'nBASIS

Home » ARTIKEL » PRIORITAS GANTENG

PRIORITAS GANTENG

AKSES

  • 556,237 KALI

ARSIP


Minggu pagi, semalam, seorang jurnalis lokal mengajukan sebuah pertanyaan singkat kepada saya: “apa prioritas Ganteng ke depan?”  Meskipun saya tahu visi dan misi pasangan ini sebagaimana disampaikan ketika musim kampanye, tetapi saya tidak ingin mendiskusikan itu. Akan tetapi tidak untuk mengatakan bahwa dokumen mereka tidak baik. Kepada jurnalis lokal itu, inilah jawaban saya.

Pertama, menyepakati pola kerja yang boleh disebut semacam pembagian tugas yang akan mendukung duet ini 5 tahun ke depan. Bukan mengingkari apa kata UU tentang hal ini. Tetapi maksud saya untuk membuat T Erry Nuradi tak menganggur. Orang yang menganggur itu kerap menghayalkan yang bukan-bukan. Bahkan menurut para ahli orang yang menganggurlah yang selalu tidak mempunyai waktu untuk mengerjakan sesuatu.
Kita semua tahu, duet ini sangat rentan pekong (pecah kongsi). Keduanya dari partai yang berbeda. Apalagi jika ditilik dari perasaan seorang “tuan rumah” lokal (Melayu, T Erry Nuradi), mungkin saja Gatot Pujo Nugroho (Jawa) adalah “seorang asing” yang sangat beruntung di antara pesaing-pesaing pilgubsu. Pada zaman otonomi ini fundamentalisme territorial dan keetnisa justru menguat. Selain itu Sumut juga punya bukti empiris pekong, saat Syampurno berakhir tragis. T Erry itu punya spanduk bahwa dirinyalah gubernur paling tepat untuk Sumut, dan itu diklaimnya opini dan keinginan warga Sumut. Apalagi ia adalah adik Rizal Nurdin.
Sejumlah kasus ketidak-beresan dalam hal keuangan daerah yang melanda Gatot Pujo Nugroho sangat menjadi sebuah peluang besar bagi pihak manapun yang tidak suka Gatot Pujo Nugroho. Jika dia menyusul nasib Syamsul Arifin, siapakah yang akan menggantikannya?  Semua kita tahu jawabannya.
Kedua, bahwa kedua orang ini adalah tokoh pencitraan yang sangat ulung, dan miskin kinerja. Itu kita ketahui dari pengalaman dipimpin Gatot selama ditinggal Syamsul yang banyak memproduksi spanduk, baliho mahal dan iklan-iklan yang cuma mengarah pada kepentingan pribadi. Sergai juga sangat prihatin di bawah T Erry meski ia berhasil menggondol banyak sekali award. Karena itu berubahlah mereka menjadi khadim rakyat, bekerja untuk rakyat.
Ketiga, korupsi. Saya anggap sangat penting mereka berdua mengajak semua stakeholder untuk merumuskan peta korupsi lokal dengan menginventarisasi potensi korupsi, baik korupsi brankas (APBD/APBN) maupun korupsi non-brankas (non APBD/non APBN). Saya ajak mereka untuk memberikan contoh pemberantasan korupsi dari daerah, karena Jakarta nyata-nyata sudah gagal. Tetapi hanya orang bersihlah yang akan mau diajak ke arah ini. Jika meraka tidak mau, maka saya ragukan iktikad mereka.
Keempat, petiklah semua visi dan misi para calon gubernur yang menjadi pesaing mereka. Semua mengemukakan idelaitas pembangunan daerah. Jangan menjadi komprador yang menempatkan Sumut sebagai komoditi siap jual kepada para pemodal, termasuk asing. Utamakan rakyat, dan jangan hadapkan rakyat kepada kekuatan Negara saat rakyat tertindas oleh modal asing itu.
Kelima, bahwa kedua orang ini sudah pasti tahu siapa yang akan mereka berhentikan dari SKPD karena kinerjanya buruk meski hipokrit. Jangan ada perdagangan jabatan, serahasia apa pun itu dibuat, akhirnya pasti ketahuan juga ke publik.
Keenam, tolong dibuat komitmen untuk mendirikan Komda HAM di Sumut untuk mengeliminasi pelanggaran HAM yang demikian marak. Konon menurut KOMNAS HAM, Sumut adalah pelanggar HAM terbesar di luar Jawa, dan itu terkait dengan pemeranan diri pemerintah.
Ketujuh, mereduksi kesenjangan yang semakin parah. Semua orang tahu itu. Tetapi belum ada yang tahu bagaimana cara menanggulanginya. Berilah perhatian kepada penyeimbangan dan rakyat yang mayoritas tergantung kepada pertanian dan kelautan (nelayan kecil) perlu dipihaki dengan kebijakan yang real.
Kedelapan, perbaikan infrastruktur. Jangan lagi ada angan-angan seperti beberapa tahun lalu pemprovsu bermaksud membeli helikopter supaya mudah ke luar kota dengan tidak melalui jalan darat yang buruk itu. Lebih bagus perbaiki jalan agar rakyat bisa hidup layak.
Kesembilan, dana pendidikan dalam alokasi APBD selalu sangat mengherankan. Mereka tak bisa bermain-main dengan tuntutan imperative UUD 1945 yang menetapkan 20 % untuk pendidikan, dan jangan dimanipulasi.
Kesepuluh, jika kita ukur visi dan misi Syampurno dengan fakta hari ini, pencapaiannya sangat rendah. Tetapi itu tidak boleh terjadi ke depan.
Akhirnya saya berfikir lebih serius tentang kesenjangan. Lalu saya ingin mengulangi apa yang saya perbincangkan dengan sejumlah akademisi dua hari lalu di Medan. Dalam bahasa agama kefakiran itu sangat dekat dengan kekafiran. Pemimpin di mana saja tidak boleh membentengi dirinya dengan data (apalagi yang sifatnya manipulatif) untuk menutupi kelemahan mereka dalam mensejahterakan rakyat, apalagi memberi sesuatu agar orang miskin berhenti jadi miskin. Karl Marx berucap pedas menyindir, demikian:
Sebuah rumah, besar atau kecil tidak mengapa. Asalkan rumah-rumah tetangga juga kecil. Itu memenuhi semua persyaratan sosial bagi sebuah tempat tinggal kolektif. Tapi jika di sebelah rumah kecil berdiri istana, dan rumah kecil itu seakan menyusut seperti menjadi sebuah pondok. Ia akan menjadi pembeda yang jelas bahwa ada posisi sosial yang sama sekali tak dapat dipertahankan.  Rumah tinggi yang besar itu mungkin melesat dalam mengejar perjalanan peradaban. Tetapi penghuni rumah kecil akan selalu menemukan dirinya lebih nyaman, lebih puas, tak akan terasa lebih sempit dalam empat dindingnya, tanpa istana itu.
Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Medan Bisnis Medan, Senin 17 Juni 2013, hlm 2
Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: