'nBASIS

Home » ARTIKEL » ANGKAT DAN PILIHLAH PRESIDENMU

ANGKAT DAN PILIHLAH PRESIDENMU

AKSES

  • 512,606 KALI

ARSIP


PRESMU

Sejumlah orang diberitakan menolak tawaran untuk ikut konvensi calon presiden Partai Demokrat. Di antaranya adalah Jokowi dan Sri Mulyani Indrawati. Keduanya memang tak dapat disamakan dalam konteks ketidak-ikutan dalam konvensi ini. Beberapa tokoh lainnya merasa sangat perlu ikut. Di antaranya mantan Panglima TNI Endriartono. Ia malah terkesan lebih merelakan resiko dijatuhi sanksi oleh “pemilik partai” yang selama ini memberinya sebuah seat (Surya Paloh).

JK jelas memiliki cara pandang sebagai seorang pebisnis ulung yang cepat bertindak. Tetapi  kelihatan partainya “mengerang”, meski  di antara juniornya sekaligus memberanikan diri  berkomentar seperti menyepelekan konvensi. Partai Golkar memang tercatat pernah memulai tradisi konvensi capres ini. Tetapi, entah mengapa, ia pun menyesal dengan mekanisme itu karena belakangan diakui sendiri semuanya berawal dan berakhir dengan uang (transaksi) dan kebohongan.

Bisikan khusus kepada Dahlan Iskan (dari SBY) untuk ikut konvensi jelas tak dapat merangkai pemupukan harapan baru bagi sejumlah orang yang selama ini (siang dan malam) menantikan restu dan penunjukan pengembanan estafeta  harap dari SBY. Misalnya, sang ipar mantan KSAD Pramono Edhie Wibowo. Apa pun itu, tetaplah sebuah kekecewaan mendalam buat orang seperti Hayono Isman atau (mungkin juga) bagi Marzuki Alie dan yang lain. Adapun Mahfud MD merasa ragu, dan cenderung menganggapnya sebagai cara tersendiri (SBY) untuk sebuah perkampanyean belaka, dan bukan untuk maslahat Indonesia. Tak lebih dari itu. Akan dilibatkan nanti sejumlah orang yang menurut pandangan politik Indonesia merupakan perpaduan figur-figur yang dianggap layak maupun tak layak. Konvensi ini memang tak layak bagi orang-orang yang, meski amat serius, tetapi tidak diinginkan oleh SBY. Meski begitu, tidak ada ruginya bagi orang yang sekadar berjuang “menghidupkan” kembali popularitasnya.

Pengintai Terpenting. Semula Jokowi dan banyak orang hanya memandang sebuah pertarungan mission impossible merebut kedudukan nomor 1 di DKI. Tetapi selera Ahok dan jaringan di belakangnya sudah begitu kuat untuk menggantikan sebagai Gubernur. Jokowi pun kelihatannya dapat membayangkan secara baik apa bedanya menjadi seorang Gubernur dan seorang Presiden. Dengan mengetahui sanjungan media (media darling) dan laporan-laporan para juru survey yang memosisikannya menjadi “presiden sementara atau presiden dalam ide”, ia pun kini sudah seperti sedang berharap titah pemutus dari “Gusti Ratu” Megawati, Ketua Umum PDIP. Orang masih ragu keihlasan menyegerakan “penguburan” kesilsilahan politik kekerabatan karena kehadiran tokoh populis baru seperti Jokowi. Itu adalah sesuatu yang sangat sulit bagi Megawati dan semua anggota trah.

Barangkali bukan saja begitu sulit bagi Megawati membayangkan menjadi “tak apa-apa” setelah ini, ketimbang menentukan pilihan mensub-ordinasikan Jokowi (jika mau) kepada partai dengan simbol baru Puan Maharani, misalnya. Jelaslah ini tidak semudah Amri Tambunan menjagokan Anggota keluarganya untuk meneruskan jabatan yang tak boleh (lagi) diperpanjang untuknya setelah dua periode menjabat sebagai Bupati di Deliserdang.

Beranikah Jokowi menentang badai? Bukan itu pertanyaannya di sini. Malah ketimbang disebut berhutang seucap terimakasih kepada Megawati dan bahkan kepada Prabowo Subianto serta seluruh jaringan pendukung dalam perebutan DKI-1, Jokowi lebih mungkin diposisikan sebagai salah seorang pengintai terpenting dari Jabatan RI-1 di antara tokoh yang kini mengalami fluktuasi posisi (popularitas dan elektibilitas) di mata rakyat.  Ia tidak main-main, dan tak akan berhenti dalam batasan-batasan sempit partai dan kepartaian. Ia bukan tipe itu agaknya.

Seolah terkatakan hari ini bahwa para pengendali Media Darling Project dan para toke survei yang berlogika tunggal (kuantitatif: popularitas dan elektibilitas) tidak akan mempertimbangkan begitu serius maslahat tertinggi sebuah kepemimpinan yang dijagokan untuk suatu bangsa dan Negara, meski bukan karena sama sekali mereka tidak mampu mengaitkan keterpilihan seseorang dengan maslahat rakyat. 

I am not your President. Kandasnya Partai SRI telah menyebabkan pembicaraan tentang Sri Mulyani Indrawati meredup, dan orang-orangnya berserakan sesuai tingkat motivasi yang mereka kombinasikan dengan perkiraan tentang obsesi Sri Mulyani. Partai ini, secara langsung dan tak langsung, begitu kentara memosisikan sebuah pewartaan tentang Century Gate (JK menyebutnya perampokan uang Negara) yang tak boleh ditimpakan menjadi kesalahan seseorang yang tak berdosa (Sri Mulyani). Daripada menyalahkan Sri Mulyani Indrawati, semestinya lebih baiklah negeri ini melakukan impeachment saja kepada presidennya (tempo hari). Kira-kira begitulah semangatnya. Tetapi dalam semangat oposisional itu ternyata Partai SRI tak otomatis mampu menjawab ketentuan teknis veryfikasi faktual partai yang ruhnya sudah ditentukan sebelumnya oleh koalisi Senayan di bawah kepimpinan SBY.

“Putri terbaik bangsa Indonesia yang kini kita pinjamkan kepada Bank Dunia untuk menjabat Managing Director. Orang Indonesia pertama yang memegang jabatan tinggi tersebut.” Kira-kira begitulah ungkapan Presiden SBY untuk memaksudkan Sri Mulyani Indrawati ketika membuka Kongres Diaspora Indonesia II di Jakarta Convention Center, Senin 19 Agustus 2013 yang lalu. Fakta dan pujian ini tentu tak akan membuat Sri Mulyani Indrawati kehilangan keseimbangan. Perempuan yang lahir tanggal 26 Agustus 1962 ini bukanlah tipe “kanca wingking” dengan wiron penonjolan bentuk pinggul yang mempersempit setiap langkah. Juga bukan wanita kebesaran sanggul. Bukan pula “korban perkosaan kaum lelaki” via affirmative action 30 % jatah kepartaian yang dipaksakan oleh UU itu. Ia juga bukan tipe cengar-cengir yang menjadi boneka media pencitraan. Ia bukan tong kosong. Satu lagi: Ia bukan tipe “penjual silsilah”.

Sebagai orang yang secara luas dianggap sebagai korban politik yang anggun, Sri Mulyani Indrawati sebetulnya memenuhi syarat untuk menjadi Calon Presiden RI mendatang. Dia perempuan, dia dari kalangan Jawa, dan dia orang pintar yang mendapatkan hal-hal amat pantas dan sekaligus langka dalam sejarah achievement (prestasi) perempuan Indonesia. Jadi bukan asribed status (status bawaan lahir) yang diwarisinya seperti yang lain yang diheboh-hebohkan, bahkan “diposisi-magiskan” atau bahkan “diklenikkan”. Sebetulnya Sri Mulyani Indrawati dapat menjadi jawaban bagi Indonesia.

Akan ada yang menganggapnya sebagai tokoh neolib bukan saja karena posisinya di lembaga yang oleh kalangan kritis dunia lebih kerap disebut sebagai lembaga rente  terkuat  itu. Tetapi dengan atau tanpa diucapkan, siapalah pemimpin dan calon pemimpin di Negara pinggiran (dunia) seperti Indonesia yang berani untuk tak menjadi pelengkap penderita bagi kekuatan dunia dengan seluruh jerat institusinya yang tak terelakkan? Untuk orang sekarang bahkan Bung Karno mungkin akan disebut sebagai orang keliru ketika menarik garis diametral menetang hegemoni itu tempo hari. Artinya, bukan retorika yang dapat merubah tata dunia yang meniscayakan.

Ad Hock. Untuk menjawab kebutuhan dan obsesi ad hock kepartaian, sejumlah figur kini sudah dikenal sebagai capres dan cawapres meski pemilu legislatif sebagai prasyarat masih belum terlaksana. Tidak dinafikan bahwa hal-hal seperti itu ada yang tak serius, melainkan hanya sekadar pemunculan solidarity maker untuk konsolidasi menghadapi pemilu 2014. Tetapi memang elit utama politik Indonesia kini ada yang niatnya memang sungguh-sungguh ingin dan berusaha menjadi  Presiden, tanpa melihat secara jujur semua faktor objektif untuk Indonesia.

Di luar itu, rakyat sesungguhnya sangat berharap atas kepemimpinan nasional yang menyelamatkan Indonesia. Tentu bukan orang yang menundukkan keindonesiaan dan kebangsaan menjadi bagian kecil dari obsesi pribadinya dan partainya. Maka jika rakyat tak boleh menentukan sendiri siapa pemimpinnya, partai yang seburuk apa pun  adalah menjadi satu-satunya jawaban. Sangat perlu dipikirkan agar tidak tumbuh frustrasi dan apatisme di hati rakyat: “angkat dan pilihlah Presidenmu untukmu”.

 

 

Shohibul Anshor Siregar. Diterbitkan pertamakali oleh Harian Waspada, Medan, Senin 26 Agustus 2013, hlm B7


3 Comments

  1. Surya says:

    pilihan anda sendiri siapa bang???

    SAS: butuh kesabaran untuk tak menjawab menunggu munculnya orang yang didukung oleh sistem (partai) dengan kepastian (figur) yang tak menjadi bagian dari permasalahan berat Indonesia.

  2. Surya says:

    jadi sementara ini tak ada figur “yang tak menjadi bagian dari permasalahan berat Indonesia”? kalo orang tersebut tidak muncul anda akan golput?

    SAS: tidak menunggu begitu saja. kita coba upaya. Indonesia tidak memberi denda kepada warga yang tak ikut pemilu krn sifatnya hanya hak, bukan kewajiban. Jika apatisme sudah tak terurai lagi, ya..

  3. […] Angkat dan Pilihlah Presidenmu […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: