'nBASIS

Home » ARTIKEL » DIPLOMASI SUBSTANTIF

DIPLOMASI SUBSTANTIF

AKSES

  • 551,569 KALI

ARSIP


globalisasi-1024x921

Politik luar negeri Indonesia bersifat bebas aktif. Konon itu bersumber pada pokok pikiran dalam salah satu kalimat Pembukaan UUD 1945.  Berkebebasan politik untuk menentukan sikap terhadap persoalan-persoalan dalam pergaulan internasional, tanpa memihak blok mana pun. Tidak memihaki kekuatan-kekuatan yang pada dasarnya tidak sesuai dengan kepribadian bangsa sebagaimana dicerminkan dalam Pancasila. Aktif, berarti bahwa dalam menjalankan kebijaksanaan luar negeri tidak bersifat pasif-reaktif atas kejadian-kejadian internasional. (Mochtar Kusumaatmaja).

Rumusan itu terasa sangat bernuansa pembebasan diri. Bung Hatta yang menulis dengan bahasa simbol “mendayung di antara dua karang”, tentulah juga menekankan hal sama. Tidak ke barat. Tidak ke Timur. Tidak komunis. Tidak Kapitalis/kolonialis. Pembebasan diri dari ketertundukan yang tidak berdasar keberimbangan dialog dan kepentingan dan apalagi kedudukan dan martabat. Blok kepentingan pastilah akan tetap abadi, dengan isyu dan kecenderungan baru. Lalu apa yang didapatkan Indonesia dalam menjalankan prinsip ini dalam pergaulan internasional? Globalisasi yang hadir dengan dua mata pedang (positif dan negatif), akan dihadapi dengan cara apa? Aliansi-aliansi strategis yang dibangun sebagai artikulasi kecemasan dan sekaligus keniscayaan kepentingan Negara adikuasa, sangat perlu dievaluasi. 

Kerjasama ASEAN. Ada agenda tercecer soal politik, hukum, ekonomi, budaya dan lain sebagainya.  Tetapi untuk perkembangan ke depan malah ada semacam kekhawatiran tidak memadainya ASEAN untuk mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan Indonesia. Ibarat baju bagi seorang remaja, ia nanti akan tak bisa dipakai bukan karena tak suka melainkan sudah kekecilan. Transformasi ASEAN menunjukkan kesejarahan yang menekankan signifikansi peran yang makin meningkat. Awalnya 5 anggota, 9 anggota, dan seterusnya berkembang lagi.

Piagam Asean mengisyaratkan bentuk ideal ke depan. Dari solidaritas sampai instrumen efektif. Diproyeksikan sebuah kawasan dengan perkembangan menggembirakan, dan integrated dengan ekonomi global. Production base, competitiveness, growth dan seterusnya. Fakta saat ini tidak mungkin dibantah, ada 2 organisasi besar dunia yang paling berhasil, yakni among developing countries, ASEAN dan among depeloved countries, uni-Eropa. Tetapi itu mungkin pandang luarnya saja. Di dalam ada maslah yang tak memungkinkan agi internal competitiveness. Juga ada kepentingan berbeda yang saling bertabrakan.  Membangun framework yang bisa secara organik mendorong kemajuan bersama dengan parameter tertentu, memang sulit.

Instrumen Globalisasi. Pada dasarnya semakin menguatnya ASEAN adalah jeritan lain tentang globalisasi yang bermata ganda itu. Satu sisi ambisi pengintegrasian diri menjadi warga masyarakat dunia begitu menggiurkan. Tetapi di sisi lain hanya ada jeritan kecemasan. Bagaimana menjadi mangsa bagi Negara lain, dengan tanpa penghormatan, amat tak memadai dihadapi dengan pameo diplomasi zero enemies, million friends.  Ini tak ubahnya solidaritas di antara sesama pasien di rumah sakit atau sesama terpidana di penjara. 

Betul sekali integrasi people to people adalah sebuah keniscayaan global. Bukan pula hanya ada heritage yang mempertautkan, selain secara geografik juga berperinggan wilayah yang sama. Tetapi belum tentu senasib. Sebutlah ketika beberapa tahun lalu seorang mantan Jaksa Agung dan seroang lawyer terkenal ditahan sekejap di Singapura. Entah apalah pekerjaan kedua orang ini di sana, tetapi yang jelas Singapura itu sangat tegas menolak mempermasalahkan uang para koruptor Indonesia yang dibawa ke negaranya. Ia menyimpan dan melindungi para koruptor itu. Indonesia bisa berbuat apa? Tanpa alat dan kewibawaan memaksa? Atas solidaritas sesama ASEAN? Itu menjadi hayal belaka.

Akan berbuat apa Indonesia untuk kemajuan masyarakat ASEAN dan global jika agenda memanusiakan warganya tetap tak bersungguh-sungguh? Pilihan dunia memang hanya satu: secara politik membangun pemerintahan lokal yang kuat sebagai komprador asing. Dengan begitu kita hanya memiliki boneka. Nah, sekarang dayunglah di antara banyak karang. Jangan berpikir Tanah Karo yang subur bisa merajai pasokan sayur dan buah di ASEAN. Pemerintah kita memusuhi petani dan kebijakannya untuk agraria sangat bodoh dan memperbodoh. Pemerintah memiliki komoditi pupuk sebagai salah satu alat pemerasan (korupsi). Hanya orang gila yang tidak tahu mengapa ubi begitu banyak tetapi harus diimpor ke sini. Sekarang beri nilailah kedaulatanmu.

Bergabung dengan masyarakat dunia dengan keburukan persediaan energi adalah hayal yang lain. Ditambah dengan buruknya infrastruktur jalan dan jembatan. Belum lagi para pejabatnya harus banyak masuk penjara karena korupsi. Masyarakat Indonesia sangat sabar atas perlakuan para penjahat yang mendapat legitimasi sebagai pemerintah. Indonesia memang menjadi salah satu tujuan investasi terpavorit di antara ratusan Negara (urutan ke 9). Tetapi apa keuntungannya? Jika hanya menjadi pasar bagi dunia? Tak pernah beranjak kecuali ekspor industri ekstraktif. Entah mengapa tak ada kemauan untuk industry setengah jadi atau bahan jadi. Alasan klasik selalu ditonjolkan, tak ada modal dan tak ada ahli. Padahal semua Negara mengalami itu, tetapi negera yang tadinya lebih terbelakang pun mampu bangkit melebihi capaian Indonesia. Mengapa? Ada mentalitas komprador yang begitu parah.

Para diplomat dengan lantang akan berkata, kita sangat dihargai dan harus berpartisipasi untuk ASEAN dan masyarakat dunia. Tidak ada yang salah dalam ucapan itu. Tetapi lebih baik mengevaluasi diri untuk tidak menjadi kopmprador. Tegakkan diplomasi substantive. Pancasila memarahimu menjadi mata rantai penjajahan baru, apalagi di negerimu sendiri.

 

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Medan Bisnis, Medan Senin, 27 Mei 2013, hlm2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: