'nBASIS

Home » ARTIKEL » KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI (KPK)

KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI (KPK)

AKSES

  • 538,914 KALI

ARSIP


13685831421025020613

Dari satu ke lain periode Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ada catatan-catatan tersendiri. Paling tidak ingatlah bagaimana nasib Antasari Azhar yang diadili dengan penuh kezaliman. Bagaimana Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah diperlakukan dalam kasus terkenal “Cicak vs Buaya” (Kepolisian vs KPK). Siapa yang “abadi” di KPK? Mengapa ia “abadi” di situ? Siapa yang membuatnya abadi? Itulah pertanyaannya.

Secara substantif posting ini bukan karena Partai Keadilan Sejahtera (PKS) secara resmi mengadukan Johan Budi kepada pihak Kepolisian sebagai rentetan kasus yang menimpa mereka, khususnya soal penyitaan sejumlah mobil mewah di kantor DPP partai itu beberapa hari lalu. Tetapi, memang sangat wajar dipertanyakan jika lembaga sepenting KPK yang rawan terhadap berbagai ancaman penyelah-gunaan wewenang (berhubung kekuasaannya yang sangat besar itu) tidak merasa perlu melakukan pergantian aparatnya untuk jangka waktu yang lama. Komisionernya saja diberi batasan waktu atau masa kerja. Mengapa harus? Ya, tentu karena setiap lembaga yang cenderung dikuasasi oleh seseorang, dengan sendirinya potensil ditundukkannya untuk kepentingannya sendiri dan mandul. Itulah alasan saya ketika beberapa hari lalu menurunkan status pada facebook demikian:

KPK SEPERTI ADA PEMILIKNYA

Mohon maaf jika salah. Sejak berdiri atau seingat saya sudah lama sekali Johan Budi pada posisi Jubir KPK. Para komisioner gonta-ganti. Bahkan kemaren Johan Budi ikut nyalon mau menggantikan. Malah ada yang seperti Antasari “dianggap perlu” masuk penjara. Johan Budi abadi. Ma’af jika salah. Namun KPK seperti ada pemiliknya. Siapa ya?

Dalam era negara memiliki banyak komisi ini, memang ada fenomena yang menarik. Para komisioner dipilih secara terbuka dengan mekanisme tersendiri. Tetapi di dalamnya ada orang pemerintah sebagai pemegang kekuasaan lain yang secara resmi (formal) memang dimaksudkan untuk mendukungkinerja komisi itu. Tetapi, pertanyaannya, meski pun orang-orang pemerintah itu pegawai tetap atau pegawai tak tetap, kepemimpinan puncaknya tentulah memerlukan penyegaran. Di lembaga legislatif itu ada orang pemerintah. Tetapi tak ada Sekjen Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) yang masa kerjanya sebanding dengan masa kerja Johan Budi. Begitu juga di Komisi Pemilihan Umum (KPU), Sekjennya gonta-ganti juga. Ini bukan untuk mengatakan bahwa jabatan Juru Bicara yang diamanahkan kepada Johan Budi sama atau setara dengan jabatan Sekjen pada DPR-RI, KPU dan lain-lainnya.

Tentu saya tidak sedang mempersoalkan kinerja Johan Budi. Bukan itu. Saya hanya menggunakan teori yang berlaku umum saja. Jika sebuah lembaga terus-menerus dipimpin oleh satu orang, ragukanlah kebaikan kinerja lembaga itu. Bukankah itu pemikiran yang melandasi mengapa ada periodisasi jabatan? Soekarno berjuang mati-matian untuk menjadi Presiden RI. Dengan cara lain, Soeharto hanya berhasil menjadi Presiden RI selama 32 tahun. Kedua presiden ini sudah menunjukkan kinerja yang karena tak tergantikan menjadi terasa aneh. Rakyat melawan, dan tercatatlah suksesi yang tak berperadaban dalam sejarah Indonesia. Ingatlah juga SBY melalui orang-orangnya seperti Ruhut Sitompul yang mencoba mengukur pendapat tentang persetujuan atau penolakan atas dirinya jika kelak akan melanjutkan kepemimpinan ke periode berikut. Ada resistensi yang kuat. Bahkan karena besarnya resistensi itu SBY sendiri sampai berucap memastikan tak mempersiapkan keluarganya untuk suksesi.

Catatlah juga dalam sejarah pemberantasan korupsi di semua negara, perlawanan-perlawanan akan selalu ada. Perlawanan terang-terangan atau perlawanan tersembunyi. Dari satu ke lain periode KPK ada catatan-catatan tersendiri. Paling tidak ingatlah bagaimana nasib Antasari Azhar yang diadili dengan penuh kezaliman. Bagaimana Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah diperlakukan dalam kasus terkenal “Cicak vs Buaya” (Kepolisian vs KPK). Siapa yang “abadi” di KPK? Mengapa ia “abadi” di situ? Siapa yang membuatnya abadi? Itulah pertanyaannya.

Bagaimana jika ditilik dari kasus-kasus besar yang dipergilirkan dari satu ke lain periode tanpa indikasi penyelesaian? Katakanlah kasus Bank Century. Semua orang akhirnya menjadi faham kemana induk permasalahan yang membuat kasus ini tetap tak bisa diselesaikan.

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: