'nBASIS

Home » ARTIKEL » MENCARI NAPI YANG MELARIKAN DIRI

MENCARI NAPI YANG MELARIKAN DIRI

AKSES

  • 538,714 KALI

ARSIP


Berapa sisa napi yang masih belum tertangkap setelah pelarian yang menyusul kerusuhan di Lapas Tanjung Gusta Medan itu? Sepertinya saat ini sudah mulai tak penting, seiring surutnya media dari perhatian itu dan munculnya pusat perhatian baru yang lebih seksi. Mungkin saja ini memang nanti dianggap sudah wajar dilupakan saja, apalagi pemerintah pun mungkin tak sanggup menangkapnya atau menganggap pekerjaan untuk itu hanya akan menambah terbukanya kebobrokan pengelolaan Lapas.

SEORANG muslim yang sedang berpuasa. Ketika hari sudah senja dan waktu berbuka sudah tinggal beberapa menit saja. Sebuah keterpaksaan tiba, yang membuatnya  harus memilih berbuka puasa atau meneruskan (berpuasa) dengan risiko tertentu. Dapat dipastikan ada kekuatan moral yang menolak untuk berbuka sebelum waktunya.

Seorang anak nakal di sekolah yang tinggal menunggu beberapa bulan sebelum ujian akhir, pasti akan lebih tabah menghadapi segala bentuk tantangan yang dihadapinya di sekolah dan dalam memperjuangkan persekolahannya itu hingga berhasil meraih ijazah.

Jadi napi yang memiliki sisa masa hukuman relatif tak lama, apalagi dengan kemungkinan memperoleh peluang remisi, tentu akan sangat berat untuk memilih lari dari lapas, meskipun di antara yang lari itu pasti ada yang sekadar ikut-ikutan dan didorong oleh perasaan ingin menikmati kebebasan. Tetapi napi yang lari dengan penuh perhitungan bahkan mungkin sudah menganggap sama jika berakhir di lapas atau berakhir di ujung peluru petugas yang memburunya dalam pelarian. Jadi mereka ini memiliki tekad yang kuat. Apa pun akan mereka hadapi.

Motif untuk terus tak mengindahkan himbauan untuk kembali atau menyerahkan diri akan semakin kuat jika mengingat peristiwa-peristiwa yang terjadi selama kericuhan yang membawa korban manusia dan inventaris Negara di Lapas Tanjung Gusta. Jika seseorang yang ikut dalam pelarian merasa memiliki andil besar dalam semua catatan itu, pilihan untuk terus menghindar dari kejaran akan semakin kuat. Ia sangat sadar akan ada pemeriksaan serius dan itu berarti penambahan masa hukuman untuk dirinya.

Tujuan Pelarian. Ada dua hal yang menjadi tujuan awal bagi para napi yang kabur itu. Pertama ialah keluarga. Tujuan ini adalah bagi napi yang sama sekali kabur tanpa motif politik dan tak begitu memikirkan apa pun kecuali kerinduan. Itulah yang kita lihat ketika ada seorang ibu yang mengantarkan puteranya kembali ke lapas Tanjung Gusta. Kategori ini tidak begitu rumit dianalisis.

Tujuan kedua, ialah kelompok rujukan (group reference). Ini bagi mereka yang kabur dengan motif politik. Meskipun mereka satu saat akan berusaha bertemu atau berkomunikasi dengan keluarga, tetapi itu tentulah tidak dilakukan sekarang. Mereka sangat faham kapan itu akan dilakukan. Namun tetap bermanfaat untuk meminta informasi sedalam-dalamnya kepada pihak keluarga, kerabat dan teman-teman dekatnya.

Napi yang lari dengan motif politik itulah yang sejak awal sudah memiliki rencana dan pemanfaatan situasi. Mereka bisa segera keluar dengan kelihaian berkat pengalaman selama ini. Saya kira, di lapas mereka juga sangat disegani oleh semua napi yang lain dan semua petugas sampai sipir dan kepala lapas. Napi koruptor pasti berwibawa karena mereka bisa mengendalikan keadaan di dalam karena uangnya dan biasanya malah bisa plesiran kemana mereka mau. Maling ayam tidak akan punya kelas dan kewibawaan. Napi pemerkosa biasanya juga tidak. Tetapi napi pembunuh dan napi dengan klasifikasi teroris pasti sangat disegani. Kita masih ingat bahwa tokoh penting yang menjalani hukuman di lapas bahkan memperbaiki kondisi fisik lapas dengan uangnya sendiri dan member banyak kontribusi dalam proses intensifikasi pembinaan di dalam lapas. Orang itu pastilah raja yang sesungguhnya di situ, dan kurang lebih bisa mendikte.

Terus mencari di sekitar jalur-jalur strategis adalah satu-satunya pilihan. Sumatera memiliki berbagai alternatif yang bisa ditempuh untuk sebuah pelarian. Perairan dengan garis pantai yang panjang dan relatif tak terjaga, adalah satu alternatif.  Pelarian bisa menembus ke Tanjungbalai atau Teluk Nibung, hingga menyeberang ke Negara lain (Malaysia) melalui Port Kelang atau bibir pantai yang terbentang begitu panjang. Bisa juga lari melalui hutan ke arah Aceh, Tapanuli dan sebagainya.

Tetapi “gerilya kota” bisa menjadi salah satu pilihan juga. Pelarian bisa memilih sembunyi di keramaian kota, malah bisa memilih tinggal di tempat-tempat yang tak terduga. Misalnya dekat kantor Polisi, kantor tentara, dan sebagainya yang umumnya dianggap tak masuk akal untuk dipilih sebagai tempat persembunyian bagi seorang pelarian. Itu jika kita sudah mengabaikan pelarian melalui jalur transportasi umum (laut, darat dan udara). Tetapi saya yakin tidak ada di antara para napi itu yang lari dibawa oleh sebuah tim dari luar dengan helicopter, misalnya.

Rekaman Data.Tetapi ada hal yang dapat membantu sebetulnya, yakni data tentang napi yang lari itu. Jika dalam proses persidangan mereka tempohari dan dalam proses verbal mereka di kantor kepolisian dilakukan secara baik, data-data itu sangat membantu untuk upaya menemukan mereka kembali. Tetapi jika proses verbalnya acak-acakan dan proses persidangannya tidak pernah mengungkap kejadian sebenarnya, maka gelaplah jalan untuk menemukan mereka kembali.

Bayangkan misalnya, napi itu masih menyembunyikan 500 juta di semak-semak dan dipastikan dalam keadaan aman sebelum mereka dulu tertangkap atau menyerahkan diri (ingat jika keadilan dan kebenaran hukum kini dapat dibeli di Indonesia, dengan uang sebanyak itu seorang pelarian bisa memakai orang-orang dari instansi resmi sebagai penjaga untuk dirinya). Itu salah satu permisalan saja. Artinya, jika tempo hari proses verbal dilakukan semberono dan persidangan tidak mampu mengungkap fakta sebenarnya (dan umumnya memang kasus teroris diproses seperti itu), maka akan gelaplah pencarian terhadap mereka. Catatlah, bahwa peradilan sesat kerap sekali mewarnai penegakan hukum di Indonesia dan memang itulah wajah Indonesia dari aspek keadilan dan hukum.

 

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: