'nBASIS

Home » ARTIKEL » PRIMORDIALITAS

PRIMORDIALITAS

AKSES

  • 512,716 KALI

ARSIP


KAMBING LAGA

Dalam pameo lama memang ada disebut bahwa burung yang dapat terbang bersama itu hanyalah dengan susunan dan jenis bulu-bulu yang sama. Pipit yang cepat tidak akan pernah terbang bersama dengan elang yang bahkan lebih cepat. Periksalah formasi yang dibentuk oleh kawanan bangau, hijrah dari satu ke lain tempat dalam musim tertentu.

Fakta pertama etnisitas adalah penerapan perbedaan sistematis antara “orang dalam” dan “orang luar” dalam sebuah interaksi sosial. Antara “kami (kita)” dan “mereka”. Dari prinsip ini umumnya kelompok yang menganggap diri mereka sebagai khas mungkin cenderung untuk menjadi lebih mirip dan sekaligus semakin peduli dengan kekhasan mereka jika mereka meningkatkan kontak bersama sehingga terjalin perasaan dan kepedulian bersama. Dalam pameo lama memang ada disebut bahwa burung yang dapat terbang bersama itu hanyalah dengan susunan dan jenis bulu-bulu yang sama. Pipit yang cepat tidak akan pernah terbang bersama dengan elang yang bahkan lebih cepat. Periksalah formasi yang dibentuk oleh kawanan bangau, hijrah dari satu ke lain tempat dalam musim tertentu.

Beberapa penelitian empiris dalam ilmu sosial pada masyarakat polyethnic (bhinneka) yang kompleks yang kemudian dikenal sebagai aliran Chicago, yang terdiri dari sosiolog perkotaan serta antropolog (Park, 1950; dan Hannerz, 1980), menyelidiki beberapa masalah utama (antara lain oleh oleh Robert Park dan rekan-rekannya pada tahun 1920 dan 1930-an) adalah bagaimana bisa bahwa kelompok-kelompok etnis tetap khas di kota-kota Amerika -dan sejauh mana mereka melakukannya sesuai perjalanan waktu. Dengan kata lain, mereka sebetulnya menaruh rasa khawatir yang tidak pernah bisa hilang dengan kontinuitas dan perubahan dalam hubungan etnis.

Pada beberapa dekade lalu dikenal penggunaan luas konsep ‘akulturasi’ dan ‘American melting-pot‘ untuk memaksudkan upaya Park dan rekan-rekannya dalam kaitan penjembatanan antar etnis yang memang secara faktual begitu berbeda dengan penuh ketegangan itu. Dengan akulturasi, mereka berarti dibayangkan menjalani adaptasi sebagaimana imigran dengan konteks budaya baru mereka di suatu tempat baru misalnya. Itu memang bisa, tetapi tidak harus, yang akhirnya diharapkan menyebabkan asimilasi total atau kehilangan kekhasan etnis.

Dunia sosial berhubungan dengan lingkungan fisik yang khas, yang pada umumnya harus dibagi dengan perbedaan akses terhadap sumber daya ekonomi serta hal-hal faktual di seputar perbedaan etnis itu (fisik dan non fisik). Kombinasi adaptasi ekonomi dan identitas etnis sedemikian rupa telah menciptakan ‘daerah alami’ seperti Little Sisilia dan ‘Black Belt’ di Chicago. Ekonomi, sumber daya politik dan budaya yang untuk sebagian besar dikumpulkan dalam setiap subsistem etnis sehingga individu bisa mencapai banyak dari tujuan-tujuannya yang lebih terpuasi melalui jaringan etnis. Ada solidaritas khas di sana.

Mobilitas dalam sistem secara keseluruhan dapat dicapai melalui akulturasi yang pada gilirannya tergantung pada keberhasilan ekonomi individu atau kelompok. Tetapi gagasan American Melting-pot itu rupanya harus memiliki silsilah panjang. Pada tahun 1900, hampir 80 persen penduduk Chicago terdiri dari imigran dan anak-anak mereka, dan hingga akhir 1930, sekitar 35 % dari populasi adalah lahir di negeri asing. Setelah ‘kebangkitan etnis’ tahun 1960-an dan 1970-an, telah menjadi biasa untuk mengkritik gagasan American Melting-pot karena telah secara empirik terbukti salah karena meramalkan kematian etnis.

Para kritikus boleh saja akan menilai penting mempertahankan gagasan itu, sedangkan fakta empiris menunjukkan kelompok etnis tidak pernah bergabung secara sungguh-sungguh, dan memang perbedaan antara mereka tampaknya telah ditekankan setelah dua generasi atau lebih saling adaptasi. Penekanan bahwa etnis, dan konflik etnis (atau prasangka ras), merupakan aspek dari hubungan antara kelompok dan bahwa hal itu disebabkan oleh ancaman, nyata atau imajiner, adalah sebuah ‘pola ekologi’ yang berada pada proses penyesuaian yang saling menguntungkan. Mobilitas sosial (kebawah atau keatas) dari kelompok etnis akan menyebabkan ketegangan dalam hubungannya dengan kelompok lain.

Dunia Politik. Dalam dunia politik persaingan etnis tidak pernah absen. Malah mungkin dalam bidang inilah persaingan etnis semakin memiliki alasan untuk ketegangan apalagi didasari dengan prasangka-prasangka yang mengikuti perbandingan-perbandingan fakta objektif capaian masing-masing etnis. Sebetulnya dalam tataran lebih tinggi, semua etnis dalam sebuah Negara diharapkan menyatukan diri dan bermain dengan pengaturan dinamis yang menekankan pentingnya kebersamaan dan persatuan selain perasaan senasib dan sepenanggungan. Tetapi ideologi kebangsaan dan kenegaraan yang diintroduksi dan diindoktrinasikan selalu tidak sepi dari tantangan-tantangan nyata yang menyebabkan sulitnya menghindari rivalitas etnis yang menjurus kepada ketegangan dan perpecahan.

Dalam sebuah kitab suci sebetulnya diterangkan kesatuan dalam iman. Tak dinafikan perbedaan itu karena itu tantangan ukhuwah dan kesaling-kenalan dalam perbedaan. Tuhan lebih menghargai tinggi ketuhanan yang merelatifkan keetnisan dalam urgensinya setiap hari.

Begitulah

Shohibul Anshor Siregar (dari berbagai sumber)

Rujukan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: