'nBASIS

Home » ARTIKEL » BANG ZAMRI MUSY

BANG ZAMRI MUSY

AKSES

  • 512,716 KALI

ARSIP


IMAGE0011

Beberapa bulan ini saya punya kesibukan yang mengharuskan saya sering ke Surabaya.  Selain itu, terkadang ada juga tugas-tugas yang mengharuskan ke luar kota. Karena itu saya merasa banyak hal terabaikan dari kewajiban yang lazim. Tulisan ini adalah naskah yang saya persiapkan untuk dijadikan sebagai Kata Pengantar sebuah buku berjudul Riwayat Hidup dan Perjuangan Zamri Musy. Ia seorang aparat dakwah yang mengisi ruang yang berbeda dari kelaziman aparat dakwah lainnya.

Begitulah pada suatu sore pada awal Mei 2013 ini saya terkejut karena menemukan sebuah amplop besar berwarna coklat terselip di antara buku-buku saya di rumah. Di atas amplop itu diterakan tulisan yang menerangkan secara jelas bahwa amplop besar itu ditujukan kepada saya. Di rumah saya ada 3 orang mahasiswa, yang memang sering memiliki bahan-bahan dengan kemasan serupa. Karena itu, hanya dengan melihat tulisan pada amplop itulah saya mutuskan langsung membuka isinya.

Alangkah terkejutnya membaca Bang Zamri Musy berkirim surat kepada saya secara bersamaan dengan alamat lain yakni adinda Anwar Sembiring, seorang aktivis Muhammadiyah di Sumatera Utara. Melihat tanggal surat itu (Februari 2013), berarti sudah beberapa bulan surat itu berada di rumah saya. Oh, betapa kecewanya bang Zmri Musy karena ini. Jangan-jangan beliau sudah terlanjur merasa saya ini orang sombong yang tak sudi memberi respon yng sepatutnya atas pikiran dan maksud beliau setelah sekian lama menunggu. Pastilah surat itu tiba di rumah saya pada saat saya berada di luar kota. Salah seorang dari anak saya yang menerima surat itu ternyata lupa memberi tahu kepada saya. Itulah kejadiannya.

Dalam surat itu dijelaskan tentang dua berkas lampiran yang disertakan. Bahan pertama sebuah tulisan berjudul Riwayat Hidup dan Perjuangan Zamri Musy.  Bahan kedua berjudul Nashiruddin Daud Pane (ND Pane) yang saya kenal. Kedua bahan itu hasil karya bang Zamri Musy. Rupanya bang Zamri Musy ingin agar saya meluangkan waktu membaca dan jika diperlukan membubuhkan perbaikan. Tentulah dengan senanghati saya menerima permintaan itu.

Menyadari kemungkinan persepsi kurang baik dari bang Zamri Musy setelah sekian lama suratnya tidak saya respon, saya tidak berani menghubunginya lewat telefon. Saya tetapkan untuk terlebih dahulu membaca kedua naskah dan memenuhi permintaannya membuat Kata Pengantar untuk kemudian berkunjung ke rumah beliau di Marindal agar dapat secara langsung memberi apa yang beliau minta. Tetapi akhirnya hal terakhir urung terlaksana karena sesuatu hal.

Baru-baru ini saya menerbitkan 10 judul buku saya yang salah satu di antaranya ialah Musyawarah Para Imam. Dalam salah satu bab buku itu saya ceritakan tentang sejumlah tokoh Muhammadiyah di Sumatera Utara, yakni Hr Mohammad Said, ND Pane, M Nur Rizaly dan Ali Mukmin siahaan. Setelah membandingkan apa yang saya tulis tentang ND Pane, rupanya ada hal-hal yang mestinya dicakup dalam buku saya sebagaimana diceritakan oleh bang Zamri Musy pada tulisannya.

Hanya sedikit yang saya tahu. Saya dan bang Zamri Musy saling mengenal sejak tahun 1977, saat saya mulai masuk kuliah pada FISIP UMSU. Beliau adalah salah seorang senior saya di Fakultas meski tidak pernah bertemu di kampus sebagai sesama mahasiswa. Generasi pertama mahasisw FISIP UMSU ini, serupa dengan nasib bang Amiruddin BPM, hanya pernah menjalani perkuliahan beberapa tahun dan karena alasan klasik berhenti. Pada awal pengembangan UMSU sebetulnya orang-orang ini adalah “tumbal” yang seperti dipaksa mendaftar dan masuk kuliah agar kampus itu benar-benar ada dan berlanjut. Jadi, meskipun mereka tidak pernah menyelesaikan kuliahnya, dan meskipun mereka tidak pernah tercatat sebagai apa-apa di kampus UMSU, saya tetap menganggap mereka sebagai mata rantai perwujudan perjuangan Muhammadiyah di Sumatera Utara dalam bidang pendidikan. Semangat mereka mewakili semangat militan warga Muhmmadiyah yang giat beramal yang terkadang pengorbanannya tanpa memikirkan hari esok keluarga dan pribadi.  Sebetulnya, mereka tersandra oleh perjuangan kolektif Muhammadiyah meski tak banyak orang yang tahu tentang mereka.

Saya pernah menulis tentang bang Zamri Musy pada tabloid terbitan DPD IMM bernama Estafeta. Itu sekitar tahun 80-an. Ketika itu saya tertarik melihatnya begitu mobil. Begitu dekat dengan Ketua PW Muhammadiyah ND Pane, begitu efektif sebagai penghubung di antara para anggota pimpinan Muhammadiyah Wilayah, begitu aktif menghadiri berbagai pertemuan, begitu respek atas berbagai masalah, begitu sehat setiap hari berkeringat mengayuh sepeda dari satu dan lain tempat.  Membandingkan tulisan yang dikirim oleh bang Zamri Musy dengan tulisan yang pernah saya buat tentang dirinya, saya kini menyadari banyak yang tidak saya ketahui tentang beliau dan kejadian-kejadian penting persyarikatan Muhammadiyah.

Herannya, saya tidak pernah diprotes atau dianggap bodoh oleh bang Zamri Musy dengan tulisan saya tahun 80-an itu. Bahkan saya merasa dipujinya, meski apa yang saya tulis terbukti sangat tak menyintuh hal-hal yang semestinya diutarakan.

Berhutang. Cukup lama saya menjadi langganan majalah kepada bang Zamri Musy. Seingat saya, saya pernah menolak secara halus permintaan beliau untuk berlangganan koran. Pada mulanya beliau tentu tidak tahu alasan saya menolak. Tetapi lama-lama beliau pun faham, majalah Suara Muhammadiyah dan Majalah Tempo yang rutin diantarkan ke rumah sering tak terbayar tepat waktu. Itulah alasannya, memilih bahan terpenting di antara yang penting. Namun saya ingat semua hutang sudah saya bayar dengan cicil. Begitu pun, sekarang saya masih berharap, sekiranya masih ada catatan hutang majalah yang belum terbayar kepada bang Zamri Musy, saya akan berusaha membayarnya, meskipun itu dengan cara mencicil misalnya. Ha ha ha.

Saya berhenti berlangganan majalah kepada bang Zamri Musy tak begitu lama setelah beliau digantikan oleh seseorang muda usia. Bukan karena saya tak lagi memerlukan bahan bacaan itu. Tetapi karena bermaksud mengirit di tengah kesulitan. Jika ketika bang Zamri Musy saya sekaligus berniat ikut meringankan bebannya. Tetapi kini beliau relatif tentu sudah lebih berkelapangan keadaannya terutama setelah berhasil menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi. Biarlah saya berhenti berlangganan, apalagi sedikit banyaknya update informasi sudah dapat dinikmati melalui internet. Kini langganan saya hanyalah media yang secara rutin atau berkala memuat tulisan-tulisan saya.

Penderitaan dan Dukacita. Ada hal yang konsisten dalam penuturan buku ini sejak dari awal hingga akhir. Itulah mawas diri dan keprihatinan hidup. Bagaimana seorang Zamri Musy kecil seperti kebanyakan anak sekolah seusianya di Indonesia menempuh perjalanan jauh berlama-lama untuk menimba ilmu di sekolah yang kualitasnya pun begitu rendah ditandai dengan kekerapan kelangkaan guru.

Banyak kisah yang mengingatkan masa-masa awal kemerdekaan yang begitu sulit, bahkan mempertahankan hidup terkadang hampir-hampir gagal. Bang Zamri Musy berhenti sekolah karena keadaan dan ia mengambil alih tanggungjawab untuk menafkahi keluarga. Tetapi karena keadaan miskin pada waktu itu bukan fenomena langka, tentulah bang Zamri Musy tidak merasa ditinggalkan sendirian oleh Tuhan dalam kemelaratan.

Pada tahun 2009 diceritakan dalam buku ini masa-masa dukacita mendalam yang ditandai dengan berbagai musibah termasuk kepergian untuk selama-lamanya orang yang sangat dicinta. Taqdir tidak perlu dilawan, memang. Tetapi perasaan kemanusiaan yang bersifat universal tak terelakkan lukisannya dalam buku ini.

Gacok. Buku ini dengan tak sengaja memaparkan setting sosial tertentu sembari menceritakan kisah hidup pribadi bang Zamri Musy di dua tempat utama, Riau (kampung halamannya) dan Sumatera Utara (perantauannya). Pemaparan yang apa adanya sangat bermanfaat bagi seseorang yang berminat terhadap studi tertentu apalagi sosiologi, misalnya. Bang Zamri Musy tentu tidak menyadari hal itu dan memang tak berniat ke hal itu. Ia hanya ingin menuliskan sesuatu untuk diwariskannya kepada anak dan cucunya tentang sebuah perjuangan yang diawali dari sebuah kampung kecil di Riau.  Bagaimana ia mengalami dan merespon setiap situasi dan sikap apa yang konsisten dalam dinamika itu. Itulah intasari yang hendak diwariskannya. Tentu saja bagi kalangan lebih luas buku ini juga bermanfaat karena menceritakan diri sendiri dalam buku ini juga dapat berarti menceritakan  Muhammadiyah dengan dinamikanya tertentu. Bukankah buku penting seperti Muhammadiyah di Minagkabau karya Buya HAMKA juga bernuansa yang sama? Jadi tulisan bang Zamri Musy ini penting.

Dalam kajian tentang urbanisasi kerap ada yang secara umum (menurut bahasa Medan) kerap disebut gacok. Gacok ini penting sebagai pangkalan pertama seorang pendatang baru di kota sembari mempersiapkannya untuk mencari peran hidup selanjutnya. Tak diceritakannya secara jelas dan teoritis, tetapi saya mencatat seorang Ishaq Jaar, aktivis Muhammadiyah Sumatera Utara, adalah menjadi gacok penting bagi putera-puteri Muhammadiyah yang berasal dari Riau. Sebutlah Zainal Arifin, Yusmar Kampeto, Khaidir Mim, Azamris Chanra, Agussani, Nizar Idris, Chairil Anwar,  Mawardi Hasibuan, dan lain-lain. Mereka memiliki solidaritas yang kuat, dan penghargaan terhadap senior. Organisasi sosial berupa paguyuban yang berwajah agraris ini begitu penting untuk menghadapi tantangan hidup di kota. Tampaknya itu lazim di seluruh dunia.

Tentulah orang seperti TA Lathief Rousydiy begitu penting dalam “memuhammadiyahkan” putera-puteri Gayo di Medan. Di belkangnya tercatat Kasim Mizan yang kelak menjadi Sekretaris PW Muhammadiyah Sumatera Utara. Juga Abdul Kadir Muhammad, Muhammad Yusuf, Abdul Karim Sholeh, Abdurrahman Chibro, dan lain-lain.

Tetapi tentu saja tidak semua orang Riau dan orang Gayo di Medan menjadi warga Muhammadiyah. Namun semua orang tahu bahwa orang-orang Muhammadiyah ini tak hanya berbuat untuk organisasinya di Sumatera Utara, karena pada saat-saat tertentu juga melakukan aksi-aksi dakwah dan sosial kemasyarakatan di kampung halaman dengan bekal solidaritas sebagai warga Muhammadiyah.

Di Antara Para Ulama. Daripada menyebut ulama lebih tepat mengkategorikan bang Zamri Musy sebagai aktivis. Ya, pada Muhammadiyah dan pada umumnya untuk Indonesia, keulamaan sering lebih terkait tidak saja pada kedalaman dan kluasan ilmu, tetapi juga pada cara membawakan diri dan menata penampilan sesuai dengan trend.  Jika saja sejak awal bang Zamri Musy ini membiasakan diri berkhutbah di mesjid-mesjid Taqwa, tentu saja kategorinya berubah. Tetapi ia tidak memilih sebagai muballigh bersenjatakan mimbar. Bukan karena tidak mampu bekhutbah. Bukan karena tidak mampu menjadi imam.

Barangkali ini lebih disebabkan oleh peran yang dirancang oleh Ishaq Jaar kepadanya. Artinya Ishaq Jaar membutuhknnya dalam banyak tugas-tugas administratif. Ishaq Jaar kita ketahui memiliki kemampuan rangkap, baik sebagai organisator maupun sebagai ulama yang memiliki sejumlah mimbar yang amat berwibawa karena kualitas kajian-kajiannya.

Keadaan dan sintuhan awal inilah yang saya lihat banyak menentukan arah perjalanan hidup bang Zamri Musy kemudian. Tetaplah ia menjadi seorang pnghubung dan petugas administratif yang handal, meskipun dalam banyak kesempatan diamanahkan menjadi pimpinan tertinggi dalam satu unit tertentu dalam organisasi Muhammadiyah. Ini mirip dengan orang yang menjadi panglima perang yang sukar meninggalkan watak lapangannya meskipun wilayah dan suasana tugas sudah benar-benr baru pasca perang.  

Bersama ND Pane tentulah bang Zamri Musy ini tidak memerlukan perubahan peran. Bahkan apa yang dibentuk oleh Ishaq Jaar tak memerlukan pemolesan lebih serius lagi ketika menjadi orang terdekat ND Pane dalam menjalankan tugas-tugas sebagai pimpinan tertinggi organisasi. Prototype bang Zamri Musy kini dilanjutkan oleh Mutholib, yang sebelumnya diperankan oleh Muslim Siagian. Tentulah apresiasi orang akan berbeda kepada bang Zamri Musy yang administrator dengan bila dibanding dengan jika ia menjadi seorang ustaz.

Kejujuran. Ketika sebuah kecelakaan terjadi dalam perjalanan tour sekolahnya (SR) dengan naik bus di Riau, bang Zamri Musy menceritakan pikiran khas kekanak-kanakannya dengan amat jujur. Di tangannya ada martabak yang dibeli untuk oleh-oleh buat adik-adiknya. Sebegitu gawat keadaan yang diakibatkan kecelakaan itu, bang Zamri Musy ternyata mengutamakan penyelamatan mrtabak ketimbang yang lain. Ia melukiskan betapa besarnya harapannya membahagiakan adik-adiknya di rumah sembari menceritakan segenap hal-hal penting dari perjalanan berupa laporan pandangan mata. Ia ingin menjadi hero kepada adik-adiknya.

Begitu pun saat bang Zamri Musy menceritakan saat akan naik haji bersama Kemal Fauzi atas bantuan Pemko Medan. Sebesar 50 % dari biaya ternyata diberikan oleh orang-orang yang mengenal dan tahu persis peran bang Zamri Musy pada organisasi Muhammadiyah. Bahkan ketika beralih dari rutinitas naik sepeda ke sepeda motor seiring usia yang semakin tua, bang Zamri Musy tak segan menceritakan bagaimana orang-orang membantu perwujudan perubahan itu. Tetapi jelas ia bukan seorang “bertangan di bawah”.

Bagaimana ia menceritakan seorang tokoh di Riau  yang membedakan kewajiban membina keluarga degan kewajiban menerjunkan diri dalam organisasi Muhammadiyah, juga diceritakannya di sini untuk melukiskan bagaimana ia berfikir secara membanding. Ia manarik pelajaran dari seseorang yang memantangkan ikut mengurus Muhammadiyah berhubung ekonomi kelurga kurang baik. Pada moment ini bang Zamri Musy menampakkan pertempuran dahsyat dalam bathinnhya. “Jangan-jangan, tokoh ini sedang menertawakan saya”, begitu barangkali pikiran dalam hati bang Zamri Musy.

Bijak. Bang Zamri Musy menghindari penuturan konflik-konflik besar yang ia sangat tahu meskipun ada satu dua yang sengaja dikemukakan. Kini ia memilih seperti orang Jawa (mikul dhuwur mendem Jero). Mungkin ia banyak juga belajar dari sesepuh kita Kalimin Sunar.  Padahal pada saat-saat bang Zamri Musy menjadi penanggung Jawab sekretariat PW Muhammadiyah Sumatera Utaralah gejolak konflik banyak terjadi dan bahkan mungkin menjadi masa awal untuk semua konflik yang berkelanjutan hingga kini, baik laten maupun manifest. Bayangkan, saat itulah terjadi politik sentralisasi Orde Baru, saat itulah UMSU mulai berbenah dengan banyak perbenturan, saat itulah IMM di bawah kepemimipjnan Achlaq Shiddiq Abidin Tanjung dianggap sebagai anak durhaka, saat itulah terjadi kekurang harmonisan di tubuh pemuda Muhammadiyah. Bahkan, lebih awal lagi kejadian-kejadian bikinan orang-orang tertentu yang berimbas ke dalam tubuh Muhammadiyah seperti komando jihad dan lain-lain. Bang Zamri Musy memilih tidak menceritakan itu.

Apa yang ingin diwariskan oleh bang Zamri Musy melalui buku ini ialah kebersahajaan dalam dharmabakti yang optimal. Insyaa Allah bermanfaat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: