenaga diatur agar orang-orang yang duduk di legislatif adalah orang-orang yang commited dengan pembelaan akan kebenaran rezim SBY di masa lalunya. Bahkan kalau bisa, penguasa berikutnya haruslah dari PD atau partai koalisinya sehingga akan sempurna upaya penutupan berbagai gugatan atas kesalahan-kesalahan di masa berkuasa.

    Nah, untuk mewujudkan itu haruslah dicari format baru pencarian dana untuk pemenangan Pemilu 2014. Mari mewaspadai kebocoran-kebocoran kas negara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: