'nBASIS

Home » ARTIKEL » POLIANDRI

POLIANDRI

AKSES

  • 538,714 KALI

ARSIP


Rajo Verma, seorang putera dan kelima suaminya

NUN di tempat yang tak begitu jauh. Ada sebuah keluarga poliandri. Itu pasti aneh menurut kalangan penganut monogami. Kebudayaan ini memiliki nilai dan alasan tersendiri, dan sudah menyejarah.

SEORANG istri dengan suami berbilang. Lima orang sekaligus, dan kelima-liamanya bersaudara kandung.

Rajo Verma, 21, wanita itu, mengikuti tradisi di desa-desa India yang memang memungkinkan keluarga melakukan hal seperti itu untuk mempertahankan lahan pertanian mereka.

Rajo Verma yang masih muda ini tinggal di satu ruangan, menghabiskan setiap malam dengan lima suami yang bersaudara itu bergiliran. Tentu keluarga ini memiliki semacam rule of the game, betul tidak? Ya pastilah.

Kini keluarga itu sudah memiliki seorang putera. Rajo Verma dan semua suaminya tentu tidak tahu siapa di antara kelima saudara kandung itu yang menjadi ayah dari putranya. Poliandri Persaudaraan adalah tradisi di desa kecil dekat Dehradun, India.

Poliandri ditemukan juga pada masyarakat lain, katakanlah Tibet. Menurut  sebuah sumber, mekanisme ini juga dimaksudkan sebagai bentuk kontrol populasi. Dua, tiga, empat, atau lebih orang yang berstatus bersaudara kandung secara bersama-sama mempeistri seorang wanita dan tinggal bersama dengan wanita itu.

Secara tradisional, lazimnya upacara pernikahannya diatur oleh orang tua. Dalam praktiknya selalu ada pertimbangan atas kepemilikan harta seseorang wanita yang akan dijadikan sebagai isteri bersama itu. Konon, dalam proses ini, si lelaki tertualah yang paling banyak berperan dalam upacara dan bahkan si bungsu kelihatannya seakan ikut-ikut saja sedemikian rupa.“Akad”, kalau boleh dipinjam kata ini, hanya dilakukan dengan lelali tertua.

Tetapi dalam praktik keluarga kelak, kecenderungan dominasi lelaki tertua tidak merupakan sesuatu yang kentara. Sebab dalam mengelola rumah tangga, semua lelaki bersaudara itu berbagi pekerjaan, termasuk sebagai mitra seksual si wanita “perkasa” yang menjadi isteri bersama itu. Karena nilai dan tradisi yang sudah menyejarah, tentulah  pria dan wanita Tibet tidak merasakan pola hubungan dan pengaturan relasi seksual ini sebagai hal menjijikkan.

Masyarakat di luar penganut poliandri tentulah selalu berfikir siapa bapak anak yang lahir dari keluarga seperti ini. Tetapi bagi matrilinial model ini tentulah tidak ada upaya untuk menghubungkan anak-anak biologis kepada saudara tertentu, apalagi berkeinginan untuk melakukan test DNA. Itu hanya ada dalam pikiran patrilinial.

Shohibul Anshor Siregar, dari berbagai sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: