'nBASIS

Home » ARTIKEL » AKAN ADA AMANDEMEN KELIMA UUD 1945?

AKAN ADA AMANDEMEN KELIMA UUD 1945?

AKSES

  • 512,968 KALI

ARSIP


644237_4551311502804_804144515_n
Sabtu pagi, pekan lalu, sebelum berangkat memenuhi undangan sebagai nara sumber pada Focus Group Discussion (FGD) tentang Urgensi Perubahan Kelima UUD 1945, saya menyempatkan diri membuat status pada akun facebook saya. Saya bermaksud mendapatkan masukan dari teman-teman tentang topik yang dibahas di Rahmat Galery Medan, oleh DPD RI bekerjasama dengan Yayasan  Rahmat Indonesia. Status saya singkat “Amandemen kelima UUD 1945. Apa yg mengganjal dalam pikiran?”
Undang-undang Dasar Tahun 1945 (UUD 1945), konstitusi kita yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 itu, sejak lama diperbincangkan lagi, terutama di antara para ahli dan elit politik. Ada desakan yang cukup kuat untuk mengamandemen (merubah) kembali. Kita mencatat konstitusi kita sudah diamandemen sebanyak 4 (empat) kali.Meskipun dalam naskah akademik Usulan Perubahan Komprehensif disebutkan bahwa pada jajak pendapat Lembaga Survei Indonesia (LSI) bulan Juli 2007 diperdapat data dukungan rakyat kepada agenda perubahan konstitusi dengan angka signifikan (73%), tetapi dalam pendapat yang diberikan oleh pemberi komentar pada status pada facebook saya, tampaknya ada hal yang berbeda. Juga jika saya bandingkan dengan pendapat para peserta dalam FGD.Yang saya simpulkan sebetulnya mereka tidak familiar terhadap DPD dan masalah-masalahnya. Apalagi bila dikaitkan dengan masalah kenegaraan dan sistem politik, misalnya tentang keinginan memperkuat wewenang DPD, utamanya dalam hal legislasi.Kembali ke yang Asli? Dalam diskusi itu ada yang berpendapat, amandemen itu tidak perlu, dan menginginkan kembali saja ke yang asli. Untuk usul yang lebih didasarkan kepada pengalaman empiris yang tidak menggembirakan pasca amandemen UUD, terdapat bandingan dengan mengingatkan UUD 1945 itu bukan sesuatu yang sakral. Bagi pemberi bandingan ini konstitusi Negara harus responsif atas perubahan.Pada diskusi itu, seseorang memberi pandangan cukup dalam. Menurutnya, persoalan utama negara ini bukannya terletak pada UUD-nya. Karena tak akan mungkin bisa dihasilkan UUD yang tidak multitafsir. Bangsa ini cuma tidak memiliki pemimpin yang amanah, yang benar-benar ingin memajukan negara ini. Apapun ideologinya, bentuk negara, maupun UUD-nya tidak menentukan kemajuan sebuah bangsa.

Kalau pemimpinnya mau berbuat dan bertindak demi kemajuan bangsa, maka selesailah sudah semua persoalan. Lihat saja China yang komunis, Singapura yang otoriter terselubung, Amerika yang demokrasi dan Jepang yang kerajaan, bukan hambatan mencapai kemajuan. Kemajuan sebuah bangsa terletak pada siapa pemimpinnya.

Pendapat yang bernada elitis itu mendapat tanggapan dari seseorang yang populis, demikian: Hal yang paling utama adalah pembudayaan karakter bangsa. Semua negara yang maju memilikinya, namun kelihatannya kita minim dalam hal itu. Minim etika, padahal hal itu adalah sebagai prinsip dasar hidup dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kejujuran dan integritas sangat rendah. Bangsa ini juga disebutnya memiliki kadar kebertanggung jawaban yang rendah.

Perhatikanlah aspek kehormatan anak bangsa pada aturan dan hukum di tengah masyarakat, mungkin sebanding dengan kadar hormat pada hak orang lain yang demikian rendah. Aspek lain tentulah terkait dengan cinta pada profesi dan etos berusaha keras untuk menabung dan investasi. Ketika sebuah bangsa membudayakan kemauan bekerja keras dan penghargaan yang tinggi terhadap waktu, maka kemajuan suatu bangsa tidak menjadi sesuatu yang hayali.

Intervensi Asing. Pada diskusi itu, seseorang mengingatkan lagi untuk kembali ke UUD 1945 yang asli. Dia memberi tanda seru empat kali di akhir kalimat. Tetapi hal yang paling menarik ialah, saat seseorang mengingatkan gagasan awal perubahan itu justru rawan intervensi asing. “Sekedar share pemikiran, ada upaya dan intervensi pihak luar (asing) dalam bentuk dugaan penyuapan, agar kembali dilakukan amandemen UUD 1945 yang sudah beberapa kali diamandemen. Tujuannya tentu agar bisa masuk orang asing ataupun paham asing”.

Terhadap pendapat yang mewaspadai intervensi asing, seseorang mengutarakan bandingan: Faktanya Indonesia sudah dikuasai asing sejak berabad-abad yang lalu. Meskipun Indonesia merdeka dan mempunyai UU sendiri. tetap saja dikuasai asing. Lihat saja tambang minyak yang telah dikuasai asing, Pertamina cuma secuil bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan bangsanya sendiri.

Bangsa ini sudah biasa “dikadalin” bukan oleh asing, melainkan oleh para pemimpin bangsanya sendiri.  Ia juga pesimis. Katanya, percuma saja UUD-nya bagus kalau pemimpinnya “kadal”. Ia sangat sadar suatu bangsa dan Negara dalam dunia global dan maju begitu pesat, tidak mungkin tidak bergantung sesama. Persoalannya adalah, kita harus mengelolanya agar menjadi keuntung bagi bangsa. Tak ada negara di dunia ini bisa hidup sendiri.

Penutup. Menyikapi keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) 27 Maret 2013 terkait penegasan dan penafsiran pasal-pasal UU Nomor 27 tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD serta UU Nomor 12 tahun 2011 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan mekanisme legislasi, DPD RI langsung membentuk langkah-langkah taktis. Ada 9 langkah yang akan dilakukan pasca putusan MK, di antaranya Pembentukan Tim Kerja Bersama DPR dan DPD untuk membahas mekanisme kerja penyusunan legislasi.

Terlepas apa kata para ahli hukum (tata Negara) dan para elit politik tentang pokok pikiran yang perlu diapresiasi untuk tindakan amandemen kelima UUD 1945, bagi saya hal terpenting ialah bagaimana semua ini bisa menjadi jaminan kesejahteraan lebih baik bagi warga Negara.

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Medan Bisnis, Senin 15 April 2013, hlm 2


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: