'nBASIS

Home » ARTIKEL » PERTUMBUHAN YANG LEBIH INKLUSIF?

PERTUMBUHAN YANG LEBIH INKLUSIF?

AKSES

  • 538,714 KALI

ARSIP


DAUN SALAM

JIKA di rumah persediaan garam kebetulan habis saat memasak, tidak mengapa minta sedikit dari tetangga. Daun salam yang tumbuh di halaman itu pun, juga bukan komoditas komersil. Bahkan yang empunya kerap diteriaki dari luar pagar sekedar memberi isyarat bahwa seseorang perlu dan akan memetik.  Garam dan daun salam itu sebetulnya komoditas komersial juga. Makin guyub masyarakatnya, makin lazim.

Tetapi harta dan kekayaan tidak seperti itu. Ia lebih mirip dengan kecantikan. Harus dimonopoli kepemilikannya dan tak ada celah untuk berbagi atau menyepakati kepemilikan bersama. Harus penuh keangkuhan, sebab kalau tidak kekayaan dan kecantikan bisa raib.

Tanggal 19 September 2012 yang lalu Thomas, Vinod (Direktur Jenderal Evaluasi Independen di Bank Pembangunan Asia di Manila) mengungkapkan pengandaiannya atas sisi inklusivitas pertumbuhan.  Barangkali tepat disebut bahwa hatinya mendua. Dalam kecemasan akibat menurunnya pertumbuhan akibat krisis global, ia juga berharap sesuatu: “bagaimana jika pertumbuhan itu sekaligus memastikan secara kaku ketimpangan?” Memang aneh, boleh disebut tak masuk akal.

Waktu itu Proyeksi terbaru Bank Pembangunan Asia untuk negara-negara berkembang di kawasan ini adalah untuk pertumbuhan masih sehat dari 6,9 persen tahun ini dan 7,3 persen pada 2013. Untuk pengembangan masyarakat, keberhasilan dalam mempertahankan pertumbuhan yang kuat akan sangat bergantung pada negara-negara mencari solusi yang efektif untuk mengurangi ketidak-setaraan, meningkatkan pendapatan dan kesempatan di banyak negara berkembang di Asia dan Pasifik.

Untuk melakukannya membutuhkan pilihan ekonomi yang cerdas. Itu katanya. Dengan dukungan untuk mata pencaharian dan pelatihan keterampilan dan kebijakan untuk mengembangkan sektor yang dinamis bagi pengusaha kecil, pertumbuhan inklusif – pertumbuhan ekonomi yang luas dan penuh kebersamaan – membuka sumber kemakmuran baru dan memperluas basis sumber daya manusia.

Mahbub Ul-Haq telah lama berteriak tentang ini. Melalui bukunya “Tirai Kemiskinan”, ia mendapat sambutan di mana-mana ketika berucap omongkosongnya gagasan pertumbuhan (growth). Ia tak memaknainya sebagai kemakmuran sebuah negeri.

Salah satu ekspresi hegemoni gagasan pertumbuhan adalah perbudakan modern. Sebuah lembaga internasional mengatakan baru-baru ini bahwa kini, di seluruh dunia, diperkirakan 20,9 juta orang tinggal di bawah pengaruh langsung atau tidak langsung perbudakan modern yang merendahkan martabat dan kemanusiaan. Orang dipaksa untuk bekerja secara efektif tanpa dibayar; terperangkap di belakang kondisi yang buruk,  dunia yang paling rentan dihukum seumur hidup, pelecehan dan tenaga kerja yang ekstrim. Jika ini karakteristik perbudakan, maka sebetulnya angka yang hidup dalam kondisi serupa malah berpuluh kali lipat.

Banyak orang berpikir perbudakan dihapuskan segera dan banyak Negara mengadopsi faham keharaman perbudakan dalam segala bentuk. Tetapi mereka telah lama stagnan dalam batas retorika. Jika semalam dengan penuh semangat berteriak untuk anti perbudakan, maka sebetulnya hari ini ada lebih banyak orang yang hidup dalam perbudakan. Bahkan lebih besar jumlahnya daripada orang yang dulu diambil dari Afrika ke Amerika dalam perdagangan budak trans-Atlantik yang luas antara abad 17 dan 19.

Dengan logika pertumbuhan penderitaan manusia tetap akan semakin massal. Suka atau tidak suka. Karena itu dicari resep guyub dunia, agar daun salam tetap bisa diminta secara gratis di rumah tetangga dan tidak perlu ada peperangan untuk itu atas nama bendera dan lagu kebangsaan mana pun. Memang nasionalisme gaya baru semakin tak manusiawi, dan itu akan menjadi artikulator untuk selera saling bunuh di antara warga dunia.

Shohibul Anshor Siregar. Diterbitkan pertamakali oleh Harian Medan Bisnis, Rabu 24Juli 2013, hlm 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: