'nBASIS

Home » ARTIKEL » SIAPA UNTUNG DARI KONSUMSI NARKOBA?

SIAPA UNTUNG DARI KONSUMSI NARKOBA?

AKSES

  • 545,203 KALI

ARSIP


Setahun lalu, seorang teman dari Jakarta meminta pinjaman uang kepada saya. Untuk apa ia meminjam uang? Inilah penuturannya: “MALAYSIA memberi perlindungan terhadap warga negaranya termasuk dari bahaya narkoba. Maka saya bertekad, biarlah masa muda anak-anak saya dihabiskan sambil kuliah di negeri tetangga itu.

 Karena saya yakin, mereka akan aman dari aspek itu. Jika pun misalnya di antara anak-anak saya itu akan ada yang kelak terjerumus, saya tak menyesalinya lagi. Karena memang, terkadang Tuhan sengaja memberi takdir berupa ujian. Tetapi satu hal sudah jelas, segala usaha yang cukup dan baik-baik sudah optimal. Itulah keperluan saya. Berilah saya pinjaman. Agar anak-anak saya selamat dengan mengkuliahkan mereka di sana”.

Itulah paparannya ketika meminta pinjaman itu. Nah. Anak-anak kita, bukankah mereka dapat kita juluki sebagai pahlawan karena di tengah mudahnya akses terhadap narkoba namun mereka tak terbawa rendong ke situ? Jika itu yang terjadi, anak Anda itu seorang pahlawan. Sekaliber pahlawan yang dikukuhkan dengan surat keputusan Presiden RI.

Perdamaian Keji. April tahun lalu, Ketua Yayasan Kesatuan Peduli Masyarakat (Kelima) DKI Jakarta mengemukakan bahwa, jumlah pengguna narkotika dan obat terlarang di Indonesia sekitar 5 juta orang. Dengan ungkapan itu, dan dengan memakai kata “sekitar”, berarti yang dikemukakan hanyalah dugaan belaka.

Sama halnya dengan pernyataan seorang jurnalis pekan lalu yang  meminta tanggapan tentang peningkatan peran Bandara Polonia sebagai pintu masuk narkoba ke Indonesia akhir-akhir ini. Siapa yang menjadi sumber dugaan-dugaan sesat dan menyesatkan seperti ini? Tentulah para pembijaksana.

Sebetulnya yang meningkat selama ini hanyalah ketidakpedulian dan ketidakbertanggungjawaban. Itu yang menjadi titik perdamaian kita dengan narkoba. Bukan berarti kita surut dengan pernyataan-pernyataan palsu atas perang melawan narkoba itu.

Lihatlah, kita juga semakin rajin membuat pernyataan-pernyataan sloganistik seperti “say no to drugs”.

Pengguna dan pengedar, orang yang selalu aktif kampanye anti narkoba, sungguh sama-sama geli dengan pernyataan-pernyataan sloganistik seperti itu. Mengapa? Mereka sangat tahu, bahwa jika barang haram itu tersedia sangat banyak di suatu wilayah, maknanya ada kekuatan sosial yang tidak terkendali, yang kekuasaannya lebih hebat dari kekuasaan-kekuasaan yang resmi.

Ketika perdamaian semakin meningkat atas narkoba, terjadi dua hal. Pertama, reaksi-reaksi hukum konvensional yang tak maju-maju. Kedua, peningkatan alokasi belanja untuk rehabilitasi. Kerangka kelembagaan dengan segenap pemikiran yang dikembangkan ke arah itu jelas lebih menunjukkan ketidakberdayaan.

Memang terasa aneh. Enak saja mereka selalu cenderung menyalahkan masyarakat. Ini misalnya: “Kurangnya kesadaran masyarakat akan bahaya narkoba menyebabkan maraknya peredaran di Indonesia”. Masyarakat di sini lebih berkonotasi orang tua, sekolah dan semua lembaga pendidikan formal dan kelembagaan lainnya yang justru tidak memiliki kewenangan dan kebijakan apa pun mengontrol pertambahan dan pengurangan jumlah peredaran narkoba. Tetapi hal seperti itu sudah menjadi kebiasaan.

Konon pemerintah sudah mencanangkan Indonesia bebas narkoba pada 2015. Tentulah pernyataan seperti ini akan diterima penuh kontroversi. Tahun 2011, Ketua BNN Gories Mere mengakui, meskipun pengungkapan kasus narkoba cenderung meningkat dari tahun ke tahun, tetapi jumlah itu masih tergolong kecil dibanding perkiraan data konsumsi.

Itu artinya, kepandaian arah penindakan kepada para pengguna masih dianggap trend, entah apa tujuannya. Coba jika para toke-toke yang digilas, atas dasar apa pula kita mencemaskan konsumsi narkoba jika barangnya sudah tak dipasok lagi? Kalau begitu, siapa yang memperkaya diri dari uang narkoba, perlu ditelusuri dan ditegaskanlah hukum kepadanya. Tetapi masalah kita selalu di sini: hukum tetap tegak bagi wong cilik. Tidak untuk pembesar.

Kita Masih Perlukan Indonesia. Tidak untuk berperang dengan semua pihak yang mendapat penugasan secara institusional dalam pemberantasan narkoba, tetapi betulkah kita masih bisa hidup wajar sebagai warga masyarakat dengan tingkat ketersediaan narkoba yang begitu tinggi saat ini? Bagaimana gerangan menyelamatkan anak-anak muda kita yang dikepung begitu ketat oleh narkoba? Bisakah semua peradilan narkoba berhenti karena narkobanya dihentikan peredarannya? Agar tak ada lagi peradilan narkoba. Agar tak ada lagi yang mati sia-sia untuk narkoba. Agar tak ada lagi yang hidupnya terlunta-lunta untuk narkoba, baik karena harus berumah di kantor-kantor polisi, rumah-rumah tahanan kejaksaan dan lembaga pemasyarakatan.

Agaknya hukum itu harus dicari saat ini, digali dan dibuat serius. Seserius seorang ibu mengandung dan melahirkan serta merawat dan membesarkan anak-anaknya. Untuk apa seorang ibu ini hamil 9 bulan dan melahirkan dengan perjuangan bertaruh nyawa dan kemudian bersusah payah merawat bayi yang dilahirkannya jika kemudian nasibnya disepelekan oleh narkoba yang diwadahi oleh negara yang destruktif memusuhi ibu yang luhur untuk pertiwi ini?

Jika harus tak ada lagi air mata yang akan mengalir karena manusia sudah sama dengan sampah karena atas nama narkoba pasal-pasal hukum dipalukan kepada mata bathin dan eksistensi kemanusiaan mereka, sebuah kolektivitas hidup bernama Indonesia sebetulnya sudah kiamat.

Teman-teman, bapak-bapak, ibu-ibu. Kita tolong Indonesia kita ini. Kan masih kita perlukan Indonesia ini? Berdirilah kita setegak yang mungkin. Membangun sebuah peradaban yang mulia, termasuk hukum. Bagi saya, tak seorang pun warga negara yang boleh dipermasalahkan ketika mengkonsumsi narkoba pada saat yang sama ketersediaannya begitu dijamin oleh kebobrokan sistem dan hukum. Saya berdiri pada pojok (pendirian) sepi ini. Akan banyak yang membenci saya dengan pendirian terpojok ini. Tak apa.

Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Medan Bisnis, Senin, 6 Mai 2013, hlm 2

Advertisements

1 Comment

  1. […] Jadi, jika hendak memeriksa urin, dahulukan pemeriksaan atas petugas. Jika sudah clear pada bagian ini, saya kira urin siapa pun tak perlu lagi diperiksa. Masalah kita dengan narkoba otomatis selesai. (3) Klo tau, boleh lah bg dijawab sejak kapan kampung kubur menjadi trademark sarang narkoba di Medan Saya awam mengenai hal ini, dan juga banyak hanya mendengar cerita dari para jurnalis. Tetapi bagi saya tidak ada mitos di hadapan hukum. Seseram apa kampung kubur? Atau kepolisian sdh menyatakan menyerah? (4) Solusi nyata apa yg bisa membuat kampung kubur bisa terbesas dari narkoba. Pasalnya di dalam sudah sangat terang-terangan masyarakat menjual narkoba? Perilaku dan kelaziman itu tidak muncul tiba-tiba. Itulah hasil dialog dengan hukum. Jika mereka tahu hukum adalah mainan komersial, maka mari beradu keuntungan dengan narkoba. Kira-kira begitu. Jadi, tak ada solusi jika pagar tetap saja makan tanaman. (5) Tidak mungkin kan narkoba di kampung kubur dikirim dari atas pesawat, pasti ada jalur darat. Nah, kenapa kok bisa masuk terus narkoba di dalam Kampung itu. Kerja kepolisian gimana bg? Nah, pertanyaan ini semakin memperjelas kepada saya bahwa networking jahat ada di situ. Piaraan siapa? Siapa yang kaya raya dari situ. Berfikirlah untuk Indonesia. MERDEKAMERDEKA MERDEKA https://nbasis.wordpress.com/2013/10/19/narkoba/ https://nbasis.wordpress.com/2013/05/06/siapa-untung-dari-konsumsi-narkoba/ […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: