'nBASIS

Home » ARTIKEL » PHINISI NUSANTARA

PHINISI NUSANTARA

AKSES

  • 512,316 KALI

ARSIP


jk-jokowi

Tak sepi figur alternatif untuk Presiden Indonesia saat ini. Sebutlah Mahfud MD yang sudah mulai membitangi iklan Bejo anti masuk angin itu. Ya, jangan lupa menyebut Dahlan Iskan jurnalis itu. Begitu pun Chairul Tanjung. Membayangkan orang-orang ini memimpin Indonesia, memang tidak begitu mudah. Kita terbentur dengan mekanisme.

Salah satu perbincangan sosial media yang menarik perhatian saya pagi ini ialah JK dan Jokowi yang dipasangkan untuk Indonesia 2014-2019. JK kita tahu, bahwa dalam kapasitasnya sebagai Wapres mampu berperan melebihi Presiden pada periode 2004-2009 yang lalu. Ia juga orang pertama yang berteriak bahwa kasus Bank Century itu adalah perampokan uang negara.

Dengan latar belakang sebagai Walikota di sebuah daerah kecil, Jokowi seorang figur populer. Kita tahu bagaimana Jakarta takluk di bawah kekhasan perwatakan dan hal-hal tak terduga lainnya. Incumbent yang kuat dan didukung oleh banyak partai besar tersungkur. Suka atau tidak, kedua belah pihak pernah mengaku bahwa JK-lah orang penting yang menggagasa “penaklukan” Jakarta oleh Jokowi-Ahok dalam Pilkada kemaren.

Tetapi ada kritik saya lihat. JK dianggap telah berperan salah dalam inisiatif untuk peredaan konflik Aceh dgn kesepakatan Helsinki. Jokowi dianggap “anak patuh” di depan Mega yang juga seleranya selangit mau naik lagi coba-coba keberuntungan pada pilpres 2014. Lagi pula ada resistensi yang cukup besar jika Ahok yang akan memimpin Jakarta setelah Jokowi jadi Wakil Presiden.

Tentulah segudang pertanyaan lainnya pasti akan muncul, di antaranya tentang perahu tumpangan, yang jelas  belum terbayangkan untuk kedua orang ini. Apa bisa dengan perahu Phinisi Nusantara?

Hal yang lebih besar lagi yang patut dipertanyakan ialah kemaslahatan negeri ini. Pengarusutamaan perebutan kekuasaan untuk kekuasaan itu sendiri memang sudah tak terhindari, dan itu membuat agenda Indonesia yang sesungguhnya terabaikan. Ya, soal kemiskinan yang selalu dibuat tak usah difahami data kualitatif dan kuantitatifnya. Ya, soal pendidikan yang berkutat pada kebijakan-kebijakan elit yang tak memposisikan rakyat sebagai tanggungjawab utama. Banyak lagi yang lain.

Shohibul Anshor Siregar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: