'nBASIS

Home » ARTIKEL » RETORIKA PARA “TOKE”

RETORIKA PARA “TOKE”

AKSES

  • 538,914 KALI

ARSIP


Saya benar-benar tertarik dengan silaturrahmi kebangsaan yang sebagian besar agendanya disiarkan langsung sebuah tv swasta, Senin malam lalu, di Jakarta. Partai Golkar menggagasnya. Kecuali Anies Matta, Presiden PKS, tidak ada pemimpin tertinggi partai yang kadernya ada di kabinet yang hadir dalam acara ini.

Memang bisa dibayangkan betapa akan rikuh mereka mencoba sesuatu yang tak mungkin, yakni menyetarakan diri dengan Presiden SBY, dalam acara ini, sebagai sesama pemimpin tertinggi parpol yang berbeda dan yang akan “mempertarungkan” sesuatu (kekuasaan) pada tahun 2014 nanti. Padahal mereka itu anggota kabinet.

Saya kira itulah alasan mengapa Hatta Rajasa, Ketum PAN itu tidak hadir di sini. Begitu juga Surya Dharma Ali dari PPP, dan Muhaimin Iskandar dari PKB.  Akan halnya Anies Matta, itu memang harus dipandang lain. Partainya memang sering dicaci dalam konteks kekoalisian, dalam kaitan dengan ketakpernahtundukannya kepada SBY sebagaimana diharapkan olehnya.

Parade pidato dengan sentilan-sentilan halus maupun kasar, dengan gugup dan dengan setengah marah, dengan mengejek dan dengan guyon, disampaikan secara bergantian. Padahal waktunya sangat singkat, dan memang sengaja dibatasi.

Sphere itulah yang membuat acara ini sangat terkesan seperti pemberian pukulan-pukulan berkeroyok. SBY seolah dijadikan seperti sansak yang menampung semua kekesalan. Tetapi SBY tampak berusaha tenang saja. Hanya Syarif Hassan yang mewakili Partai Demokrat yang berbicara berbeda. Ia berpidato dengan membaca naskah.

Megawati dan Surya Paloh. Jika selain ingin menyampaikan pokok pikiran kritis, apalagikah yang akan disampaikan mereka semua selain mengkampanyekan kehebatan partainya di depan lawan-lawannya di sini untuk disimak oleh halayak? Maka dengan pikiran seperti itu, pertanyaan harus ditujukan kepada Megawati (PDIP) dan Surya Paloh (NasDem) yang tidak hadir, sebagaimana halnya pemimpin tertinggi PKPI. Barangkali mereka memandang ini sebuah kesia-siaan belaka.

Megawati kerap melemparkan kritik tajam, terutama mengenai kemandirian dan kedaulatan, termasuk pola-pola pemanfaatan anggaran negara untuk pembujukan politik dan ketidakmestian kenaikan harga BBM. Bahkan program seperti BLT kerap dipelesetkan dengan Bantuan Langsung Tewas (“BLT”) oleh orang-orang di gerbongnya. Akan sangat menarik pula seandainya dibayangkan Surya Paloh dengan isu restorasinya berpidato berapi-api seperti biasanya di sini. Tetapi mereka berdua tidak hadir.

Seorang pengamat mengekspresikan kesan kemanfaatan forum serupa untuk penyelesaian masalah-masalah besar dalam agenda Indonesia. Tetapi, mungkin ia terlalu berharap dan kurang menyelami realitas. Bukankah seremoni-seremoni serupa berulangkali terselenggara dengan anggaran besar pada tingkat kenegaraan dunia?

Mereka berbicara keadilan untuk rakyat dunia tanpa bersedia memahami produk penyengsaraan forum itu sendiri terhadap dimensi-dimensi yang jamak di wilayah terluas dunia. Berbicara demokrasi dengan kecanggihan menelantarkan toleransi dan kesediaan menerima segala macam bentuk perbedaan. Berbicara keamanan pangan dengan tataniaga yang sangat menjatuhkan moralitas kemanusiaan demi kepentingan sepihak negara terbesar.

Merah Putih SBY. Lucu juga Ketua MPR diagendakan berbicara di sini. Padahal Ketua DPR yang sangat lebih berkuasa tidak. Ia pun memanfaatkan pemberian sindiran tajam kepada Wiranto yang sebelumnya sempat menyindir kesia-siaan konvensi Capres yang sedang dipersiapkan oleh SBY. “Kita buat arisan para mantan ajudan pengawal presiden-presiden,” ajaknya kepada Wiranto. Ajakan itu kelihatannya sangat bersayap.

Sebagai tuan rumah Abu Rizal Bakri kelihatannya selaian lebih rileks juga lebih memiliki keleluasaan untuk berbicara mengatur durasi yang dikehendakinya. Tetapi sindirannya sangat langsung kepada SBY atas konvensi capres itu. Ia berusaha tegar setegar-tegarnya dengan mengatakan lebih bergairah jika kelak setelah konvensi capres Partai Demokrat mengumumkan hasil. Dengan guyon pula ia gamparkan, kesediaan menerima pasangan pendamping produk konvensi.

Tuan rumah berkata: Nanti tahun 2045, 100 tahun kemerdekaan Indonesia, saya sudah berusia 98 tahun. Saya bayangkan saat itu saya masih main tenis secara teratur dua kali dalam sepekan. Saat itu seluruh bangsa Indonesia dengan bangga mengakui dirinya sebagai bangsa Indonesia. Sangat tajam sindiran itu.

SBY dengan rapi menyimpan semua intisari pidato untuk diberi jawaban. Dari empat hal yang disimpannya itu, dia kemukakan bahwa dalam waktu dekat ia akan pergi ke sebuah forum antar negara di luar negeri.

Lazimnya para pemimpin berbagai negara akan menanyakan kepada saya apa kabar Indonesia? Bagaimana Indonesia? Di situ hanya ada Merah Putih. Tidak ada biru, kuning, hijau dan warna-warni lainnya, tegasnya seperti menertibkan. Ini memang seperti forum para toke. Asyik juga menyaksikannya. Meski tak dapat berharap apa pun. Apalagi perubahan.


Shohibul Anshor Siregar. Diterbitkan pertamakalinya oleh Harian Medan Bisnis, Kamis, 29 Agustus 2013, hlm 2 

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: