'nBASIS

Home » ARTIKEL » KELUHAN ORANG MISKIN

KELUHAN ORANG MISKIN

AKSES

  • 512,716 KALI

ARSIP


illustrasi medbis

illustrasi medbis

Ada sebuah konsep yang lazim digunakan beberapa cabang ilmu sosial, terutama sosiologi, politik dan psikologi  sosial. Konsep itu disebut relative deprivation (RD). Konsep ini kemudian dianggap menjadi salah satu penjelasan memadai tentang mengapa selalu muncul social movement (gerakan sosial). Pemerintah yang peka (sensitif dan responsif) akan selalu bersedia mempelajari dan memahami ketidakpuasan yang berkembang di tengah masyarakat, dan itu bukan semata-mata karena takut digulingkan.

Konstruk RD pertama diungkapkan Stouffer dan rekan-rekannya tahun 1949 yang memberi pembuktian akademis atas pertanyaan “mengapa tentara Amerika beretnis asal Afrika yang ditempatkan di Amerika Serikat bagian selatan, lebih puas dibanding yang ditempatkan di utara selama Perang Dunia II”. Popularitas selama lebih dari setengah abad penerapan teori ini mencerminkan manfaat untuk menjelaskan berbagai paradoks yang terjadi di tengah kehidupan masyarakat.

Pendapat itu muncul sebagai pengakuan dari Tyler, Boeckmann, Smith, & Huo (1997). Miller, Bolce & Halligan (1977) juga menggunakan teori RD saat mempertanyakan mengapa pada tahun 1960 kerusuhan perkotaan di Amerika Serikat terjadi. Crosby (1982) bergerak ke sudut lain, yakni dengan sebuah pertanyaan mengapa perempuan yang tidak bekerja pada umumnya lebih pemarah dibanding rekan-rekan pria mereka yang berpenghasilan kurang.

Sebuah buku yang merangkum banyak paparan kasus tentang RD diterbitkan tahun 1970 oleh Sylvia L thrupp. Buku ini begitu lengkap mencatat berbagai jenis pemberontakan dan perlawanan berbasis ideologi keagamaan, dari masa ke masa.  Anatomi yang begitu jelas digambarkan dari semua kasus yang termuat dalam buku ini, memberi ketegasan bahwa studi gerakan keagamaan revolusioner begitu penting dipahami dalam kaitannya dengan pertanyaan bagaimana mereka memahami diri sendiri dan perlakuan buruk orang (bangsa) lain serta tindakan apa yang mereka wujudkan setelah itu. Pesan terpenting dari buku itu tentulah pesan keadilan dan damai. Bagaimana umat sedunia yang hidup di bawah langit dan matahari yang sama, meski beda iklim, suku dan kebangsaan.

Perampasan atas Hak. RD adalah sebuah fakta sosiologis dan psikologis yang berwujud karena kesadaran atas berbedanya harapan dan kenyataan. Dalam hidup ini setiap orang, setiap kelompok, setiap masyarakat dan setiap negara, selalu memiliki nilai-nilai harapan (value of expectation), di samping nilai-nilai kemampuan (value of capability).  Jika harapan itu dianggap begitu wajar, akan tetapi selalu saja tidak dapat terpenuhi, maka timbullah perasaan keterampasan. Apalagi usaha dan perjuangan untuk meraih harapan itu sudah dianggap tak lagi memadai jika dengan usaha normal.

Itulah inti konsep RD.Setiap orang, setiap kelompok, setiap masyarakat dan setiap negara, pada akhirnya tahu apa yang menghalangi mereka dalam berusaha memperjuangkan harapan mereka untuk hidup (sejahtera) sesuai perkembangan nilai-nilai kemajuan. Mereka akan berusaha mengenali itu, dan memposisikannya sebagai musuh. Tetapi sudah barang tentu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan musykil tentang ketidaklayakan keperiadaan hidup (kondisi objektif) akan selalu tergantung pada sub-perbandingan subjektif.

Misalnya, ketika orang berfikir bahwa di Pulau Jawa jembatan banyak sekali meski sungainya tidak ada, sedang di tempat kita banyak sekali sungai yang mestinya dibangunkan jembatan namun tak pernah diwujudkan (objektif), karena memang kita di sini adalah warga negara kelas dua (subjektif). Jalan di provinsi kita begitu buruk, sedang di Pulau Jawa dan provinsi yang berbatasan begitu bagus (objektif), adalah fakta bahwa kita dianggap bukan bagian penuh dari Indonesia (subjektif). Begitulah, bahwa dalam teori RD selalu penting perbandingan dan interpretasi atas fakta-fakta yang dapat ditandai sebagai ketidak-wajaran.

Gerakan Sosial. Dengan perubahan politik yang demikian drastis, dan dengan kekuasaan (fisik) dan persenjataan di tangan, dalam ketidakmampuan negara memberi kesejahteraan kepada para prajurit, tentulah akan selalu ada masalah di setiap negara seperti Indonesia. Dwi-fungsi ABRI sebagai masa keemasan militer secara resmi sudah diakhiri berikut dengan pemisahan dengan kepolisian. Tindakan yang bersifat tidak transparan selalu masih ada dalam hal keswadanaan ketika negara (APBN) tidak memberi budget yang cukup, terutama jika dibandingkan dengan negara lain, bahkan negara tetangga sekali pun.

Hariman Siregar dan kawan-kawan bukanlah pentolan yang bergerak di luar penguasaan psikologis keterampasan masyarakat, sehingga gerakannya yang lebih dikenal dengan MALARI 74 begitu besar dan monumental. Perasaan ketidakpuasan dan keterampasan yang demikian besar, menjadi jawaban mengapa mahasiswa dan para penggerak di balik kelompok itu bisa melakukan perubahan besar. Antara lain dengan memaksa turun Soeharto yang sudah berkuasa lebih dai 30 tahun.

Ted Robert Gurr dalam bukunya “Why Men Rebel” (1970) menjelaskan bahwa kekerasan politik bervariasi sesuai besaran dan bentuknya. Magnitudenya meliputi ruang lingkup (berapa banyak berpartisipasi), intensitas (sifat merusak), dan durasi. Formulasinya bisa meliputi tiga katagori yakni kekacauan, konspirasi, dan perang internal. Karena itu, jika pemerintah berfikir sendiri untuk kepentingan kelompok dan rezimnya, jalan untuk sebuah kekacauan besar selalu terbuka. Wacana resmi dan komunikasi melalui sosial media seperti twitter, sama sekali bukan jawaban.  Karena yang diharapkan adalah perbaikan kehidupan, karena penjelasan mengapa tak terjadi kesejahteraan sudah ditemukan (antara lain korupsi).

Shohibul Anshor Siregar. Diterbitkan pertamakali oleh Harian Medan Bisnis, Rabu 24 April 2013, hlm 2

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: