'nBASIS

Home » ARTIKEL » OKAZ

OKAZ

AKSES

  • 512,968 KALI

ARSIP


OK ARYA ZULKARNAIN

Karena akan berulangkali menyebut seseorang yang akan menjadi pokok perbincangan di tulisan ini, maka saya singkat namanya menjadi OKAZ. Dia seorang yang telah membuktikan klausul perseorangan dalam pemilihan langsung kepala daerah bukan indikator kelemahan sumberdaya dan peluang kemenangan. Dia telah menguji keyakinan itu di kampungnya (Kabupaten Batubara) dan tercatat menjadi orang pertama di Indonesia yang memenangkan pemilukada melalui jalur perseorangan. Dialah OK Arya Zulkarnain.


Tak lama setelah menjadi bupati, dia pun mendapatkan jabatan politik baru, memimpin sebuah partai di kampungnya itu. Tetapi kini dia seperti kembali ingin menguji teori lama. Success story  itu ingin diulangi untuk menjajal popularitas dan elektibilitas pada pemilukada September mendatang. Untuk itu, ia pun dikabarkan sudah pamit kepada para petinggi partainya yang menjadi terheran-heran karenanya.

Jika Rudolf Matzuoka Pardede sebagai incumbent pada tahun 2008 dilarang maju sebagai calon Gubsu meski dalam kedudukan sebagai ketua sebuah partai, maka kasusnya sungguh berbeda dengan OKAZ. Orang berebut-rebut mendapatkan jabatan ketua partai itu, tentulah motivasinya jelas. Antara lain memastikan pencalonan dalam pemilihan kepala daerah.

Tampaknya itu yang tidak terealisasi pada T Milwan (Sumut, 2013), dan juga Denny Ilham Panggabean (Medan, 2010).  Agaknya Chaidir Ritonga yang berlaga pada Pemilukada Kota Padangsidimpuan belum lama ini, juga menjadi peristiwa yang menambah catatan tentang dikesampingkannya niat mencalonkan diri seorang petinggi sebuah partai (Kota Padangsidempuan) untuk mencalonkan diri menjadi kepala daerah. Sekali lagi, OKAZ berbeda.

Pemekaran Batubara. Intensitas keterlibatannya dalam pemrakarsaan dan perjuangan pemekaran Batubara menjadi modal penting. Untuk diketahui, sebagaimana lazimnya terjadi di daerah lain, pemekaran Batubara juga mendapat penentangan keras dari penguasa waktu itu, khususnya Bupati (Asahan) Risuddin.

Biasanya semakin keras perlawanan terhadap sesuatu keinginan kolektif akan semakin besar pula peluang untuk tampilnya figur yang mendapat pengakuan sebagai pemimpin.

Pelayaran di laut tenang tentulah tak membuat seorang nakhoda menjadi pahlawan karena itu memang tugas normalnya dan ia mendapat imbalan materi dari pekerjaan itu. Tetapi jika laut berhias ombak dan badai dan keselamatan kapal dan seluruh penumpang benar-benar terancam, dan jika hanya dengan kepiawaian dan pengalamanlah seorang nakhoda akhirnya mampu menyelamatkan misi pelayarannya, posisinya tak lagi sebagai orang biasa.

Perpaduan interest dari berbagai kalangan yang luas akhirnya telah mewujudkan gerakan sosial yang efektif dan kristalisasi wadah perjuangan yang menghimpun seluruh kekuatan sosial dalam organisasi Gemkara sekaligus telah menjadi kendaraan politik yang mengantarkan harapannya menjadi bupati pertama pada kabupaten baru itu. Gemkaralah tiket dan jaminan baginya waktu itu.

Jika keinginan mengulangi success story, itu tentulah OKAZ sudah berkeyakinan bahwa kapasitas terpasang dari kendaraan lama malah sudah bertambah secara kuantitatif maupun kuantitatif seiring pengaruh-pengaruh efektif terkait pemeranan diri selaku incumbent dengan segenap kelebihannya dalam posisi itu.

Pelajaran Kepartaian. Mungkin saja petinggi partainya masih beharap ia berubah pikiran meskipun secara resmi sudah mendaftarkan diri melalui jalur perseorangan. Tetapi rasanya itu sulit, karena jika itu terjadi OKAZ terkesan seperti bermain-main.

Ketika rakyat menyadari hal itu risiko politik akan diterimanya. Jika pilihan langsung memang selalu merelatifkan kekuatan partai, dalam keadaan OKAZ memiliki rentang kendali yang kuat ke seluruh institusi kemasyarakatan yang ada bahkan ke kebanyakan individu dalam keluarga-keluarga, dan tak mustahil juga dengan tingkat kepatuhan yang tinggi secara personal dari seluruh aparat partai yang ditinggalkannya (kepadanya), memang pemilukada September 2013 sudah seperti menunggu hari saja untuk perpanjangan mandat bagi OKAZ.

Orang hingga kini memang masih belum menemukan jawaban terang-benderang tentang mengapa Chairuman Harahap mengulangi kegagalan serupa (Ali Umri) pada level pemilihan gubernur (2008 dan 2013). Mungkin ada sesuatu yang sangat perlu ditelaah dalam internal partai pengusung mereka. Kalau tidak, aneh sekali OKAZ  tak memanfaatkan perahu yang secara teoritis memang diperuntukkan baginya.

Ada tiga catatan lain. Pertama, kini OKAZ maju dengan pasangan (wakil) baru. Kedua, siapa yang akan memanfaatkan perahu yang ditinggalkan OKAZ. Ketiga, akankah setelah event September ini OKAZ masih berminat kembali memimpin partai yang ditinggalkannya? Atau, akankah partainya tetap merasa jabatan itu perlu dikembalikan ke pangkuan OKAZ jika kelak ia memenangi perhelatan? Semua pertanyaan itu perlu dijawab dan memang penting.

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Medan Bisnis Senin 13 Mei 2013 hlm 2


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: