'nBASIS

Home » ARTIKEL » JURNALIS LOKAL MINTA TANGGAPAN SOAL JUAL-BELI JABATAN

JURNALIS LOKAL MINTA TANGGAPAN SOAL JUAL-BELI JABATAN

AKSES

  • 512,716 KALI

ARSIP


WANIPIROMENYERAMKAN juga bayang-bayang ke depan Sumut. Selain peluang pecah kongsi, kelihatannya ada masalah lain yang cukup serius. Dugaan tentang jual-beli jabatan memang sensitif, tetapi jika tak ada api mana mungkin ada asap?
Tadi malam saya sangat cepat tidur, dan bangun sekitar pukul 02.00 WIB. Sangat penting bagi saya pagi itu memeriksa hp, siapa tahu ada sms atau surat elektronik (email) penting. Benar. Salah satu di antaranya dari seorang jurnalis lokal. Ia berkata begini:

“Asslm. Bang minta tanggapan tentang jual beli jabatan di pemprovsu pasca Ganteng dilantik. Lewat FB aja jawabannya ya bang. Ini untuk HL (Head Line) besok”.

Jadi sms itu telat saya baca. Tak begitu penting untuk direspon segera. Di luar dugaan, pagi hari itu juga ada 3 orang mahasiswa datang ke rumah bersama anak sulung saya yang juga aktivis itu. Kami nonton pertandingan sepakbola di depan tv sambil membincangkan banyak hal. Usai shubuh, mahasiswa itu pergi tidur, dan saya pun ingin mulai bekerja menyelesaikan beberapa makalah yang sudah terkendala penyelesaiannya beberapa hari.

Tetapi sebelumnya saya putuskan untuk memberi jawaban kepada jurnalis lokal yang tadi mengirimkan sms. Saya jawab dengan singkat di FB:

Jika benar bahwa jual-beli jabatan sedang terjadi di Pemprovsu pasca pelantikan pasangan pemenang pilgubsu 2013 GANTENG, maka mereka sudah mengawali langkah sangat buruk.

Sekali lagi, jika isyu ini benar, Gatot dan Erry tak lebih dari bandit kerah putih. Mereka berdua adalah musuh rakyat.Merperkaya diri secara tidak sah dengan memanfaatkan jabatan, termasuk dengan memberlakukan “upeti” sebagai salah satu syarat untuk rekrutmen pejabat adalah kebiasaan jahiliyah. Mengapa kedua orang ini mengabadikan tradisi jahiliyah? Saya sangat sedih.

Tradisi kejahiliyahan tidak muncul tiba-tiba pada sebuah pemerintahan maupun orang-perorang. Ia memiliki sejarah dan pengalaman masa lalu. Memang jika sudah kebiasaan, akan sulitlah dirubah. Dengan demikian Sumut ke depan pasti akan lebih buruk lagi di tangan kedua “bandit kerah putih” ini.Semua pihak termasuk media berkewajiban mengawasi dan jika memang terbukti, pihak penegak hukum tak perlu menunggu lama-lama untuk memproses mereka.

Saya menyadari bahwa isyu yang disodorkan untuk saya tanggapi cukup sensitif. Namun, lazimnya selalu ada pembenaran memakai pemikiran model lama “jika tak ada api mana mungkin ada asap”, atau jika tak ada berada, mana mungkin tempua bersarang rendah”.

Artinya, jurnalis lokal dengan kemampuan dan tanggungjawabnya sebagai media social control, investigasi yang dilakukannya tentu tidak sembarangan. Bagaimana jika ini fitnah belaka?

Oleh karena itu selain pada jawaban saya di atas isi pertanyaan saya anggap hanya berupa dugaan, untuk menutup jawaban tak lupa saya saya tambahkan sebuah catatan, demikian:

Dalam berita ini saya hanya memberi tanggapan atas info jual beli jabatan. Kebenaran info saya tidak tahu.
Jurnalis lokal itu pun menjawab: OK bg, terima kasssihh.
Shohibul Anshor Siregar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: