'nBASIS

Home » ARTIKEL » MEMBENCI ANGGOTA LEGISLATIF

MEMBENCI ANGGOTA LEGISLATIF

AKSES

  • 512,968 KALI

ARSIP


SETELAH era legislative heavy yang menyambung era sentralisasi orde baru (1999-2004), legislatif secara terus-menerus terpreteli kewenangan. Dan seiring dengan itu, sinisme berkembang di tengah masyarakat. Caci maki tersebar dalam perbincangan publik maupun informal.
Begitu juga di public space lainnya seperti media sosial. Gambar-gambar anggota legislatif sedang tertidur saat siudang beredar. Boikot terhadap yang pergi ke luar negeri untuk tugas kunjungan kerja, juga dilakukan. Semangat itu serentak, di dalam maupun di kalangan komunitas masyarakat Indonesia di luar negeri. Tetapi, seberapa tepat amarah itu disasarkan?DPR RI itu tidak seperti anak sekolah yang apabila telat memasuki pintu gerbang sekolah, akan mendapat ganjaran dari guru. Jika pun anggota DPR itu tidak hadir dan sering bolos, itu bukan sesuatu yang sangat fatal karena fungsi kelegislatifan tak sepenuhnya dijalankan dalam ruang sidang itu.Belum lagi jika ia mengikuti persidangan yang karena sistem yang berlaku posisinya kerap hanya sekadar formalitas belaka. Apakah ia tak menjadi terlihat malas? Ini manusiawi. Lalu datanglah kantuk. Karena biasanya para legislator itu memiliki jam kerja 24 jam perharinya. Datanglah juga perasaan ingin iseng. Main game atau bahkan mungkin juga melihat situs porno melalui HP canggihnya. Sisi ini harus dipertimbangkan saat akan memutuskan mencaci-maki atau memahami anggota DPR.

Contoh Kasus. Berikut sebuah contoh yang saya reka, tetapi tak mungkin tak terjadi. Pak Ahmad Tampan Panjaitan dari Dapil Sumut 2 secara terburu-buru terbang ke Medan dan selanjutnya menyambung penerbangannya ke Pinangsori (Tapteng). Setelah mendarat, ia melanjutkan perjalanan daratnya untuk meninjau kejadian di proyek pertambangan emas di Batangtoru, Tapsel, yang memicu konflik yang sengit.

Di sana ia tak cukup dua hari. Secara bersamaan pula DPR RI melakukan agenda normalnya sesuai prolegnas yang sudah ditetapkan pada awal periode dan diperbaharui awal tahun kerja. Menurut tata tertib yang berlaku, tak usah dengan kehadiran 100% anggota DPR bisa menetapkan keputusan.

Pertanyannya, Ahmad Tampan Panjaitan akan mementingkan yang mana? Apakah rakyat yang diwakilinya yang sedang bentrok dengan aparat yang membantu pemodal dan pemerintah lokal yang di-back up oleh pemerintah provinsi atau sidang yang di dalamnya ia kerap hanya boleh harus mencukupkan diri sekadar tandatangan, duduk, dengar dan selesai? Sebetulnya itu bukan kemauannya juga.

Anda tahu SBY membuat Setgab yang seolah-olah bisa merampas fungsi-fungsi demokratis kelegislatifan itu. Tak mudah memberi penilaian hitam putih. Meskipun demikian, saya tak bisa menapikan sewaktu seseorang berkata kepada saya begini:

Bapak-bapak yang duduk di DPR RI mana mungkin pemalas yang semau-gue saja. Itu orang pinter-pinter yang karena pinternya jadi tidak mau menggunakan pikirannya buat sekadar mengikuti apa yang dimaui anasir-anasir “tertentu” yang justru ingin merugikan negara kita ini.Hal Substantif

Akan berbeda jika DPR disorot dari aspek yang lebih substantif dalam peran normatifnya sesuai fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan. Pada aspek inilah kita wajib bertemu masalah-masalah besar.  Bagaimana mereka secara bersama atau pun sendiri-sendiri menjadi pemicu korupsi yang induknya ada di eksekutif. Itu pun sangat tidak memadai jika hanya menyoroti keterpidanaan Anggie dan semua orang yang dipermasalahkan dari berbagai fraksi (partai).

Jangan karena iklim politik saat ini begitu bersemangat menyoroti kinerja legislatif akhirnya terlupakan dimana induk korupsi itu sesungguhnya. Negeri ini mempraktikkan model pemerintahan bersifat executive heavy yang dengan sendirinya korupsi terbesar tidak terdapat dimana-mana kecuali di eksekutif. Ini pun harus dipahami secara hirarki pula.

Katakanlah seorang bupati/walikota bisa dicokok oleh Kepala Kejaksaan atau Kapolres, begitu juga Kapolda atau Kepala Kejaksaan Provinsi bisa mencokok gubernur. Tetapi mampukah Anda membayangkan presiden dicokok oleh Kapolri atau Jaksa Agung atau KPK? Semua legislator mempersembahkan pengabdiannya untuk partai. Itu sebuah kemestian. Bayangkanlah apa-apa saja yang harus dilakukannya sejak akan mendaftar sebagai caleg, berkampanye dan memenangkannya.  Hingga hari ini partai tidak memiliki kejelasan sumber pemasukan (dana). Karena itu pertanyaan seriusnya, dari manakah mereka mendapatkan dana untuk menjalankan partai?

Dugaan-dugaan seperti itulah yang kini sedang dihadapkan kepada PKS yang menurut UU bisa saja dibekukan jika terbukti melakukan kejahatan untuk membiayai partai. Tetapi kelas tuduhan bagi Presiden PKS dan semua orang yang terkait dengan kasusnya sangatlah sederhana jika dibandingkan dengan apa yang sudah diketahui luas oleh publik dalam kasus Partai Demokrat yang pemimpin tertingginya adalah SBY yang Presiden RI.

Tak mungkin publik memaafkan SBY meski ia sudah berhasil menggantikan Anas Urbaningrum, jika itu ingin mengesankan bahwa pekerjaan Anas Urbaningrum dengan rekan-trekannya yang lain (Nazaruddin, Anggie, Andi Alfian Mallarangeng) tidak terkait dengan partai. Begitu pun, kita harus juga memetakan bahwa korupsi itu memiliki sifat seperti puncak gunung es. Apa yang terkemuka bukanlah keseluruhan dari masalah. Akan lebih besar yang tidak mengemuka karena dalam sifat pemberantasan korupsi di sunia sepanjang sejarah metode tebang pilih adalah sifat khas.

Tetapi satu hal yang pasti, jangan toleran dengan korupsi dan aspek terluar kelegislatifan yang sering menjadi sorotan sangat tak membantu memperbaiki negeri ini.

Shohibul Anshor Siregar. Dimuat pada Harian Medan Bisnis, 20 Mei 2013, halaman 2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: