'nBASIS

Home » ARTIKEL » PARLUHUTAN SIREGAR

PARLUHUTAN SIREGAR

AKSES

  • 538,596 KALI

ARSIP


Drs. Parluhutan Siregar

Kesederhanaan itu tetap membekas sampai kini. Ia bahkan tidak mengantar jemput putera-puterinya ke dan dari sekolah, kecuali saat pagi hari kebetulan keluar rumah bersamaan dengan kepergian anak-anak itu ke sekolah. Atau ketika hari hujan lebat (jika hanya hujan gerimis, tidak). Ia memang sampai kini tidak memiliki mobil, kecuali kenderaan dinas sebagai Ketua Fraksi PAN DPRD Sumut. Hingga kini ia masih sering naik kenderaan umum dan menyuruh supir pergi duluan. Ia memilih cara ini (di samping mekanisme lainnya) dalam menyerap aspirasi rakyat yang diwakilinya. Beberapa tahun lalu ia membeli secara kredit sepeda motor, dan itu sering digunakannya sampai sekarang.

Tadi status saya khusus bercerita tentang teman-teman sebaya semasa kuliah (Hendra Gunawan, Chairul Bachri, Asrizal dan Shobrun). Nanti, dalam kesempatan lain, akan saya ceritakan juga tentang para senior saya yang saya rasa sangat berjasa kepada saya. Tetapi kali ini saya ingin menceritakan Parluhutan Siregar dan para junior saya yang sebaya dia.

Tentu akan ada yang bertanya: bagaimana orang-orang ini menjadi junior bagi saya? Ya, semasa kuliah saya termasuk aktivis organisasi, intra maupun ekstra universiter. Ketika saya menjadi Ketua Umum DPD IMM Sumut, Badko HMI sedang transisi (beralih kepemimpinan) dari seorang dokter (Abidinsyah Siregar) kepada Suaibun Manurung (IAIN, dan kini mengabdi di almamaternya). Saat itu Ketua GAMKI adalah Effendi Naibaho, sang wartawan SIB yang selalu gondrong. Ketua KNPI Sumut waktu itu dokter Wahab Sugiarto.

Jadi mereka ini (Parluhutan dan beberapa yang lain, yang akan saya ceritakan dalam status ini) saya anggap (dan mereka juga memang merasa) junior saya, terlepas apa jabatan mereka sekarang, dan akan sehebat apa peran mereka di negeri ini kelak.
*********

LAMA juga ia tak tamat-tamat kuliah (S2). Akhirnya pembimbingnya Prof.Dr. Arif Nasution memanggil: “Sebetulnya tak pantas diultimatum. Tetapi kalau tak mau menamatkan S2 ini maka USU pun lega mendrop out”. Bersayap bahasa prof itu memang, yang intinya “sisihkanlah waktu untuk penyelesaian S2 ini”.

Prof itu tahu kesibukannya, juga persis tahu soal kemampuan intelektualnya. Kedua orang ini lucu. Parluhutan memanggil “bang Arif”. Sedangkan prof memanggil “Bang Luhut”.

Ada kejadian terbaru di antara orang ini. Prof Arif mengontak bagian administrasi di Pascasarjana USU agar tidak menyerahkan ijazah S2 Parluhutan Siregar. Kontan Parluhutan Siregar bertanya-tanya: “Ada apa gerangan?”

Bertemulah mereka di kampus. “Maksud saya bang, abang harus mendaftar dulu S3 baru bisa kita berikan ijazah S2 itu”, terang Prof Arif. Parluhutan Siregar pun menjawab: “Kalau itu perintah abang, ya mana boleh saya bantah? Saya akan berusaha sekuat tenaga. Terimakasih, bang. Abang dorong dan bimbing saya terus”.

Maka disiapkanlah semua persyaratan untuk ikut test. Rencana disertasi disertakan. Jadilah mendaftar S3. Tentang keseriusannya belajar, bisa terlihat dari koleksi perpustakaannya di rumah maupun di ruang kerjanya. Sangat up to date, dan mendukung untuk tugas-tugasnya dalam bidang politik. Berapa belanjanya untuk bahan bacaan? Saya tidak tahu. Yang jelas saya kalah jauh.

Ia memang tak pernah berhenti sedetik pun dengan obsesinya menjadi seorang guru yang dijanjikannya akan ditekuninya kembali nanti setelah total pensiun dari partai politik. “Saya akan mendirikan sebuah lembaga pendidikan nanti, dan itulah pekerjaan saya di hari tua. Akan ada di lokasi pendidikan itu ruangan khusus untuk perbincangan serius dan nostalgia sesama teman seide dan seideologi”, katanya membayangkan.

Parluhutan Siregar (dia Drs tetapi saya tak tahu apa title S2-nya) adalah caleg “incumbent” untuk DPRD Sumut dari dapem (dapem atau dapil?) Medan-1 (dulu Medan hanya satu Dapem/Dapil, kini sudah dipecah menjadi dua). Sebelumnya ia terpilih dari Sumut 6 (Tapsel, Padangsidimpuan, Madina, Paluta dan Palas). Dalam periode pertamanya di DPRD Sumut, ia terpilih dari Binjai-Langkat (Dapem/Dapil Sumut berapa itu sekarang ya?).
*********

Jadi, Parluhutan Siregar sebetulnya adalah seorang guru, dosen dan juru dakwah. Itulah dunianya sesuai bidang keilmuan S1 yang ditekuninya (Ushuluddin). Tetapi jangan tanya soal matematika dan ilmu alam. Dia lulusan SMA IPA yang terjun bebas masuk ke Fakultas Ushuluddin dengan “mengeja-ngeja” bahasa Arab dan akhirnya menjadi kompeten dalam bidang itu. Tetapi, ayahnya seorang administrator sekaligus organisator yang sangat kuat visinya tentang pendidikan anak dan kesederhanaan hidup. Kesederhanaan dan ketekunannya adalah hasil pendidikan sejak dini itu.

Parluhutan Siregar aktif dalam dunia politik mengikuti “guru besarnya” Prof Dr M.Amien Rais yang mendeklarasikan Partai Amanat Nasional pasca memimpin reformasi yang antara lain menghasilkan penumbangan Soeharto (sejak 1995 Prof Dr M Amien Rais sudah menggelitik Indonesia dengan meminta suksesi jujur dan nasib bangsa jangan berhenti di tangan satu figur yang bertindak seperti raja).

Saat-saat yang genting itu ia (Parluhutan Siregar) giat membentuk komite (semacam sel-sel beranggotakan pendukung jaringan partai). Ia sebaya dengan tokoh muda Kota Medan yang populer di Sumut, Wempy Saragih (pernah menjadi Sekretaris PP Kota Medan, dan kini memimpin salah satu Ormas Kepemudaan di bawah arahan langsung Menko Perekonomian Hatta Rajasa). Juga ahli hukum kondang Abdul Hakim Siagian yang kemaren bermukim sementara di Negeri Belanda untuk penelitian disertasinya. Semasa kuliah pun mereka bertiga segenerasi dan sudah sangat akrab. Hanya saja Wempy Saragih, Abdul Hakim Siagian dan Parluhutan Siregar berbeda bidang Ilmu. Abdul Hakim Siagian menekuni bidang Hukum dan sangat piawai dalam bidang itu. Wempy Saragih itu menekuni Ilmu Pertanian, dan memiliki kekuatan nalar yang membuat pengkaji-pengkaji agama bisa terheran-heran. Misalnya tentang interpretasinya tentang burung ababil. Anda tahu apa burung ababil?
******

Di dalam keluarga, Parluhutan Siregar adalah seorang anak yang dalam ungkapan bahasa Batak sering disebut “sitoktok hite”. Tumpuan harapan orang tuanya yang sangat didambakan menjadi jembatan bagi pengentasan seluruh adik-adiknya.

Suatu ketika ia bercerita berurai air mata di ruang kerjanya, setelah mengunci pintu ruangan yang di dalamnya hanya ada kami berdua. “Kita ini anak-anak yang tak boleh berjuang demi diri sendiri. Kita punya tanggungjawab tak cuma untuk keluarga, tetapi juga untuk organisasi dan dakwah, kata Ketua Majelis Hikmah dan Kebijakan Publik PW Muhammadiyah Sumut ini. Ia mengaku sangat bersyukur dengan apa yang didapatkannya sekarang. “Saya ini abang tahulah, bersejarah kesusahan yang sangat panjang”, katanya. Bahkan ia mengaku pernah menarik ojek sore dan malam hari setelah pulang mengajar.

Kesederhanaan itu tetap membekas sampai kini. Ia bahkan tidak mengantar jemput putera-puterinya ke dan dari sekolah, kecuali saat pagi hari kebetulan keluar rumah bersamaan dengan kepergian anak-anak itu ke sekolah. Atau ketika hari hujan lebat (jika hanya hujan gerimis, tidak). Ia memang sampai kini tidak memiliki mobil, kecuali kenderaan dinas sebagai Ketua Fraksi PAN DPRD Sumut. Hingga kini ia masih sering naik kenderaan umum dan menyuruh supir pergi duluan. Ia memilih cara ini (di samping mekanisme lainnya) dalam menyerap aspirasi rakyat yang diwakilinya. Beberapa tahun lalu ia membeli secara kredit sepeda motor, dan itu sering digunakannya sampai sekarang.

Kini puteri sulungnya sudah mulai masuk kelas dalam bidang hukum di USU, karena begitu kuat rupanya bercita-cita menjadi Notaris. Puteri keduanya masih di SMA. Si bungsu seorang lelaki, masih SD. Ibu anak-anaknya adalah seorang puteri Aceh yang pandai memasak dan setia mendampingi serta mendorong perjuangan suami saat susah maupun senang. Tetapi saya tidak tahu apakah Parluhutan Siregar mahir berbahasa Aceh sebelum atau sesudah menikahi gadis Aceh.

Selain bahasa Aceh, ia juga lumayan berkomunikasi bahasa Jawa. Juga bahasa Minang. Dulu (2004) sewaktu KPUD Sumut mempermasalahkan ijazah Azwir (seniornya di PAN) menjelang penetapan Anggota Legislatif terpilih untuk Sumut, Parluhutan Siregarlah yang diutus secara resmi ke Sumatera Barat. Mencari bukti-bukti kesahihan persekolahan Azwir, membawanya dalam sidang di KPUD Sumut dan akhirnya kelar. Jika bukan karena keahlian dalam bidang investigasi dan approach serta penguasaan bahasa dan adat istiadat Minang, Parluhutan Siregar tak akan dipercaya untuk tugas itu.

Ada catatan kecil yang sangat lucu soal keterlibatannya dalam media sosial. Sewaktu mulai membuat akun Facebook, ia pun kewalahan. Rupanya banyak sekali akun dengan nama yang serupa. Bahkan yang persis sama dengan marga Siregar, banyak sekali. Maka ia rubahlah akunnya dengan Parluhutan Aby Farid Siregar. Banyak Parluhutan di dunia ini. Banyak pula Parluhutan Siregar. Tetapi politisi yang lahir menjelang detik-detik pecahnya G 30 S PKI ini adalah ayah dari Farid (Aby Farid). Itu solusi yang dibuatnya.
*******

Parluhutan Siregar kini menjabat Sekretaris Umum DPW PAN Sumut. Itu didapatkannya dengan sejarah yang sangat panjang. Mulai dari pembentukan komite-komite untuk pendirian jaringan partai. Di sisi Ibrahim Sakty Barubara (kini anggota DPR-RI), Parluhutan Siregar sangat penting terutama ketika Ibrahim Sakty Batubara memimpin PAN Kota Medan dan PAN Sumut.

Dalam hal pengalaman organisasi, Parluhutan Siregar mencatat sejarah penting. Di antaranya pernah menjadi Ketua Umum DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sumut tahun 200-an. Ia menggantikan Adi Munasip (mantan anggota DPRD Kota Medan dan kini Ketua PJB Sumut), digantikan oleh Putrama Alkhairi (mantan anggota DPRD Kota Medan dan kini Kepala Rumah Potong Hewan di Medan), seterusnya diganti oleh Kamaluddin Harahap (kini Wakil Ketua DPRD Sumut), Suheri Harahap (Mantan Sekretaris KNPI Sumut, dosen IAIN Medan), Muslim Simbolon (Anggota DPRD Sumut), Suhandi (aktivis politik), Zulfi Amri (Staf ahli di DPR RI), Zefrizal (akademisi).
*****

Kini di beberapa daerah sedang berlangsung persiapan Pemilukada. Periode lalu ia mencalonkan diri sebagai wakil Bupati Langkat. Kemaren, ketika saya tanya tentang suksesi di Langkat, ia mengatakan: “oh, pengalaman kalah periode lalu tidak sia-sia. Saya kini lebih mahir berhitung. Kita tak gegabah. Kita mungkin lebih baik saat sekarang mengusung pencalonan figur lain saja di Langkat”. Pak Sekjen, kemana dukungan PAN di Langkat, Deliserdang, Palas, Paluta dan Taput?

Sekadar catatan tambahan: PAN di Sergai memperoleh keberuntungan dengan naiknya T Erry Nuradi menjadi Wagubsu. Soekirman yang Ketua DPD PAN daerah itu sudah dilantik menjadi Bupati. Begitu kan, pak Sekjen?

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: