'nBASIS

Home » ARTIKEL » NASEHAT SI MISKIN

NASEHAT SI MISKIN

AKSES

  • 564,825 KALI

ARSIP


IMG_4078

Ketika saya jepret objek ini, beberapa teman menertawai saya. Mereka bilang saya sudah stres. Saya diam saja. Banyak interpretasi tentang objek ini yang bisa menganalogikan Indonesia kontemporer. Karena itu, pagi ini, saya upload (lagi) pada akun facebook saya dengan membubuhkan catatan “Wahai Indonesiaku tercinta. Kuberharap dikau seteguh dan sebangga si kueh hijau daun. Meskipun diapit oleh dua “kuweh plastik”, dan tak perlu gembar-gembor berwacana, kau tetap bangga dan percaya diri. Majulah Indonesiaku”

Beberapa hari lalu saya buat sejumlah status di bawah judul seri “Nasehat Si Miskin Kepada Putera-Puterinya”. Seseorang heran dan merasa perlu bertanya melalui inbox: “abang sedang marah ya?” Padahal saya sedang mendalami berbagai kajian tentang gerakan sosial (social movement), relative deprivation dan kemiskinan. Buku-buku seperti karya Ted Robert Gurr (Why men rebell) dan Mahbub Ul-haq (poverty curtain) serta beberapa laporan jurnal sedang saya telaah. Juga tidak ketinggalan tentang sistem politik dan pembangunan. Termasuk di antaranya buku saya yang baru terbit “Percakapan Petruk, Gareng dan Semar” yang menceritakan banyak hal berdasarkan perspektif Robert Dahl.

Semua status itu saya petik kembali di sini dengan hanya memperbaiki kesalahan ketik akibat keterburu-buruan saat ditayang. Inilah dia.

  1.  Sekiranya udara harus dibeli, sudah lama kita mati. Kita tak mungkin membayangkan membeli taraf hidup, apalagi kekuasaan. Tetaplah berdoa agar tidak ada undang-undang yang mengharuskan kita membayar udara yang kita hirup.
  2. Dang na turpukta hamoraon, amang. But keep never make it pandelean.
  3. Na bisuk nampuna hata, na oto tu panggadisan. Jadi mengapa kita menerima nasib sebagai na oto and bittot van de longas.
  4. Hukum beserta sistem tak menampung keluhan kita. Karena perdagangan hukum dan politik tak mungkin kita campuri. Itu dunia mereka bersama setan.
  5. Terkadang susah dan senang itu cuma masalah persepsi dan pemaknaan subjektif. Kalau begitu bayangkan saja telah lahir jutawan baru yang tak perlu memangsa manusia lain: itu kau.
  6. Kau tentu tahu negara itu dibangun untuk melindungi rakyatnya. Tetapi dalam perjalanan sejarah telah terjadi perubahan makna rakyat. Kini rakyat adalah warga negara minus si miskin seperti kita.
  7. Kami, bangsa Indonesia. Begitulah katanya membuka kalimat proklamasi itu. Tetapi kini yang ada bukan “kami” lagi. Hanya tersisa “kita” (miskin) dan “mereka” (kaya). Tetapi, jangan kau mendegradasikan nasionalismemu karena ulah para pembajak itu ya.
  8. Kita ini memiliki subsidi besar bagi orang kaya. selain itu, kita kerap menjadi komoditi bagi para politisi dan para pemimpin negara. Mereka berulangkali menjual kita. Karena itu panjatlah statusmu agar tak menjadi komoditi (lagi).
  9. Ada tirai yang memisahkan kita yang mayoritas (miskin) dengan mereka (kaya). Ini bukan salah takdir. Ini bukan salah ibu mengandung.
  10. Orang-orang pintar itu tahu masalahnya, yakni kemiskinan struktural. Tetapi orang-orang pintar itu tak tahu harus berbuat apa. Meski batin kita menjerit tak bersuara, orang-orang pintar itu pun tahu. Tetapi mereka tak bisa memaksa para Namruz.
  11. Sekolah dan pendidikan itu mahal. Itu sebabnya Indonesia sejak awal reformasi menetapkan dalam UUD-nya patokan biaya pendidikan 20 % dari APBD dan APBN. Tetapi, itu semua sudah bagus meski ternyata belum untuk kita. Kita sekolah di alam terbuka saja. Bak kata orang Minang: “Baguru jo alam“.
  12. Ini tentang pewaris bangsa. Siapakah menurut kalian pewaris itu? Tentu bukan yang tinggal di kolong jembatan. Jadi siapa? Apakah mereka yang sejak awal sudah disosialisasikan cara memangsa dan menerabas hukum dan dilindungi dengan berbagai macam model pendidikan dan segenap pengkastaannya?  Menurut kalian sekolah yang tak beratap itu bukan untuk para pewaris?
  13. Di Aceh sudah naik bendera baru. Nanti yang akan merasakan akibatnya pastilah rakyat seperti kita. Berdoalah agar semua pemimpin makin soleh, makin sabar, makin amanah dan makin adil.
  14. Jika miskin itu sebuah takdir, maka pantangkalah berdoa, pasrahkan saja bahwa Tuhan itu seperti itu. Tetapi jika kau yakin takdir itu bisa “kau rubah”, rubahlah sendiri dengan tanganmu. Jangan minta perubahan kepada King of Corruptor.
  15. Menurutmu siapa yang paling pandai bercerita tentang kemiskinan? Apakah sekjen PBB? Apakah para Presiden seperti Obama? Apakah pentolan LSM seperti si…? Apakah orang miskin yang tak sadar selalu diceritkan di hotel-hotel berbintang dan berbiaya mahal?
  16. Bob Dylan. Sesekali coba dengarkan dan nikmatilah alunan lagunya. Ia orang paling sabar. Tetapi dengan semua omong kosong yang didengarnya dari semua pembijaksana setiap masa, ia pun berdendang. Semua pertanyaan kemanusiaan tak pernah berjawab. Bob Dylan seolah dengan frustrasi berkata “The answer is blowing in the wind” [jawaban hanya ada pada angin lalu]. Mungkin sama, dari Indonesia Ebiet G Ade berkata “tanya pada rumput bergoyang”.  Eh, jangan lupa. Indonesia ini masih milikmu, jangan biarkan dikuasasi orang asing yang menyebabkan kemiskinanmu terparah.
  17. Apa kau kira dengan membubuhkan jempol dan memberi “like” tugasmu sudah selesai? Doamu belum kesampaikan. Lagi pula untuk apa kau berdoa jika kulit bahumu belum terkelupas, dan jika tanganmu masih belum kau hembatkan dan kepalamu belum kau sundulkan dan kakimu belum kau tendangkan dan lidahmu makin lama ternyata makin “memendek” di dalam kuluman mulut bisumu yang terkatup? Ukur luas laut dan kedalamannya. Bentangkan garis merah di angkasa. Runtuhkan semua tembok yang Iwan Fals bilang kepadamu tempo hari. Kau tak jadi apa-apa jika cuma akan berexctacy dalam alunan irama Iwan Fals. Kau harus lebih progresif dari dia.
  18. Apa menurutmu sebagai budak di masa lalu orang-orang dari Afrika tidak mempunyai andil besar untuk perdaban dan ilmu pengatahuan? Kau belum separah budak Afrika masa lalu itu. Tegakkan kepalamu.

Saya tak bermaksud mencantumkan semua komentar terhadap status dengan seri “Nasehat Si Miskin Kepada Putera-Puterinya” di sini. Itu tidak berarti saya tidak merasa behutang budi. Saya berhutang budi, dan ingin tulus mengucapkan terimakasih bahkan kepada yang hanya memberi jempol atau bahkan hanya membaca dengan tanpa memberi kesan apa-apa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: