'nBASIS

Home » ARTIKEL » “Petunjuk” Nazaruddin

“Petunjuk” Nazaruddin

AKSES

  • 512,201 KALI

ARSIP


nAZARUDDIN

Tidak diragukan kebenaran korupsi yang dilakukan oleh kalangan legislator. Tetapi jika sudah demikian besarnya korupsi dari kawasan itu, maka bayangkanlah kelipatannya pada sektor eksekutif. Itu pasti lebih besar. Mungkin kesimpulan seperti ini yang paling benar.

Tanggal 2 September 2010, beberapa pekan setelah launching buku “Koruptor itu Kafir, Telaah Fiqih Korupsi dalam Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU)”, Azzyumardi Azra menulis pada salah satu media cetak nasional berjudul “Koruptor itu Kafir”. Ia mengakui bahwa upaya memerangi korupsi di Indonesia memang jelas ada. Lembaga-lembaga penegakan hukum ada gerakan.

Kejaksaan membuat target bagi penyelidikan dan pengadilan mereka yang (diduga) terlibat korupsi. Kepolisian juga tidak mau kalah. Meski kedua lembaga ini mencapai hasil tertentu dalam usaha memerangi korupsi, tetapi masyarakat pada umumnya tetap saja skeptis, karena terdapat oknum jaksa dan Polri yang juga (diduga) terlibat korupsi. Bahkan, tidak jarang kedua lembaga penegak hukum ini terlibat dalam konflik kepentingan melindungi bagian korps masing-masing (yang korup). Dengan demikian, kata Azzyumardi Azra, pemberantasan korupsi di dalam diri mereka sendiri tidak berjalan sebagaimana diharapkan publik.

Tidak cukup sampai di situ. Azzyumardi Azra juga juga menyoroti KPK. Katanya, KPK yang semula memberikan cukup banyak harapan, kemudian dipandang kalangan tertentu sebagai ‘superbody’ yang selanjutnya melakukan upaya cukup ‘sistematis’ untuk melemahkan KPK, sehingga hanya dapat mengusut kasus korupsi kelas ‘teri’, tetapi mentok dalam membongkar kasus korupsi kelas superkakap, semacam skandal Bank Century.

Clue Nazaruddin. Pekan lalu beberapa media terbitan Jakarta membeberkan fakta bahwa siapapun pejabat negara yang namanya pernah disebut atau dituding oleh M.Nazaruddin terlibat korupsi, pada akhirnya memang benar-benar dijadikan tersangka oleh KPK, bahkan sudah ada yang statusnya meningkat menjadi terdakwa dan bahkan ada yang sudah menjadi terpidana. Angelina Sondakh, Andi Mallarangeng, Anas Urbaningrum, I Wayan Koster, dan lain-lain adalah beberapa di antaranya.

Terpidana kasus suap wisma atlet itu pun membeberkan lagi dugaan sejumlah kasus korupsi. Tidak tanggung-tanggung, seluruhnya ada 11 (sebelas) kasus. Hal itu disampaikannya saat menjalani pemeriksaan dirinya  sebagai tersangka untuk dugaan tindak pidana pencucian uang dalam pembelian saham PT Garuda Indonesia. Pertama,  Proyek e-KTP berbiaya Rp 5,8 triliun. Ia menyebut keterlibatan tokoh tertentu, para anggota Komisi II DPR-RI dan petinggi kementerian dalam kasus ini. Intinya, Nazaruddin menuduh telah terjadi penggelembungan sebesar 45 % yang dibagikan untuk anggota DPR dan menteri-menteri terkait.

Kedua,  Proyek pembelian pesawat Merpati MA 60 (2010) yang nilainya hampir 2 triliun. Proyek ini, menurut Nazaruddin, meski fiktif namun ada fee yang mengalir jutaan dolar ke semua fraksi di DPR. Ketiga, Proyek pembagunan Gedung MK senilai Rp 300 miliar yang dilakukan dengan penunjukan langsung (tanpa melalui mekanisme tender) kepada sebuah perusahaan dan di balik mekanisme buruk itu ada fee yang diserahkan ke komisi III DPR sebanyak 7 % dari total nilai proyek. Keempat, Proyek Diklat MK Rp 200 miliar yang modusnya serupa dengan proyek pembangunan Gedung, dilakukan penunjukan langsung, juga kepada perusahaan yang menerima penunjukan langsung atas proyek pembangunan gedung MK. Kelima, Proyek uniform Hansip. Di sini Nazaruddin mengulangi menyebut nama dari partai tertentu sebagai orang yang harus bertanggung jawab.

Keenam, Proyek gedung pajak sebesar 2,7 triliun yang  dimenangkan oleh sebuah perusahaan atas rekayasa oleh anggota DPR yang duduk di Badan Anggaran (Banggar) DPR. Selain direkayasa, Nazaruddin juga menuding Dirjen Pajak dari 2007 hingga 2009 juga ikut terlibat. Ketujuh, Proyek PLTU Kalimantan Timur  (2010 dan 2011), yang dimenangkan oleh perusahaan yang direkayasa memenangkan proyek Gedung Pajak, senilai Rp 2,3 triliun. Untuk kasus ini Nazaruddin belum memberi rincian tentang siapa saja pejabat dan anggota DPR yang ikut bermain. Kedelapan, Proyek PLTU Riau senilai Rp 1,3 triliun dan dugaan korupsi pada proyek PLTU Kaltim. Kesembilan,  Proyek Refinery unit RU 4 Cilacap senilai Rp 930 juta dolar. Kesepuluh, Proyek Simulator SIM sebagaimana yang sudah dibongkar oleh KPK sejak beberapa waktu lalu. Kesebelas,  Proyek Hambalang yang berkaitan dengan proyek Wisma Atlet.

Selain itu, Nazaruddin juga menyebut Proyek Pendidikan Nasional (Diknas) di Kemendikbud, sesuatu yang belum dikemukakannya secara jelas.

Memerhatikan Reaksi. Terlepas posisinya sebagai orang yang sedang dibelit oleh masalah hukum, apa yang dilakukan Nazaruddin sesungguhnya bukanlah sesuatu yang aneh. Bahkan sebetulnya itu sangat terpuji, terlepas apa motif di balik itu. Tokoh korupsi lain, Gayus Tambunan, dulu juga pernah menawarkan diri untuk menjadi semacam tim expert dalam kerja-kerja penegakan hukum terhadap koruptor. Tetapi ia tak disambut oleh Kepolisian, padahal orang-orang seperti ini sesungguhnya dapat sangat membantu.

Jurubicara KPK Johan Budi kelihatannya cukup berhati-hati memberi tanggapan dan antara lain berkata: ”Dia diperiksa sebagai tersangka, kemudian dia menyampaikan soal e-KTP dan lain-lain itu tidak dalam pemeriksaan kemarin.”  Johan Budi tetap menilai bahwa informasi Nazaruddin itu perlu divalidasi dulu oleh KPK.

Para politisi dan para pejabat yang disebut-sebut Nazaruddin memberikan reaksi yang pada umumnya sama: takut, dengan ekspresi yang berbeda-beda. Ada yang mengatakan tak faham, ada pula yang mengatakan heran dan ada yang menuduh Nazaruddin stress berat dan karenanya tidak perlu dihiraukan. Memang ia pernah diberitakan menangis tersedu ketika membayangkan akan dimiskinkan sesuai wacana yang berkembang saat itu.

Tetapi, sesuai pernyataan Johan Budi, bahwa jika nanti secara resmi Nazaruddin menyampaikan data-data itu kepada KPK yang akan memvalidasinya, tentu urusannya benar-benar bisa menjadi lain. Tadinya banyak orang menyanggah “ocehannya” tentang keterlibatan sejumlah pihak, namun akhirnya status tersangka disandang oleh orang-orang seperti Andi Mallarangeng dan Anas Urbaningrum. Karena itu, KPK sebaiknya proaktif. Jangan biarkan Nazaruddin dengan “niat baiknya” menunggu terlalu lama.

Kesalahan Peneguhan Image. Dari kasus ini tampaknya akan semakin terkukuhkan image bahwa lembaga legislatif itulah kawasan paling korup di negeri ini. Padahal, semua orang tahu bahwa di mana kekuasaan paling menumpuk dan dengan kewenangan yang tak-terdistribusi serta ditopang oleh iklim sosial dan politik anti-demokrasi, di sanalah korupsi itu sangat mekar. Mungkin ada yang salah dalam logika berpikir masyarakat Indonesia saat ini sehingga lebih aman mengorbankan legislatif yang dalam praktik politik dan kepemerintahan saat ini di Indonesia hanya dapat berperan tak lebih dari pelengkap belaka. Tidak diragukan kebenaran korupsi yang dilakukan oleh kalangan legislator. Tetapi jika sudah demikian besarnya korupsi dari kawasan itu, maka bayangkanlah kelipatannya pada sektor eksekutif. Itu pasti lebih besar. Mungkin kesimpulan seperti ini yang paling benar.

Karni Ilyas, seorang pengelola sebuah acara di televisi, terang-terangan mengeluhkan kolaborasi eksekutif, legislatif dan judikatif dalam hal korupsi. Seorang guru besar (JE Sahetapy) cukup faham, bahkan dengan filosofis mengutip dua orang ahli hukum dari Belanda ia berucap: “hukum pidana adalah jenis hukum yang buruk. Bayangkanlah jika hukum yang buruk ini di tangan orang-orang yang tidak bermoral”. Artinya ada sesuatu yang salah dalam penegakan hukum terhadap korupsi sehingga yang harus dipermasalahkan hanyalah orang-orang kecil. Terkesan kuat hanya bila seseorang seperti Nazaruddin harus “bernyanyi” barulah penegak hukum (KPK)memiliki agenda kerja.

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini diterbitkan untuk pertamakalinya oleh Harian Waspada, Medan, Senin 5 Agustus 2013, hlm B7


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: