'nBASIS

Home » ARTIKEL » SAYA HANYA ORANG YANG RESAH

SAYA HANYA ORANG YANG RESAH

AKSES

  • 564,277 KALI

ARSIP


9847_123597724510956_684198305_n

MASIH sangat belia. Anak muda lulusan ilmu komunikasi yang kini sedang tahap penyelesaian studi lanjut (S2) untuk bidang yang sama di Pasca Sarjana UMSU ini bertekad akan ikut menjadi calon legislatif daerah melalui salah satu daerah pemilihan (dapil) di Kota Medan. Selama menjadi mahasiswa tergolong sangat aktif pada lembaga kemahasiswaan tingkat Jurusan, Fakultas, Universitas maupun antara universitas. Menjalin kerjasama dengan banyak pihak menjadi salah satu keahliannya selain analisis untuk pengambilan keputusan yang jitu dan berani. Hal itu yang menjadi salah satu daya tarik bagi rekan-rekan sebaya, senior maupun juniornya.

Ia bukan seseorang yang dalam masa remaja dan mahasiswa bergelimang kemewahan. “Saya rakyat biasa. Dari keluarga yang mengandalkan kesungguhan dan keuletan untuk hidup survive, tanpa katabelece siapa-siapa”.  Itu sebagian dari kata pembuka yang dia sampaikan dalam sarasehan Social Empowering yang diselenggarakan sore tadi, di Medan. Dari pandangan-pandangannya tentang demokrasi, agenda pembangunan dan posisi Indonesia dalam pergaulan internasional, terlihat jelas bahwa ia adalah seorang yang resah. Resah atas nasib generasinya, rakyat yang tak terpenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya, rakyat yang menjadi korban sia-sia ketidak-adilan kebijakan dan bahkan kesewenang-wenangan.

“Apa resep andalan Anda untuk strategi pemenangan di antara rival-rival yang begitu banyak?” Ini sebuah pertanyaan lain untuknya. Pertanyaan  ini dia jawab dengan santai: “ya keresahan itu. Saya orang resah. Begitu banyak orang yang merasa resah. Saya ingin meyakinkan mereka semua bahwa bukan hanya mereka saja yang resah. Ada saya. Persatuan di antara orang-orang resah itu dikaji secara akademis oleh para ilmuan, antara lain menghasilkan teori “weapon of the weakness“. Saya akan menyapa mereka, berdiskusi dengan mereka, dan bercita-cita bersama mereka, mengoreksi dasar-dasar pandangan filosofi yang sederhana menjadi sebuah kebermaknaan dahsyat. Hanya itu, tambahnya.

“Apa Anda tidak gentar dengan kemungkinan ancaman money politic yang diperkirakan akan marak?”, tanya peserta yang lain. Roni Jambak menjawab dengan tenang “saya yakin Anda yang bertanya sudah bisa menghitung berapa banyak kita yang berpemikiran yang sama yang sudah muak sekali dengan praktik itu. Mempersatukan tangan-tangan kecil dari semua orang yang tak berdaya itu, kan sebuah tantangan bagi kita bersama?”

Peserta lain yang tercatat sebaIMG_4689gai salah seorang caleg untuk DPRD Kabupaten Asahan, Jainuddin Chan, dengan serius mengemukakan motivasinya dalam menempuh “pertarungan” memperebutkan kursi yang terhormat itu. Embreeding process (proses pengerdilan), katanya, selalu menjadi dilema yang akut, apalagi kita kaitkan dengan masalah akut interaksi desa-kota. Sudah empat dasawarsa tak terselesaikan itu. Kesenjangan begitu menganga. Siapa yang akan mengurusi pedesaan padahal dari sana kita dapat beras, dan seluruh perbendaharaan bahan makanan kita?  Terlalu tak adil membiarkan desa terbengkalai. Indonesia memiliki kekayaan agraris yang belum diberdayakan.Tekad saya, pulang ke desa untuk membangun, tegasnya.

Ihsan Nasution dari Belawan yang hadir bersamaan dengan Ali Nafiah Marbun sama berkesimpulan bahwa pemilu 2014 memiliki beberapa ciri yang membedakannya dengan pemilu sebelumnya. Di antaranya ialah imaje jelek partai yang sangat mengancam tingkat penurunan partisipasi politik. Karena itu, kata Marbun, kekuatan social capital para caleg akan dipertaruhkan. Ihsan Nasution mengamini dengan menambahkan “susah jika caleg cuma ngelendot di ketiak partainya yang faktanya keseluruhannya sudah terlanjur dicap busuk oleh masyarakat”.

Sarasehan Social Empowering. Sarasehan perkuatan rakyat dalam kaitannya dengan menumbuhkan kepercayaan politik bagi figur-figur terpercaya dan mempertinggi peluang keterpilihan caleg, berlangsung tadi sore. Disadari bahwa kini semua partai bersifat degradatif di mata rakyat. Karenanya, mereka harus terus dipupuk kesadarannya secara kritis untuk menjatuhkan pilihan kepada orang paling terpercaya. Mediasi ini begitu penting dan hanya dapat dilakukan oleh orang-orang independen.

Sejumlah calon legislatif dari berbagai daerah dan dari partai yang beraneka hadir dalam kegiatan ini. Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya (‘nBASIS) menyelenggarakannya untuk demokrasi dan keberadaban politik menyongsong Pemilu 2014.

Sebagian di antara peserta sarasehan Social Empowering

Sebagian di antara peserta sarasehan Social Empowering

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: