'nBASIS

Home » ARTIKEL » MEREBUT “JABATAN” IMAM?

MEREBUT “JABATAN” IMAM?

AKSES

  • 512,316 KALI

ARSIP


SEORANG jurnalis lokal bertanya kepada saya pagi ini seputar “insiden perebutan” posisi imam dalam sholat Ied di Lapangan Benteng, Medan pada idulfitri lalu. Darwin Hasibuan yang sudah dipersiapkan ternyata tak bisa bertugas, karena Tifatul Sembiring sekaligus merangkap Imam dan Khotib. “Ya bang, dipaksakan Tifatul jadi imam. Yang intervensi Sudarto Purba dari Birobinsos, atas perintah petinggi pemprovsu”, jelas jurnalis itu.

Org belum faham bahwa meskipun PKS itu sudah mendeklarasikan diri sebagai partai terbuka (bukan lagi partai Islam), namun ia tetap bercita-cita Islam dan perjuangan Islam. Faham keislamannya sangat berbeda dengan pemahaman keislaman mayoritas domestik. Mungkin di kalangan lain tidak begitu masalah jika seseorang menjadi imam (Ied) sedangkan orang lain menjadi khotib. Jadi bukan semata-mata karena niat memborong atau mendominasi. Itu faham keagamaan di antara hal-hal yang selama ini disengketakan dalam aliran-aliran Islam di Indonesia (masalah furu’iyah).

Jika dituduh PKS memanfaatkan untuk kampanye politik, saya kira sah-sah saja. Ia menteri (Tifatul Sembiring), ia caleg PKS no 1 dari Dapil 1 Sumut (Medan, Deliserdang, Sergai, Tebingtinggi), dan Sumutnya sendiri kini dipimpin oleh kader mantan Ketua PKS Sumut. Partai lain, tidak ada yang sekompeten mereka dalam keislaman. Pada partai lain malah fahamnya terbalik. Kira-kira begini: Islam ya urusan pribadi, ya jangan dicampur-adukkan dengan politik dan urusan duniawi lainnya”. Pada PKS lain, bung. Islam itu ya jalan hidup (way of life). Jadi bukan hanya urusan ibadah ritual seperti sholat saja. Kader partai mana pun tak akan ada yang sanggup menyaingi PKS dalam hal keislaman. Jangankan Presiden, Menteri, Gubernur dan Walikota, para legislator partai lain pun sangat sedikit yang bisa imam dan khotib. Jadi, partai lain harus cemburu.

PKS itu partai kader dan memiliki pemahaman kosmopolitan yang mumpuni. Perhatikan saja, siapalah yang peduli tentang nasib mesir. Gatot saja ke sana dan kemaren ia seperti memimpin demo tentang itu. Pada harian lokal saya baca paling tidak 2 kali artikel dari Ketua PKS Sumut tentang Mesir. Sedangkan jika ditanyakan ke pimpinan partai lain, saya kira mereka akan buta sama sekali tentang itu. mereka tak peduli saja.

Kemudian jurnalis itu pun bertanya, “Jadi, sebagai pemiimpin apa layak Gattot lakukan intervensi?” Untuk publik itu sangat menyakitkan, termasuk MUI. tetapi untuk misi partainya dan keyakinan keagamaannya, itu sesuatu yang sangat penting, tak peduli apa kata orang termasuk MUI. Ia pasti berani berbeda pendapat dengan MUI. MUI itu kan sangat tergantung ke APBD. Bagaimana jika Gatot “mengembargo” MUI itu? MUI itu bisa apa?

Selama ini MUI itu kan banyak menikmati anggaran dari pemprovsu? Karena ia banyak menikmati, maka dalam kampanye kemaren ia pun menjadi institusi kampanye terpenting dengan mengadakan berbagai kegiatan termasuk israk mikraj dengan memobilisasi semua kekuatan umat Islam se Sumut. Dalam undangan disebut salah satu pengundang Plt GUBSU (menandatangani Undangan), padahal ia sedang cuti. Jadi, MUI itu sangat ketakutan kepada Gatot. Bacalah tautan di bawha ini (tulissan saya saat musim kampanye)

Shohibul Anshor Siregar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: