'nBASIS

Home » ARTIKEL » MERDEKA

MERDEKA

AKSES

  • 544,897 KALI

ARSIP


 

HAS, WASPADA

HAS, WASPADA

Negeri ini patut sangat khawatir, krisis kebanggaan sebagai warga negara dengan segenap warisan budaya lokal dan nasionalnya sudah begitu serius menerpa. Rasa rendah diri dengan semua atribut keindonesiaan tak terelakkan. Sungguh, ini sebuah krisis.

DIRGAHAYU Kemerdekaan RI ke-68. Negeri ini sudah cukup matang dari segi usia. Bandingkan saja dengan Negara-negara lain di sekitar, yang merdeka setelah Perang Dunia Kedua. Ada ketidak-seiramaan kemajuan di antara Negara-negara yang baru merdeka pasca Perang Dunia Kedua itu. Masing-masing mereka bergulat dengan persoalan baru. Karena selain dibebani oleh rumitnya memposisikan diri dalam pergaulan dunia sebagai sebuah keniscayaan, mereka juga menghadapi masalah-masalah domestik yang besar.  Bahkan Negara seperti Indonesia masih harus menguras energi untuk berkelahi sesama anak bangsa (perang saudara), untuk mencari kebenaran di antara sesama yang belum memiliki kemapanan dalam merumuskan dan mengejawantahkan cita-cita kemerdekaannya itu di alam nyata.  

Saat-saat merayakan hari kemerdekaan seperti ini, banyak orang menemukan dirinya dalam keadaan sukar untuk tak membanding. Ketika Belanda masih di sini, dan ketika Jepang masih mengganas sebentar di sini, suasana dan keadaan begitu sulit, kurang lebih sesulit yang sekarang. Negeri ini hanya berganti penguasa, motif kekuasaan yang abadi hanya menyengsarakan rakyat. Teriakan ketidak-pusan seperti itu cukup jamak. Di kota-kota, apalagi di desa-desa. Kalau begitu adalah menjadi pertanyaan besar, siapa gerangan dan kalangan mana gerangan yang menikmati kemerdekaan itu dan dengan senyam-senyum mendapat kemudahan untuk menikmati kehidupan dengan begitu bergembira ria? Segala macam assessment diperlukan untuk menyatakan adil dan makmurnya negeri. Akhirnya ukuran itu menjadi semacam dua hasil pandangan dari dua kacamata yang bertolak belakang. Sebelahnya bisa membuat orang merasa semua terang benderang, dan membahagiakan. Sebelah lain justru sebaliknya. Begitu suram semuanya. Negaranya sama, rakyatnya sama, pemerintahnya sama, tetapi kenapa berbeda dalam merasakan dan menerima segala macam yang dianggap pantas atau tak pantas diterima sebagai nasib atau keberuntugan dari waktu ke waktu?

Barangkali Andalah yang ditunggu-tunggu negeri ini, wahai sang Satria Piningit. Makmurkanlah negeri ini. Belalah rakyat negeri ini. Selamatkanlah harta kekayaan negeri ini. Itulah sebongkah harapan dalam setiap perhelatan suksesional yang mempergilirkan rezim yang satu dengan yang lain. Alhasil semua menjadi terasa sia-sia dimakan waktu yang berlalu, bahkan tak ubahnya seperti setak-mungkin membedakan ketan dengan (yang berganti) pulut saja. Kelulah lidah rakyat berucap yang baik-baik. Letihlah dia menantikan. Kecewalah dia dalam pengharapan. Siapa pulalah yang akan memberi dia serangkaian pembelaan atau sebelai kasih penyantunan? Inilah yang selalu tak pernah pasti. 

Panjat Pinang. Orang kerap menjadi lupa bahwa hal-hal yang kita warisi sebagai bangsa dari masa lalu memiliki nilai yang tinggi. Negara-negara lain di dunia memiliki hal yang juga kuno-kuno, tetapi dilestarikan hingga kini. Apa pentingnya semua itu? Suatu keheranan mengapa banyak yang sangat tak ramah terhadap warisan masa lalu itu.Belum lama ini sebuah pertemuan satu asosiasi disiplin ilmu untuk tingkat internasional berlangsung di Jogjakarta. Salah satu temanya kira-kira berbunyi “institusi lama yang masih survive”. Di kampung saya (Pahae) Tumba (sejenis kesenian rakyat) sudah tak lagi dimainkan oleh rakyat kecuali pada saat-saat acara tertentu saja. Seorang perantau asal Minang yang sudah lama bermukim di Jakarta menemukan peredaan kerinduannya terhadap silat asli Minang, justru di situs milik asing nun di belahan bumi lain. Ia tak temukan lagi di negeri asalnya yang dulu begitu guyub. Tumba, padahal, dahulu menjadi permainan anak-anak muda setiap malam hari, apalagi saat terang bulan. Dalam tumba ada mekanisme kritik sosial yang sangat efektif, di samping sebagai hiburan yang mengasyikkan. Nah, jika setiap kampung di Indonesia menginventarisasi kesenian rakyat yang sudah mulai menghilang, barangkali daftarnya cukup panjang. Diam-diam penghargaan terhadap Gangnam Style menjadi lebih kuat, sembari melupakan aset bangsa. Modernisasi mendesak dan melenyapkan semua yang kita punyai itu. Tetapi arisan, Anda tahu arisan. Entah bagaimana asal mulanya dahulu, meski pun kini ada bank dan para rentenir yang menawarkan “uang panas”, ia tetap eksis. Arisan itu sebuah rasionalisasi kiat dalam menghadapi kemiskinan meskipun banyak orang melihatnya tak rasional. Inilah salah satu di antara institusi lama yang bertahan itu. 

Mungkin juga didorong oleh kedongkolan yang menyebabkan tak tahu harus berkata apa, seseorang menggoreskan dalam catatan hariannya tentang ketak-bergunaan berbagai jenis kegiatan menandai perayaan Hut RI setiap tahun. Tak dapat dibendungnya amarah, dan ia pun mencaci negeri ini yang masih setia dengan kegiatan rakyat panjat pinang, lomba lari memakai karung atau goni, lomba lari membawa kelereng yang diletakkan dalam sendok makan, adu kekuatan tarik tambang, dan banyak yang lain yang dikategorikannya sebagai pembodohan. Memang, rasanya semua itu sudah ketinggalan zaman. Tetapi jika saja ditelaah nilai filosofinya, boleh jadi semua itu dimaksudkan untuk memperingatkan kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa dalam keadaan susah sekalipun, jangan pernah patah semangat dan jangan pernah menyerah. Bukankah kemerdekaan itu bukan sebuah hadiah? Bukankah kemerdekaan itu sebuah capaian optimum dengan pengorbanan jiwa dan raga yang tak terhingga? Itulah maknanya. Hanya saja orang sekarang mungkin sudah jarang menyadari makna terdalam dari semua itu sehingga lebih cenderung hanya melihat aspek keterbelakangannya di depan teknologi dan ilmu pengetahuan yang demikian maju di sekitar. Padahal, seolah dapat dipastikan, bahwa sekiranya para pemimpin negeri ini faham filosofi dari semua pengorbanan itu, niscaya tak begini ketidak-adilan merebak. Tak akan begini lebar kesenjangan di antara para pewaris bangsa.

Negeri ini benar-benar sudah kehilangan jatidiri. Saksikanlah sebuah paradoks: di sini busido disebut-sebut sebagai seni survive. Juga nilai moral Samurai disakralkan. Mungkin jarang orang merenungi mengapa Karate dan kungfu malah jauh lebih dianggap hebat ketimbang pencak silat (apa betul?). Di beberapa negara di Eropa bukan cuma pencak silat yang dipelajari, tetapi juga gamelan dan beberapa kesenian yang original Indonesia. Teringat jugalah seorang ahli tiup sarune (sejenis seruling) bermarga Gultom dari Porsea yang begitu disanjung karena keahliannya itu, di beberapa negara di Eropa. Berbagai jenis tumbuhan diramu di negeri orang menjadi obat untuk kita konsumsi di sini dengan membayar mahal untuk jenis-jenis yang sebetulnya tumbuh subur sebagai kategori rumput liar di taman-taman kita. Ini seperti nasib sebuah negeri terhukum. 

Negeri ini patut sangat khawatir, krisis kebanggaan sebagai warga negara dengan segenap warisan budaya lokal dan nasionalnya sudah begitu serius menerpa. Rasa rendah diri dengan semua atribut keindonesiaan tak terelakkan. Sungguh, ini sebuah krisis. Samurai, itu nilai peradaban kuno di Jepang. Mengapa mereka mampu membuatnya dicintai di lintas batas dan lintas zaman? Kini saatnya membanding. Mereka bangsa yang sangat mencintai negerinya dan segenap kekayaan leluhur mereka. Dengan cinta masa lalu itu semua kita menyaksikan Jepang itu bukannya terbelakang, meski ia terus memiliki secara kuat sifat Kaizen Gemba (sempurnakan terus menerus). Jepang adalah salah satu negara di Asia yang tak pernah dijajah, dan sebagai apologi hampa kita bisa saja mengatakan secara simplistis bahwa itu hanyalah sebuah kebetulan belaka. Tetapi kini Jepang itu luar biasa. Luar biasa, bukan hanya karena mereka memastikan Indonesia sebagai negeri wajib beli atas produk otomotif mereka. Luar biasa, bukan saja karena mereka membodohi Indonesia di beberapa titik rawan seperti Inalum. Bagaimana kita semua bisa menafikan itu? Sadarlah wahai rakyat Indonesia. Sadarlah wahai para pemimpin Indonesia. Ayo kita sama-sama meraba muka kita, siapa tahu sudah hilang tadi malam.

 

 

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian WASPADA, Medan, Senin, 19 Agustus 2013, hlm B7

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: