'nBASIS

Home » ARTIKEL » KETIKA RAFFI AHMAD PULANG

KETIKA RAFFI AHMAD PULANG

AKSES

  • 564,592 KALI

ARSIP


ltLesA0sTzyGxp4qW3pm5w

Raffi Ahmad, salah seorang dari sekelompok anak muda yang menjadi host sebuah acara di TV Nasional yang terkenal itu. Beberapa bulan ini ia tidak mengudara. Ia berurusan dengan hukum. Meski bagi saya sendiri sejuta pertanyaan atas kasus yang dituduhkan oleh BNN kepadanya, tetapi rasanya cukuplah yang cukup, sudahlah yang sudah.

Pagi ini dia hadir, di luar pengetahuan kerabat kerjanya. Olga menangis tersedu. Tersedu. Kemudian memberi nasehat. Sangat bagus nasehat itu dan malah menuntun Raffi untuk meminta maaf kepada publik dan membuat janji untuk lebih baik. Semua haru. Ibu Raffi ikut didaulat berbicara. Dan mereka pun bernyanyi. Memberi dorongan kepada Raffi Ahmad.

Saya sendiri tidak termasuk penggemar acara asuhan Raffi Ahmad cs ini. Tetapi setelah terjadi masalah terhadapnya, saya benar-benar serius mengikuti pemberitaannya. Janggal saya rasa. Janggal saya rasa. Janggal saya rasa. Tetapi itulah. Banyak kejanggalan di negeri ini. Melebihi pula kejanggalan hukum yang ditimpakan kepada Antasari Azhar. Juga Munir yang tak tertolong, dan, dan, dan, dan…

Wellcome home, Raffi Ahmad. Kau buatlah dunia semakin mengerti bahwa yang sudah baik pun harus dibuat lebih baik.

**********

Wartakan kita masih perlukan Indonesia. Tidak untuk berperang dengan BNN. Tetapi betulkah kita masih bisa hidup wajar sebagai masyarakat dengan tingkat 31623_620ketersediaan konsumsi narkoba yang begitu tinggi saat ini? Bagaimana gerangan menyelamatkan anak-anak muda kita yang dikepung begitu ketat oleh narkoba. Siapakah yang dapat memberi jawaban? Biarlah satu saja pengadilan untuk Raffi Ahmad. Tetapi bisakah semua peradilan narkoba berhenti karena narkobanya dihentikan peredarannya di Indonesia? Agar tak ada lagi peradilan narkoba. Agar tak ada lagi yang mati sia-sia untuk narkoba. Agar tak ada lagi yang hidupnya terlunta-lunta untuk narkoba, baik karena harus berumah di kantor-kantor polisi, rumah-rumah tahanan kejaksaan dan lembaga pemasyarakatan. Agar tak ada lagi kalimat-kalimat kaku yang naif yang seperti slogan yang berpura-pura berseru “Say No to Drugs”, padahal …….

Tolonglah jangan ada yang merasa beruntung dengan angka statistik meningkat dalam kasus apalagi konsumsi narkoba. Agaknya hukum itu harus dicari saat ini, digali dan dibuat serius agar ia dapat serius. Seserius seorang ibu mengandung dan melahirkan serta merawat dan membesarkan anak-anaknya. Untuk apa seorang ibu ini hamil 9 bulan dan melahirkan dengan perjuangan bertaruh nyawa dan kemudian bersusah payah merawat bayi yang dilahirkannya jika kemudian nasibnya disepelekan oleh narkoba yang diwadahi oleh negara yang destruktif memusuhi ibu yang luhur untuk pertiwi ini?

Jika harus tak ada lagi air mata yang akan mengalir karena manusia sudah sama dengan sampah karena atas nama narkoba pasal-pasal hukum dipalukan kepada mata bathin dan eksistensi kemanusiaan mereka, sebuah kolektivitas hidup bernama Indonesia sebetulnya sudah kiamat.

Teman-teman, bapak-bapak, ibu-ibu. Kita tolong Indonesia kita ini. Kan masih kita perlukan Indonesia ini?

**********

941504_4642009090187_736671647_n

Duka seorang ibu. Ia ingin tak seorang pun tahu berapa banyak air matanya bercucuran. Ia tak mau dikesankan rapuh oleh setiap orang yang melihat dan menyapanya. Bahasanya jelas. Tuntutannya jelas: “kembalikan anakku. Dialah ibu Raffi Ahmad.

Saya tak tahu berapa jumlah ibu di Indonesia, dan Indonesia pun rasanya seakan tak perlu data itu. Jika ini pun Indonesia seolah tak memerlukan, konon lagi korban narkoba?

Berdirilah kita setegak yang mungkin. Membangun sebuah peradaban yang mulia, termasuk hukum. Bagi saya, tak seorang pun warga negara yang boleh dipermasalahkan ketika mengkonsumsi narkoba pada saat yang sama ketersediaannya begitu dijamin oleh kebobrokan sistem dan hukum. Saya berdiri pada pojok (pendirian) sepi ini. Akan banyak yang membenci saya dengan pendirian terpojok ini. Tak apa.

Setahun lalu seorang teman dari Jakarta meminta pinjaman uang kepada saya, meski tak bisa saya berikan karena saya memaang tak punya uang sebesaar yang ia perlukan. Untuk apa ia meminjam uang? Inilah penuturannya:

“Malaysia memberi perlindungan terhadap warga negaranya termasuk dari bahaya narkoba. Maka saya bertekad biarlah masa muda anak-anak saya dihabiskan sambil kuliah di negeri tetangga itu. Karena saya yakin mereka akan aman dari aspek itu. Jika pun misalnya di antara anak-anak saya itu akan ada yang kelak terjerumus, saya tak menyesalinya lagi karena memang terkadang Tuhan sengaja memberi takdir berupa ujian. Tetapi satu hal sudah jelas, segala usaha yang cukup dan baik-baik sudah optimal. Itulah keperluan saya. Berilah saya pinjaman. Agar anak-anak saya selamat”.

Itulah paparannya ketika meminta pinjaman itu. Anda tentu setuju dia. Nah. Anak-anak kita, adakah mereka dapat kita juluki sebagai pahlawan karena di tengah mudahnya akses terhadap narkoba namun mereka tak terbawa rendong kesitu? Jika itu yang terjadi, anak Anda itu seorang pahlawan. Sekaliber pahlawan yang dikukuhkan dengan surat Keputusan Presiden RI.

Jika anak Anda atau bahkan Anda ternyata belum selamat dari bahaya nasional narkoba ini, saya sekarang berposisi bertakziah. Satukan tangan-tangan kecil kita untuik menghadapi bencana nasional ini.

164169_620

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: