'nBASIS

Home » ARTIKEL » PARA DEVIANT

PARA DEVIANT

AKSES

  • 512,316 KALI

ARSIP


Note

Memang, dalam arus “menjual diri” ini Indonesia memiliki keasyikan tersendiri dalam bernativisasi ria. Banyak jenis kebudayaan yang tertolak di masa lalu pun dan sudah ditinggalkan dengan lapang dada, dibangkitkan kembali sekadar untuk memperoleh recehan. Juga simplifikasi tertentu yang mereduksi nilai dalam jenis-jenis pertunjukan seperti “tortor” yang disimpangkan untuk menggarap uang secara tidak terhormat dari pengunjung sebuah perhelatan. Kepada turis asing pun suguhan halfdone (setengah jadi) dari sebuah kebudayaan spesifik lokal sering dilakukan, terutama di wilayah turisme seperti Bali.

Fungsi manifes (manifest function) dan fungsi laten (latent function) adalah dua konsep ilmiah sosial yang untuk pertamakalinya digunakan dalam sosiologi oleh Robert K. Merton. Ia bermaksud mempertajam perangkat pemahaman dalam analisis fungsional. Mengapa orang yang dikukuhkan sebagai penegak hukum justru ditemukan berada dalam posisi penting penerabasan hukum dan ia tidak bisa beranjak seinci pun dari posisi itu?

Mengapa orang yang dilegitimasi sebagai pemimpin spiritual yang sakral, lengkap dengan atribut-atribut penghargaan untuk itu, justru bergelimang dosa-dosa besar yang orang jahat jalanan paling kasar sekalipun tak sudi melakukannya? Mengapa sebuah pemerintahan yang mestinya memberi perlindungan masyarakat justru bertindak sebagai jaringan kelompok yang terstruktur dan sistematis menguasai seluruh sumberdaya untuk diri dan kelompoknya itu?

Contoh-contoh dan pertanyaan seperti itulah yang muncul dalam benak Robert K Merton dan lalu berusaha menjelaskannya. Para pengikut di belakang Robert K Merton cukup banyak. Mereka berfikir lebih operasional, sesuai dengan fakta-fakta sosial yang dihadapi dalam hidup keseharian. Ada sesuatu yang selalu potensil salah (disimpangkan) dalam fungsi setiap institusi. Itu harus dibongkar. Jangan percaya apa katanya tentang dirinya, tetapi periksalah apa yang dilakoninya dalam menjalankan fungsinya itu. Karena itu, dalam perspektif lain Robert K Merton sebetulnya mengajak ke sebuah telaah sosiologi kejujuran. Dalam memetakan kejujuran itu, ia pun dengan tanpa maksud menyakiti siapa-siapa, juga berfikir kritis dan malah subversif. Baginya justru itulah tugas sosiologi di permukaan bumi ini.

Manifest dan Latent. Semua fenomena yang ada di permukaan bumi ini memiliki fungsi. Sekali fungsi sebuah institusi sirna, ia sendiri akan hilang sama sekali dan berakhir menjadi kenangan. Ingat bagaimana kesenian daerah Tumba tak lagi dikenal luas oleh generasi terbaru di Pahae, kecuali sekadar dikisahkan dalam nyanyian nostalgik mendayu-dayu para pendendang yang mungkin sama sekali tidak tahu lagi Tumba. Karena Pahae tidak termasuk wilayah turis, maka nasib Tumba pun tidak seberuntung Koteka yang masih beroleh masa perpanjangan hidup (meski sebuah pengabadian noktah keterbelakangan) karena pemerintah lokal memerlukannya sebagai paket suguhan untuk turis asing. Memang, dalam arus “menjual diri” ini Indonesia memiliki keasyikan tersendiri dalam bernativisasi ria. Banyak jenis kebudayaan yang tertolak di masa lalu pun dan sudah ditinggalkan dengan lapang dada, dibangkitkan kembali sekadar untuk memperoleh recehan. Juga simplifikasi tertentu yang mereduksi nilai dalam jenis-jenis pertunjukan seperti “tortor” yang disimpangkan untuk menggarap uang secara tidak terhormat dari pengunjung sebuah perhelatan. Kepada turis asing pun suguhan halfdone (setengah jadi) dari sebuah kebudayaan spesifik lokal sering dilakukan, terutama di wilayah turisme seperti Bali.

Sama halnya dengan upacara kematian Bailau masyarakat di sekitar Pariaman, Sumatera Barat yang hanya tersisa sebagai perbincangan akademis di antara para pengamat dan pegiat budaya, banyak jenis kebudayaan telah kehilangan fungsi dan tinggal kenangan. Tetapi “Kethoprak Dor” itu berbeda. “Kethoprak Dor” yang ada di Sumatera Utara memanglah berasal dari Kethoprak yang dikenal di Jawa. Tetapi dengan tambahan “Dor” itu diperoleh penjelasan tentang sebuah modifikasi yang telah terjadi atas nama ignorance ketimbang unsur lain berupa modifikasi adaptif. “Jawa asli” akan merasa aneh dengan “Kethoprak Dor” yang bagi “Jawa Perantauan” Deli dianggap sebuah keaslian leluhur. Artinya sebuah institusi bisa juga berlangsung dalam dua tafsir berbeda di antara komunitas yang berbeda ruang.  Anda tentu masih bisa membayangkan sebagai apa tortor bagi Indonesia yang protes ketika kebudayaan itu diklaim sebagai kekayaan budaya komunitas tertentu sebuah bangsa di Malaysia?  Dengan cara berfikir seperti itu di Suriname pun orang akan Anda temukan menjadi lawan Indonesia, karena di sana orang yang bukan Indonesia mengaku bahasanya adalah Jawa dan Wayang menjadi salah satu kebudayaan asli leluhurnya. Anda bisa dengan naif melawan mereka.

Di luar contoh-contoh singkat di atas, bagi analisis Robert K Merton fungsi itu memiliki dua dimensi. Dimensi pertama ialah kesesuaian antara maksud dan harapan (manifest). Jadi jika hukum dibentuk untuk menjamin tertib sosial di tengah masyarakat, maka  produknya adalah realitas sosial yang tertib, dalam kondisi semua pihak menjunjung tinggi hukum dan penerapannya yang adil dan tanpa pandang bulu. Dalam potret seperti itu hukum menopang kehidupan dan pantang menyerah terhadap kezaliman.

Dimensi kedua ialah ketika sebuah institusi disimpangkan secara berbeda dari maksud dan tujuannya yang diakui dan disahkan (latent). Ketika masyarakat secara tak ragu memberi akronim sinis terhadap Sumut sebagai “Semua Urusan Mesti Uang Tunai”, atau KUHP sebagai “Kasih Uang Habis Perkara”, atau DPR sebagai “Dewan Pemeras Rakyat”, dan lain-lain, sebetulnya rakyat sedang berbicara serius tentang penyimpangan fungsi (malfunction). Memang tidak semua yang dicita-citakan bisa tercapai. Tetapi jika semua yang dicita-citakan hanya dapat dicapai dan atau dipaksakan telah dicapai oleh kekuatan retorika dan wacana,  serta rumus-rumus baru berbau neoliberalisasi, sebuah masalah besar sedang terjadi.

Disfungsi Peter L Berger sampai berucap “rumah sakit kini mungkin hanyalah sebuah institusi yang disahkan untuk memberi tanggungjawab atas kesehatan komunitas tetapi pada praktiknya tak lebih dari institusi yang seolah-olah sangat dipentingkan oleh seluruh komponen masyarakat hanya untuk tujuan laten memelihara status istimewa para dokter lokal dan  jaringan farmakologi internasional kapitalistik yang menjadikannya sebagai mesin uang”.

Apa yang Anda simpulkan ketika menemukan harga sebuah komoditas yang dipublikasi oleh media resmi jauh lebih kecil dibanding harga traksaksional berlaku di pasar? Tuhan manalagi yang mestinya Anda cari dan temukan jika tuhan yang diajarkan oleh para pemimpin keagamaan yang Anda hormati dan bangga-banggakan tidak bisa menjawab sedikit pun tentang hilangnya uang rakyat di tangan para penyelenggara pemerintahan yang berpancasila dan yang salah satu silanya berporos kuat pada tauhid?

Raja-raja kecil di daerah sebagai fakta baru yang muncul dari otonomi daerah adalah bentuk lain dari disfungsi yang membedakan antara harapan dan kenyataan. Definisi resmi otonomi daerah yang dinyatakan sebagai cita-cita dan disahkan oleh perundang-undangan nyata-nyata telah disimpnagkan untuk korupsi dan penyelewengan politik yang tiada terperikan. Secara berkala badan pemerintah seperti BPS selalu memberi keterangan kuantitatif tentang keberadaan masyarakat. Katakanlah ketika ia berbicara tentang kemiskinan. Apa yang dikukuhkannya sebagai miskin ternyata sangat berbeda dari kenyataan. Begitu juga ketika ia berbicara tentang keamanan, kekayaan, pembangunan, keadilan, dan lain-lain. Semua abu-abu untuk tak mengatakan bohong.

Penutup Ketika pemimpin tertinggi sebuah Negara berbicara tentang kesejahteraan, berilah ia kesempatan yang panjang untuk mengulanginya sampai ia puas jika Anda memang tidak hendak memperbaiki keadaan dan menjadikan harapan menjadi nyata bagi masyarakat.   Makin banyak orang yang berkeinginan memperpanjang barisan pendukung gagasan ini, pasti akan semakin menjauhkan harapan dan kenyataan.

Ketika berdasarkan pengalaman empirisnya yang menyedihkan di berbagai kota kelompok band Slank ingin mengugat fasal kewenangan kepolisian dalam memberi atau tidak memberi izin keramaian seperti pertunjukan musik, sebetulnya mereka sedang berusaha menolong Indonesia. Mereka ingin fungsi-fungsi latent dan semua institusi sama dengan sebangun dengan fungsi-fungsi manifestnya. Itu artinya hidup dalam kedamaian, tanpa pencederaan, tanpa manipulasi dan tanpa saling memangsa. Saya yakin ketika akhirnya mereka menarik gugatan itu dari agenda MK, sesuatu telah dikompromikan.

Para deviant (pelaku penyimpangan) berada di semua bentuk penyelewengan fungsi institusi. Bagaimana meminta pertanggungjawaban mereka?

Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian WASPADA, Medan, Senin 1 April 2013, hlm B5


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: