'nBASIS

Home » ARTIKEL » REVITALISASI SPIRIT KEMAHASISWAAN

REVITALISASI SPIRIT KEMAHASISWAAN

AKSES

  • 512,201 KALI

ARSIP


400px-types-of-social-movements.svg

Pendahuluan. Makalah ini akan dibatasi hanya pada upaya penelaahan atas dua pertanyaan utama, yakni (1) mengapa kita memerlukan revitalisasi spirit kemahasiswaan, dan (2) apa saja yang menjadi tantangan keindonesiaan kontemporer.

Saya menangkap maksud tema pembahasan yang ditentukan dalam seminar ini sebagai upaya serius untuk mendorong gerakan perubahan dalam bingkai semangat kebangkitan nasional dengan titik berat pada peran mahasiswa. Di tengah globalisasi saat ini perubahan adalah keniscayaan belaka, tetapi tidak dengan perubahan itu kita lantas tanpa arah. Baik gerakan maupun perubahan, dan begitu juga kebangkitan, dalam konteks ini, difahami harus tetap bersandar pada nilai-nilai ajaran Pancasila dan UUD 1945 itu. Dengan kerangka seperti itu kita berharap Indonesia Berjaya ke depan. Menjadi Negara-bangsa yang adil dan makmur, mampu memenuhi kewajiban dan tanggungjawabnya ke dalam (mensejahterakan rakyat) dan ke luar (ikut bertanggungjawab menyehatkan tata dunia untuk perdamaian, keadilan dan kemakmuran).

Revitalisasi Spirit Kemahasiswaan. Mahasiswa begitu menonjol di antara para pelaku banyak revolusi dan gerakan-gerakan revolusioner yang pernah tercatat oleh sejarah. Begitu pun bentuk-bentuk politik kontroversial lainnya. Gerakan mahasiswa, baik gerakan yang seluruh pelakunya mahasiswa atau sebagian besar mahasiswa, adalah merupakan fenomena modern yang khas. Kemunculan mereka lazimnya didasarkan pada idealisme dan panggilan moral (moral obligation). Selain itu konon gerakan mahasiswa muncul dalam segala bentuk masyarakat modern yang menyertasi proses modernisasi. Posisi mereka sering sebagai agen perubahan, dan terkadang dalam posisi memberi reaksi terhadap perubahan yang dianggap merugikan. Karena itulah biasanya mereka selalu hadir sebagai penantang rezim yang dirasakan kurang berkenan, apalagi rezim itu selain bobrok kurang mendapat legitimasi atau otoritas moral[1].

Tetapi ada kalanya mahasiswa terlihat seakan kehilangan jatidiri sehingga tidak memiliki dinamika. Ini mencemaskan. Jika kelompok strategis paling ideal bisa berdamai dengan berbagai bentuk ketidak beresan yang terjadi di lingkungannya, baik level lokal, regional maupun nasional, sesuatu yang buruk yang akan terjadi masa depan sangat mengkhawatirkan. Kita harus memeriksa itu secara cermat.

Indonesia telah mencatat perulangan gerakan mahasiswa dan pemuda yang akhirnya dipandang sebagai tonggak matarantai sejarah kedirian Indonesia. Mengingat sejarah Indonesia yang kita sudah tahu semua, maka sejarah awal gerakan mahasiswa dan pemuda adalah bentuk-bentuk respon yang terpecah-pecah dan tak berpola atas perlakuan-perlakuan kasuistik kolonial. Pada tahun 1928 para pemuda telah menun-jukkan  suara  yang tegas atas pentingnya konsolidasi sembari menebar sentimen anti-kolonial yang serius. Terlepas dari kesimpangsiuran interpretasi dari para ahli sejarah, tetapi tidak ada yang membantah peran para pemuda dan mahasiswa dalam memerdekakan Indonesia tahun 1945.

Rentetan instabilitas politik dan ekonomi yang terjadi pada  tahun 1960-an,  peran kelompok-kelompok mahasiswa  sayap kanan tercatat demikian gencar melakukan berbagai tekanan dan sejumlah demonstrasi yang  menyerukan berbagai tunutan. Presiden Sukarno  dituntut dengan Tritura (tiga tuntutan rakyat: Turunkan Harga, Belakasangan dengan Supersemar Soekarno akhirnya benar-benar kehilangan kekuasannya digantikan oleh Suharto.

Malari 74 adalah protes yang menunjukkan keresahan mahasiswa atas kebijakan ekonomi dan politik pemerintahan. Meskipun nanti akan terdapat perbedaan penafsiran lagi, tetapi interupsi besar terhadap Soeharto justru pada awal-awal kekuasannya ini adalah gerakan mahasiswa. Sebetulnya generasi mahasiswa angkatan 1978 juga memiliki pemikiran-pemikiran yang kritis sehingga diangap perlu (oleh pemerintah) melakukan pembenahan kemahasiswaan dengan introduksi NKK dan BKK. Mahasiswa dianggap tidak perlu mengimplementasikan pikiran-pikiran kritisnya dalam berbagai bentuk protes yang mengganggu stabilitas. Kemudian kelompok mahasiswa yang mungkin harus dicatat sebagai yang terluas sepanjang sejarah Indonesia, telah  juga memainkan peran kunci  pada tahun 1998 yang berakibat  jatuhnya Suharto. Semua kita masih mencatat tuntan mahasiswa, yang jika dibandingkan dengan keadaan sekarang, keadaannya belum seperti diharapkan.

Jika berdasarkan catatan-catatan di atas tampak bahwa gerakan mahasiswa dalam proses demokratisasi masyarakat begitu jelas, dan bahkan dengan berhadap-hadapan langsung dengan kekuatan rezim otoriter, kira-kira apa penyebab  sehingga di tengah ketidak-beresan kini mahasiswa seolah tidak peduli? Rumus yang lazim adalah bahwa jika kondisi genting dalam memuncaknya keluhan sesuai moralistik politik, tidak adanya oposisi yang efektif dalam pemerintahan dari, aktor politik yang lebih kuat lainnya, dan kurangnya sekutu yang kuat, mengapa mahasiswa tidak menunjukkan tanggungjawabnya kecuali pada hal-hal yang kurang mendasar?

Pasca penumbangan Soekarno catatan tentang gerakan mahasiswa telah berujung pada rekrutmen politik rezim Soeharto sehingga seakan sah oleh orang sekarang dituduh sebagai penyerahan cek kosong kepada Soeharto, maka setelah tahun 1998 apakah mahasiswa Indonesia juga telah terakomodasi dalam kekuasaan politik dan yang membuatnya menjadi tidak kritis lagi?[2]

Sampai sejauh ini kita belum faham mengapa mahasiswa tidak begitu peka atas berbagai masalah yang melilit Negara-bangsa, di antaranya:

·         Korupsi yang merajalela[3];
·         Perdearan narkoba[4];
·         Penegakan hukum yang tidak adil[5];
·         Demokratisasi yang tidak beranjak dari target prosedural demokrasi dan malah lebih sempit demokrasi elektoral belaka[6];
·         Sentralisme yang makin menguat dalam proses menuju iklim Orde Baru[7];
·         Kesenjangan ekonomi (regional dan horizontal)[8];
·         Pengelolaan sumberdaya alam yang mengisyaratkan liberalisasi yang mengorbankan kepentingan nasional[9];
·         Pendidikan semakin seremonial dan menghindari substansi sebagaimana terlihat dengan kebijakan pengkastaan yang inherent dalam UN[10];
·         Dan lain-lain.

Dengan segenap permasalahan itu ada pengamat yang mengatakan bahwa Indonesia sudah hampir berada pada posisi Negara gagal (failed country)[11].  Lalu mengapa mahasiswa tidak merasa ada yang tak beres di negeri ini?

Saya tidak bermaksud sama sekali memprovakasi mahasiswa. Tetapi keanehan ini mestilah diberi jawaban. Dalam berbagai teori sosial yang dikembangkan selalu ada prasyarat untuk sebuah gerakan (revitalisasi), dan di atas segalanya kepekaan menjadi hal terpenting[12].

Menurut hemat saya diperlukan pembenahan serius baik pada level individual maupun pada level kelembagaan mahasiswa.

tiga

Tantangan Keindonesiaan Kontemporer. Dalam kaitannya dengan (tak sekadar seremoni Hari Kebangkitan Nasional), saya ingin memetakan tantangan keindonesiaan kita kontemporer dengan menganalisis faktor-faktor kritis yang inherent dalam internal kebangsaan dan kenegaraan kita, juga faktor lingkungan internasional, yang keseluruhannya dilihat sebagai sesuatu yang tidak berdiri sendiri dan sama sekali tidak ahistoris.

Agenda yang digambarkan dalam skema di bawah ini akan sangat menarik bagi negarawan, tetapi sama sekali tidak untuk para penggantang kekuasaan. Tujuannya memang untuk memanusiakan manusia Indonesia, menegarakan Negara Indonesia, dan bukan merubah NKRI dari Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi Negara Kepartaian Indonesia.

 satu

Penutup. Menilik pada sejarah perjuangan bangsa, mahasiswa selalu berperan dalam perkembangan politik, sejak masa Budi Utomo sampai dengan era Reformasi. Mahasiswa sebagai bagian integral dari generasi muda yang memiliki kedudukan dan peran strategis, secara intelektual telah teruji, memiliki peluang besar sebagai pemimpin masa depan. Karena dalam setiap perubahan politik dalam berbangsa dan bernegara mahasiswa selalu menjadi ujung tombak, maka proses pematangannya sangat menjanjikan kualitas. Diharapkan setiap pemikiran dan gerakan mahasiswa harus berciri kehidupan akademik dengan kejelasan konsep, produk analisis akademik yang dilakukan secara intelektual, objektif, ilmiah,  dan dengan keteguhan sebagai insane yang beriman dan bertakwa dan memiliki tanggung jawab moral. 
Shohibul Anshor Siregar

[1]Dalam gelombang dan kutun yang berbeda, gerakan mahasiswa secara merata muncul di negara-negara otoriter di Eropa, Asia, Afrika, dan Amerika Latin, serta di negara-negara demokrasi liberal di Negara-negara industri modern. Secara akademis harus dicatat bahwa gerakan mahasiswa memiliki sumbangan penting dalam pengembangan teori gerakan sosial.

[2] Sebuah sumber menyebut bahwa saat ini dunia, termasuk Negara-negara berkembang seperti Indonesia sama-sama menghadapi masalah besar, di antaranya Abortion, Affirmative Action, Ageism/Age Discrimination, Airport Screening Procedures, Alcoholism, Animal Rights, Anti-Muslim Discrimination, Binge Drinking, Birth Control, Bullying, Campus Crime, Capital Punishment/ Death Penalty, Child Labor, Classism, Cloning, Corporate Downsizing, Date Rape, Domestic Violence, Drinking and Driving, Drug, Abuse / Drug Addiction, Eating Disorders, Embryonic Stem Cell Research, Environmental Pollution, Environmental Racism, Euthanasia / Assisted Suicide, Gang Violence, Gay Rights, Genetic Engineering, Gentrification, Global Warming, Gun Control, Hate, Crimes, Hazing, Health Care Reform, HIV / AIDS, Home Forclosures, Homelessness, Human Trafficking, Hunger, Identify Theft, Illegal Immigration, Legalization of Marijuana, Legalization of Prostitution, Mass Murder, NRA National Rifle Association, Obesity, Organ and Body Donation, Outsourcing Jobs, Polygamy, Pornography, Poverty, Prayer in Schools, Prison Rape, Racial Disparities in Health Care, Racial Disparities in Sentencing, Racial Profiling, Racism, Recycline and Conservation, Same-Sex Marriage, Sex Trade, Sexism, Sexual Harassment, Sexting, Single Parenting, Smoking / Tobacco Use, Social Networking and Privacy, Steroid Use in Sports, Stereotyping, Sweat Shops, Teen Pregnancy, Terrorism, Unemployment, Violence in Schools, Violence in Music Videos, Violence in Video Games. Tentu Negara tertentu lainnya dan kota-kota besar di dalam satu Negara tertentu dapat menambah daftar itu menjadi lebih panjang.

[3] Dalam khutbah Idulfitri di Jogjakarta tahun lalu, Busyro Muqoddas menyebut para aparatur Negara kita sudah semakin canggih dengan perencanaan korupsi sehingga dengan berbagai cara dan khususnya regulasi. Itu sebabnya para koruptor kecil saja yang mewarnai tindakan penegakan hokum terhadap korupsi;

[4] Sebetulnya Indonesia bertekad bebas narkoba tahun 2015. Tetapi dengan kondisi saat ini (Indonesia menjadi Negara terburuk ketiga dalam hal narkoba) rasanya sangat tidak mungkin. Peredaran narkoba membuat pembiayaan sia-sia dan korban manusia sia-sia. Konon peredaran uang narkoba malah lebih besar dari peredaran uang yang lain.

[5] Kita bukan cuma terheran-heran mengapa KPK tidak begitu bardaya. Padahal ia adalah institusi extraordinary yang dirancang untuk bertindak seleluasa mungkin. Nyatanya para pencuri kecil diadili sehebat-hebatnya sedangkan penjahat yang paling berbahaya dibuat aman.

[6] Indeks Demokrasi Indonesia menurun, setidaknya jika dibandingkan antara tahun 2011 dan 2012. Verdi Haditz sangat pesimis atas keadaan ini meski banyak yang lain menilai demokrasi Indonesia sudah on the track dan terus menerus terkonsolidasi.

[7] Otonomi yang didesign dengan UU no 22 Tahun 1999 akhirnya direvisi dengan UU no 32 Tahun 2004. Banyak aturan-aturan lain yang dbuat untuk memperkecil makna otonomi itu. Kini otonomi itu sudah dirampas kembali oleh Jakarta.

[8] Sebuah disertasi doktor yang belum lama ini dipertahankan di kampus IPB menunjukkan begitu buruknya kartelitas politik mendesign sumberdaya tak terdistribusi secara adil. Akhirnya fenomena ketidak-adilan terjadi secara horizontal maupun vertical. Evaluasi demokrasi Asia tahun 2011 juga menunjukkan bahwa Indonesia adalah Negara yang paling tak bersedia mendistribusi hasil pembangunannya kepada rakyat.

[9] Pada semua proyek raksasa capital intensive Sumberdaya alam, secara konsisten terjadi 3 kejahatan secara simlutan, yakni kejahatan keuangan Negara, kejahatan kemanusiaan dan kejahatan lingkungan.

[10] Bagi saya Ujian Nasional itu bukan tidak perlu. Tetapi ia bukan prioritas. Bayangkan ujian yang berbiaya besar itu mengalokasikan 2/3 hanya untuk para petugas dan dengan kualitas penyelengaraan yang semakin buruk tiap tahun. Tingkat keterpercayaan hasilnya pun sangat rendah. Jika alokasi dana itu diperuntukkan bagi perbaikan gedung, niscaya hasilnya lebih menguntungkan. Kiranya kita seperrti memakai dasi tetapi belum memiliki celana dan baju.

[11] Fund for Peace and the magazine Foreign Policy memetakan kriteri Negara gagal itu berdasarkan ukuran mencakup bidang-bidang yang luas, yakni (a) Social (meliputi: Mounting demographic pressures, Massive displacement of refugees, creating severe humanitarian emergencies, Widespread vengeance-seeking group grievance, Chronic and sustained human flight), (b) Economic (meliputi: Uneven economic development along group lines, Severe economic decline), (c) Political (meliputi: Criminalization and/or delegitimization of the state, Deterioration of public services, Suspension or arbitrary application of law; widespread human rights abuses, Security apparatus operating as a “state within a state”, Rise of factionalized elites, Intervention of external political agents).

[12] Sebuah teori yang dikenal dengan “Social strain theory”, atau yang kerap juga disebut “value-added theory”, berusaha menjelaskan adanya paling tidak 6 faktor yang terkait dengan kemunculan gerakan sosial, yakni: (a) structural conduciveness: people come to believe their society has problems; (b) structural strain: people experience deprivation; (c) growth and spread of a solution: a solution to the problems people are experiencing is proposed and spreads;  (d) precipitating factors: discontent usually requires a catalyst (often a specific event) to turn it into a social movement; (e) lack of social control: the entity that is to be changed must be at least somewhat open to the change; if the social movement is quickly and powerfully repressed, it may never materialize (f) mobilization: this is the actual organizing and active component of the movement; people do what needs to be done.

Rujukan:

Boren, M. E. (2001), Student Resistance: A History of the Unruly Subject. Routledge, New York.

Gitlin, T. (1981), The Whole World is Watching: The Mass Media in the Making and Unmaking of the New Left. University of California Press, Berkeley.

Miller, J. (1987), Democracy is in the Streets: From Port Huron to the Siege of Chicago, Simon & Schuster, New York.

Rootes, C. (1980) Student Radicalism: Politics of Moral Protest and Legitimation Problems of the Modern Capitalist State

Churchill, W. & Wall, J. V. (1990). The COINTELPRO papers: Documents from the FBI’s secret wars against domesticdissent,Boston: South End Press.

De la Porta, D. & Diani, M. (2006). Social movements: An introduction (2nd Ed). Malden MA:Blackwell Publishing.


Catatan: Makalah ini disampaikan pada Seminar Revitalisasi Spirit Kemahasiswaan Dalam Kaitannya dengan Kebangkitan Nasional di Kampus Unimed, Medan 10 Juni 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: