'nBASIS

Home » ARTIKEL » ANTROPOSENTRISME VS TEOCENTRISME

ANTROPOSENTRISME VS TEOCENTRISME

AKSES

  • 538,914 KALI

ARSIP


Pagi ini saya menemukan sebuah posting pada akun fecebook seseorang berjudul “Islam dan isu gender”. Begini katanya:


Banyak pandangan terkait dengan isu ini. Kita pernah mendengar sosok Aminah Wadood di USA yang naik mimbar untuk khutbah jumat. Di Inggris ada komunitas Inclusive Mosque Initiative (IMI) dengan usaha yang searah dengan Aminah Wadood.

(1). Apakah memang harus ada tafsir yang lebih baik lagi dari yang ada sebelumnya agar Islam sejalan dengan gerakan modernitas, dlm hal ini masalah gender. Atau tetap saja dengan yang ada dengan risiko umat Islam dicap kolot?

(2). Untuk jelasnya masalah IMI mungkin saudara-saudarku yang tinggal di Inggris dapat memberi penjelasan yang lebih baik lagi dari pada pemberitaan media lokal di kotaku tentang Komunitas IMI yang berusaha mengenalkan kesetaraan gender dalam beribadah?

Saya baca berulang-ulang status itu, sebelum saya memberi komentar. Komentar saya adalah sebagai berikut:

“Jika difahami bahwa modern dan modernitas itu ukurannya adalah aktualitas dan idealitas berlaku menurut waktu, ya Islam itu memang harus ditolak. Itu sudah dibuktikan saat hadirnya Islam yang dibawa oleh Muhammad.

Bayangkan, kawan: kalau ada yang mengusulkan survei untuk menyatakan pendapat Islam boleh hidup atau harus dimusnahkan. Dunia pasti memenangkan opini Islam harus dimusnahkan. Tetapi saya tak mengharapkan Anda ikut pada poros yang menginginkan pemusnahan Islam. ha ha.

Orang selalu lupa bahwa Islam datang menentang banyak hal yang berlaku pada zamannya. Kurang lebih ini masalah krusial di antara dua kegandrungan: teosentrisme atau antroposentrisme.

Bayangkan lagi, kawan: pada suatu saat di negeri tertentu nilai sakral perkawinan pun harus merelakan pentas pelaminan diisi oleh dua orang berjenis kelamin sama. Tuduhlah Islam ini kuno saat mengetahui bahwa Islam menolaknya, silakan. Tetapi kadhi nikah muslim tidak akan diperbolehkan oleh kitab suci (al-quran) untuk melegitimasi itu. Tuduh lagilah ajaran Islam itu kuno. Ya, dalam konteks ini Islam itu kuno.

Ada wilayah ijtihadi dan ada wilayah non ijtihadi dalam Islam. Tetapi tak semua orang faham bahwa ketuhanan Allah pun bisa digugat dan sudah kerap digugat oleh model-model antroposentrisme. Anda tentu sudah memilih posisi dalam soal ini.

Satu lagi. Islam diamalkan oleh banyak orang dengan terjemahan yang tidak 100 % sama. Itu tak mungkin dinafikan. Percayakah Anda, bahwa kecenderungan Islam pada zaman para wali yang sembilan itu (Wali Songo), jika diuji dengan pengetahuan keislaman berdasarkan kurikulum MTs produk Kementerian Agama RI, para wali itu malah tak bisa lulus ujian?

Islam itu apa ya, kawan? Kajian itu yang masih belum beranjak dari kawasan elementary, meski yang diskusi tak jarang beratribut titel akademis berjejer di depan dan di belakang namanya. kasihan”.

Hal-hal seperti ini pasti akan semakin marak kedepan, baik karena disebabkan oleh kekurang-fahaman orang yang memeluk Islam atau karena hal-hal lain.

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: