'nBASIS

Home » ARTIKEL » KEBUTUHAN AIR BERSIH

KEBUTUHAN AIR BERSIH

AKSES

  • 545,455 KALI

ARSIP


tenderKAMIS pekan lalu sebuah seminar tentang air (Tirtanadi) diselenggarakan di sebuah hotel berbintang, di Medan. Saya dijadwalkan menjadi salah seorang pembicara, tetapi saya minta untuk tampil pertama setelah dibuka oleh Sekda Pemprovsu Nurdin Lubis yang menggantikan Gubsu Gatot Pujo Nugroho yang berhalangan hadir karena pergi ke Sei Mangke.

Pertama-tama saya ingatkan bahwa seyogyanya seminar mempersilakan para ahli berbicara dengan leluasa untuk mendefinisikan air bersih. Juga ahli yang mampu menghitung cermat kebutuhan air bersih untuk setiap orang, setiap rumah tangga dan setiap komunitas, serta para ahli yang kompeten berbicara tentang sumber air, instalasi dan pola distribusi serta pembiayaan. Apakah itu cukup? Tentu belum. Karena bandit-bandit perambah hutan juga harus dibahas dan direkomendasikan untuk ditangkap dan dipenjarakan.

Sumber air kita dari gunung (Tanah Tinggi Karo), yang dialirkan melintasi wilayah yang cukup jauh dan sebelum tiba di rumah konsumen, harus melewati dulu wilayah berliku di sekitar Deliserdang. Sekiranya hutan terus digunduli oleh para bandit itu, keseimbangan alam pasti sangat terganggu, longsor dan banjir saat musim penghujan pun bukan satu-satunya malapetaka. Air yang curah dari langit tidak terserap oleh ketiadaan atau ketidak-cukupan pepopohan beserta akar-akarnya dan tak akan terkendali alirannya ke laut setelah melanda rakyat (pemukiman, swah, ladang dsb). Jadi, siapa yang akan berbicara tentang hutan yang akan menjamin debit air dalam seminar ini? Pendeknya berbincang tentang air tanpa menyertakan masalah hutan yang dibabat terus, adalah sebuah kesia-siaan.

Hal kedua yang menjadi sorotan saya dalam seminar itu ialah totalitas kebutuhan akan air. Tentu tidak hanya terbatas pada air minum, mandi, mencuci dan seterusnya. Harus mencakup kebutuhan untuk irigasi (pertanian), pelestarian sungai, bahkan pemanfaatan laut yang terbentang di sekitar kita. Seminar tak mendesign untuk perbincangan selengkap itu.

Deklarasi Caracas, Venezuela. Wikipedia memberi perhatian yang luas tentang air dengan menerangkan antara lain aspek-aspek chemical and physical properties, distribution in naturein the universe and habitat zone, water on earth:  water cycle, fresh water storage,  sea water, tideseffects on life, aquatic life forms, effects on human civilization:  health and pollution,  human uses,  agriculture,  scientific standard for drinking,  washing,  transportation,  chemical uses,  heat exchange, fire extinction, recreation,  water industry,  industrial applications,  food processing,   water law, water politics and water crisis, water and culture, water and religion, water and philosophy dan  water in iteratures.

Mengingat pentingnya air, badan-badan dunia pun memiliki banyak aturan dan sorotan untuk sebuah pertanggungjawaban bersama. Pada tanggal 27 Januari 2007, misalnya, di Caracas, Venezuela, dilakukan sebuah deklarasi penting tentang air dan itu menunjukkan urgensi gerakan sosial yang harus diwujudkan untuk tidak saja mendorong penyediaannya sesuai kebutuhan. Tetapi juga mengontrol pihak-pihak maupun Negara yang abai atas tanggung jawab dan keharusan yang tepat dalam hal penyediaan atas kecukupan kebutuhan akan air.

Salah satu butir pernyataan Caracas berbunyi demikian: “Water is a common good and access is a fundamental, inalienable human right. Water is a patrimony belonging to communities, peoples and humanity; it is the essential basis for life on earth. Water is not a commodity! Therefore we reject all forms of privatisation, including Public-Private Partnerships”.

Mengapa kita ketar-ketir? Terlalu naïf rasanya jika disebut bahwa semua BUMN dan BUMD adalah ATM bagi pejabat sehingga sulit mendapatkan kinerja dan produk prima (Syed Hussein Alatas, 2006). Barangkali kita masih mewarisi semangat “revolusiner” anti penjajahan Belanda yang pernah membahana dulu, sehingga mencuri dari perusahaan milik Belanda dapat dianggap sebagai jasa besar untuk negeri. Tetapi kita sudah menasionalisasi semua milik Belanda itu dan oleh banyak pengamat ekonomi hal itu dianggap sebagai titik awal penting ekonomi nasional Indonesia (J.Thomas Linblad, 2002). Jadi PDAM Tirtanadi itu dan semua kebun-kebun itu, bukan lagi milik Belanda. Kita tak boleh lagi mencurinya. Kita tak boleh lagi merusaknya. Kita sudah berubah menjadi penjahat jika merusaknya. Justru sebaliknya kepahlawanan akan kita dapatkan jika kita mampu mengurusnya sebaik-baiknya  (Kunio Yoshihara, 2013).

Saya tidak tahu apakah ada yang sepakat dengan saya. Dalam banyak hal kedewasaan kita memandang hal-hal strategis untuk bangsa sangat mengecewakan. Lihatlah sepakbola kita. Banyak yang merasa bangga dengan mengandalkan pemain-pemain asing. Negeri ini kekurangan apa gerangan sehingga begitu gandrung membawa pemain asing? Maradona kemaren memang dikabarkan berniat melatih di sini jika diminta. Saya kira ia sedang berkata dalam hati: “weh Indonesia ini goblok ya. Saya kasihan. Tak apa nama besar saya sebagai mantan pemain top dunia saya korbankan di sini, di Negara bekas jajahan ini”.

Ketersediaan dan pelayanan energi kita memprihatinkan. Bukannya bangsa ini tidak tahu pentingnya energi untuk pembangunan. Kita memilih mengabadikan kriris itu dengan resiko besar tak hanya pelayanan dengan kekerapan hidup mati secara bergiliran. Ketika tahun 1970-an saya dan rombongan mahasiswa dari Medan dijelaskan begitu rinci oleh pimpinan Inalum bahwa nanti kita akan memperoleh surplus energy dari proyek itu. Rupanya semua itu bohong. Indonesia konon memiliki kekayaan potensi geothermal dengan 28,54 GWe sedangkan yang sudah dmanfaatkan hingga kini hanya 1,2 GW, atau hanya sekitar 4,2% dari total potensi (status 2011). Konon potensi geothermal Indonesia mencapai 40% dari Potensi geothermal dunia.

Lihatlah betapa kita tak ubahnya seperti tikus yang mati di lumbung dengan ketersediaan sumberdaya alam melimpah itu, hanya karena kita memilih pemerintah yang tak pandai dan tentu saja tak amanah (Dennis Gulet, 1989).

Toleransi Berlebihan. Bangsa ini sudah dibiasakan dengan standar pelayanan di bawah normal, termasuk tentang air bersih. Itu karena negaranya salah urus. Tetapi kita tidak mungkin menenderkan Indonesia untuk diperintah oleh orang-orang profesional, akuntabel, transparan dan berkemauan menegakkan hukum dari Negara/bangsa asing.

Saya ingin menutup pembicaraan saya dengan menawarkan diskusi tentang permissiveness kita atas segala macam bentuk ketidak-beresan di sekitar kita dan itu menyangkut maslahat hidup orang banyak. Kita harus berhenti mendiamkan kebobrokan terjadi di sekitar kita, apalagi mendapat keuntungan dari kebobrokan yang kita saksikan. Sebuah bentuk gerakan sosial harus diwujudkan untuk mengeliminasi kesewenang-wenangan dan konspirasi-konspirasi buruk yang sangat merugikan seperti yang terjadi selama ini.

 

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada Medan, Senin 8 Juli 2013, hlm B7

Gerakan Sosial untuk Air Bersih dan Sanitasi

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: