'nBASIS

Home » ARTIKEL » POPULARITAS

POPULARITAS

AKSES

  • 538,714 KALI

ARSIP


Dua kegilaan

Menteri BUMN Dahlan Iskan diberitakan hadir untuk sebuah seremoni Tari Tumba massal di Tapteng. Bupatinya, beberapa bulan lalu juga diberitakan kedatangan salah seorang Cagubsu untuk Panggang ikan terpanjang di pantai.  Dengan 15 ribu peserta Tumba, ia beroleh MURI dan masih diklaim sebagai perhelatan seni tari dengan pertisipan terbesar sedunia. Tentulah ini dengan mudah disimpulkan sebagai upaya penting untuk perolehan pendapatan dan kemajuan lainnya melalui sektor pariwisata. Tapteng memang adalah salah satu daerah di Pantai Barat yang memiliki potensi wisata laut. Sangat diperlukan usaha serius untuk mengembangkannya menjadi objek yang digandrungi oleh wisatawan mancanegara.

Tetapi khususnya terhadap Menteri BUMN Dahlan Iskan terkesan upaya meraih popularitas sembari mengabaikan kewajiban pokok. Mengapa tidak, kan aneh jugalah rasanya membiarkan masalah hidup mati berkepanjangan listrik di rumah Anda seolah tak diurus oleh Dahlan Iskan. Tetapi kelihatannya kerja-kerja pencitraan digandrungi.Lagi pula jika Menteri lain (misalnya Menteri Pariwisata) dihadirkan saat event di kementerian yang bukan bidangnya, katakanlah misalnya aksi massal keluhan konsumen PLN, apakah tidak akan dianggap aneh?

Dahlan Iskan saat hadir pada event itu mengatakan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan ucapan salam kepada Bupati Tapanuli Tengah Raja Bonaran Situmeang yang menyelenggarakan Pesta Kenduri Laut Perayaan Hari Jadi Pemerintah Kabupaten ke-68 Tahun 2013. 

Menggalakkan pariwisata kelihatannya cukup besar perhatian pemerintah di Tapteng. Raja Bonaran Situmeng juga berusaha menggali nilai dan budaya lokal termasuk warisan masa lalu, misalnya dengan filem Mursala. Tetapi ada juga pihak yang menganggap hal ini telah mendistorsi nilai sejarah. Ada kontroversi, meski Dahlan Iskan sendiri pernah menyerukan untuk menonton.

Tentang kinerja, Bupati Tapteng banyak menuai kritik. Antara lain pernah didemo di Jakarta karena dianggap tak mampu berbuat sesuai harapan. Ini kutipan beritanya:

Sabtu, 21 April 2012 – 08:33:21 WIB

Demo di Jakarta dan Tapteng Desak Tangkap Bonaran Situmeang

Kategori: Bedah Jaya Pos – Dibaca: 3078 kali

-Kaos BOSUR Disalibkan Dikuburan

Tapteng, Jaya Pos

Bupati Tapanuli Tengah (Tap­teng), Raja Bonaran Situmeang sedang galau. Seperti tak mampu berbuat apa-apa, be­kas pengacara Anggodo Wi­djodjo hanya bisa diam ketika dihantam isu korupsi di te­ngah jabatannya sebagai bupati yang masih delapan bulan.

Sebaliknya, elemen mas­yarakat Tapteng, Sumatera Utara semakin ngotot menghantarkan Bonaran hingga ke meja hijau guna mempertanggungjawabkan dana siluman Rp 5 miliar yang digunakan saat mengadakan pesta rakyat pada Nopember tahun 2011 lalu.

Minggu lalu, elemen mas­yarakat Tapteng melakukan aksi demo di dua tempat ber­be­da. Pertama, pada Selasa (17/4) puluhan masyarakat Tapteng yang berdomisili di Jakarta mendatangl kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mereka mendesak Ketua KPK , Abraham Samad dkk agar memeriksa Bonaran Situmeang terkait dana siluman yang digunakan Bonaran pada pesta rakyat 2011 lalu sebesar Rp 5 miliar.

Zulfikar Hutagalung, koordinator aksi mengatakan, Bonaran harus dapat menjelaskan kepada KPK dana siluman yang dipakai untuk pesta rakyat. “Dari mana Bonaran dapat dana sebesar Rp 5 miliar tanpa ABPD, uangnya pada saat mendaftarkan calon bupati hanya Rp 1 miliar lebih,” kata Zulfikar.

Aksi demo yang didominasi ibu-ibu dengan memakai kerudung itu membawa sejumlah spanduk dengan tulisan “Hai Bonaran, jangan ada dusta diantara masyarakat Tapanuli Tengah”, “Tangkap Bonaran” dan lain-lain.

Setelah satu jam melakukan orasi, akhirnya koordinator aksi Zulfikar Hutagalung diterima oleh pihak KPK. Zulfikar masuk ke dalan gedung KPK langsung diterima salah satu staf KPK bernama Sugeng untuk diminta keterangannya.

Demo di Tapteng

Sementara pada Kamis (19/4) di Pandan, ratusan warga Tapteng yang tergabung dalam Gerakan Angkatan Muda, Mahasiswa dan Masyarakat (GERAMMM) Tapteng, melakukan aksi demo di kantor Bupati Tapteng. Tuntutan mereka sama dengan warga Tapteng yang berdomisili di Jakarta, yakni mendesak KPK segera menangkap Bonaran Situmeang.

M. Bakri Hutabarat, orator aksi mendesak Bonaran untuk buka mulut menjelaskan asal usul dana Rp 5 miliar yang ia gunakan dalam Pesta Rakyat Tapteng. Mereka juga mendesak KPK serius mengusut kasus Bonaran yang sudah dilaporkan baru-baru ini.

“Kami minta agar KPK secepatnya mengusut tuntas kasus dugaan penerimaan dana pesta rakyat senilai Rp 5 miliar itu. Langkah pertama, KPK harus segera menangkap Bupati,” tegas Hutabarat. Menurutnya, GERAMMM sangat menyayangkan sikap Bupati Tapteng yang tidak mau menjelaskan sumber dana pesta rakyat, dimana hal tersebut memperkuat dugaan bahwa Bonaran Situmeang telah melakukan gratifikasi dengan menerima uang dari pihak lain yang berkaitan dengan jabatannya sebagai pejabat negara.

Dengan adanya kasus ini, GERAMMM mengingatkan warga Tapteng agar hati-hati dengan praktik-praktik busuk Bonaran. “Patut diwaspadai dalam pemerintahan Bonaran Situmeang akan tumbuh subur praktik KKN. Apalagi kami mendengar adanya jual-beli jabatan serta setoran dari pengusaha-pengusaha di Tapteng yang selama ini menjadi lawan Bupati,” tandas Hutabarat. Disalibkan Pesimisme masyarakat akan keberhasilan Bonaran membawa Tapteng ke arah yang lebih baik juga mewarnai masyarakat Kecamatan Manduamas. Rasa ketidakpercayaan itu diluapkan dengan menyalibkan kaos BOSUR di kuburan. Harapan masyarakat yang menggantungkan nasib pada janji Bupati pilihannya akan tanah miliknya yang diduga diserobot PT. Nauli Sawit kembali dikuasai masyarakat semakin suram.

Sebab, hingga saat ini belum ada tanda tanda pengembalian, konon oknum Bupati kebanggaannya telah tersandung masalah pidana terkait dana pengadaan pesta rakyat yang juga mereka hadiri. “Kaos itu sebagai simbol kalau harapan kami sudah mati dan termasuk si Bonaran telah mati dihati kami. Kami tidak sangka kalau dia (Bonaran Situmeang) membikin pesta besar dengan uang orang.

Wajar kalau kami menjadi kesal karena sewaktu kampanye pilkada dulu kami tidak menerima uang dari dia. Bahkan rakyat sendiri yang memberi uangnya sama dia,” kata Tumanggor, warga Manduamas kepada Jaya Pos.

Tumanggor mengatakan, disalibkannya kaos BOSUR tersebut tidak menutup kemungkinan jabatan Bonaran Situmeang sebagai Bupati Tapteng ikut mati di Hotel Prodeo KPK lantaran tersangkut masalah pengadaan kaos kebanggaan mereka. (JP/SG-86)

Ada juga catatan lainnya sebagaimana dapat disimak dari kutipan berita berikut:

Sabtu, 12 Mei 2012 – 06:21:32 WIB

Demo di Kantor Bupati Tapteng, Minta Bonaran Situmeang Segera Ditangkap

Kategori: Sumatera Utara – Dibaca: 2619 kali

Tapteng, Jaya Pos

Pilihan bungkam yang dilakukan Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng) Provinsi Sumatera Utara, Bonaran Situmeang atas dana siluman pengadaan pesta rakyat Tapteng senilai Rp 5 miliar dan sarat gratifikasi, bukan suatu solusi.

Pasalnya, hingga berita ini diturunkan mantan pengacara koruptor, Anggodo Wijoyo itu tidak punya nyali menjelaskan sumber uang “haram” itu kepada masyarakat sehingga elemen masyarakat yang menyatakan diri sebagai Asosiasi Wartawan dan Lembaga Swadaya Masyarakat (Aswal) kembali turun ke jalan mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera menangkap, memeriksa dan mengadili oknum kepala daerah yang terkesan stress tersebut. Elemen masyarakat yang getol menyuarakan penegakan supremasi hukum itu menilai, strategi kepemimpinan Bonaran Situmeang saat ini terkesan menggunakan politik ‘aji mumpung’, sehingga patut dikhawatirkan praktik korupsi akan menjalar hingga ke pemerintahan. Kenapa tidak? Kepala daerah terkesan mudah stress itu dinilai hanya bisa mengukir prestasi pemutasian pejabat yang konon terendus berbau uang sehingga harus segera dihentikan demi penyelamatan Tapteng.

“Kita berharap, agar KPK bekerja optimal mengumpulkan bukti-bukti dan memprioritaskan kasus ini sehingga secepat mungkin menangkap, memeriksa dan mengadili Bonaran Situmeang. Hal itu sangat beralasan karena hingga saat ini Bonaran tidak mampu menjelaskan kepada masyarakat bahkan berusaha menutupi para penyandang dana. Bahkan prestasi Bonaran hanya mengganti dan memutasi pejabat serta mendatangkan artis sebagai obat stress,” ungkap Sekretaris Jenderal yang juga orator Aswal, S Simon Situmorang saat aksi damai ke kantor Bupati Tapteng.

Usai mendatangi kantor Bupati Tapteng, Aswal tidak luput mendatangi Kantor Kejari Sibolga. Kedatangan mereka kali ini untuk menanyakan tentang tindak lanjut kesepakatan bersama yang dilakukan sebelumnya untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan atas dana siluman pesta rakyat tersebut guna diserahkan pada pihak KPK untuk mempercepat proses hukum sehingga tercapai kepastian hukum atas kasus tersebut.

Menurut mereka, tugas penyelidikan dan penyidikan terkait dugaan gratifikasi pengadaan pesta rakyat merupakan wewenang Kejari Sibolga. Sehingga mereka berharap institusi penegak hukum itu dapat bekerja optimal.

Harapan Aswal supaya Kejari Sibolga dapat membantu tugas KPK, sepertinya harus tertunda. Selain kasus yang harus diselesaikan cukup banyak dan jumlah personil jaksa khususnya yang menangai Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) tidak memadai sehingga membuat institusi penegak hukum tersebut saat ini tidak dapat berbuat banyak.

“Personil jaksa kita sangat minim bila dibandingkan dengan kasus yang harus ditangani sehingga kita tidak dapat berbuat banyak untuk kasus itu. Namun, kita yakin KPK akan menyelesaikan kasus itu,” ujar Kajari Sibolga, K Aianipar SH.

Dirinya juga Aswal terus memberikan kontribusi dalam eksistensinya sebagai organisasi sosial kontrol menegakkan supremasi hukum. (JP/SG-86).

Dulu Bupati Raja Bonaran Situmeang juga pernah “berhadap-hadapan” dengan kalangan agamawan sebagaimana dapat dicermati dari kutipan berikut:

Keuskupan Sibolga

DEKANAT TAPANULI

Jl. A.I.S Nasution No. 27 Sibolga – 22513

Pernyataan Gereja Katolik Dekanat Tapanuli

Tentang Ditetapkannya Ustadz Shodiqin Lubis, Pastor Rantinus Manalu Pr dan Denis Simalango Sebagai Tersangka Dalam Kasus Pencemaran Nama Baik Bupati Tapanuli Tengah

Pada tanggal 8 Februari 2013, bertempat di Guest House Santo Kristoforus, telah diadakan pertemuan para pastor se-Dekanat Tapanuli sekaitan dengan Kasus Pencemaran Nama Baik yang dituduhkan/ disangkakan kepada Ustadz Shodiqin Lubis, Pastor Rantinus Manalu Pr dan Denis Simalango, berdasarkan pengaduan Raja Bonaran Situmeang S.H., M.Hum., Bupati Tapanuli Tengah, pada tanggal 17 September 2012.

Selain para pastor paroki se-Dekanat Tapanuli, pertemuan itu juga dihadiri oleh: Vikaris Jenderal Keuskupan Sibolga Pst. Dominikus Doni Ola Pr, Sekretaris Jenderal Keuskupan Sibolga Pst. Blasius S. Yesse Pr, Ekonom Keuskupan Sibolga Pst. Aloysius Barut Pr, Biro Kerawam Pst. Paulus Posma Manalu Pr, Ketua Museum dan Staf Seminari Pst. Ando Gurning Pr, Ketua JPIC Ordo Kapusin Fr. Frans R. Zai OFMCap dan Ketua JPIC Keuskupan Sibolga Pst. Frederikus Dhay SVD. Latar Belakang Masalah

Menurut penuturan Pastor Rantinus Manalu dan Denis Simalango, alasan pemanggilan mereka ke Poldasu dan penetapan sebagai tersangka didasarkan pada Advertorial yang dimuat dalam Harian Rakyat Tapanuli, tertanggal 8 September 2012. Beberapa poin dari Advertorial tersebut digunakan sebagai bukti bahwa ketiga Pejuang Kemanusiaan Tapanuli Tengah itu telah melakukan tindakan pencemaran nama baik Pejabat Negara yakni Bupati Tapanuli Tengah, Raja Bonaran Situmeang, SH. M.Hum. Karena itu, ketiga Pejuang Kemanusiaan ini disangkakan telah melakukan tindakan pelanggaran terhadap pasal 310 jo pasal 311 jo pasal 92 KUHP. Beberapa poin dari Advertorial yang dimuat dalam Harian Rakyat Tapanuli tersebut, dan yang kemudian digunakan oleh Bupati Tapanuli Tengah untuk melaporkan Ustadz Shodiqin Lubis, Pastor Rantinus Manalu Pr dan Denis Simalango, ialah terutama tulisan pada bagian “Opini Kita”, yang poin-poinnya adalah sebagai berikut:

(1) Bupati Raja Bonaran Situmeang ingkar atau tidak menepati janji kampanyenya. (2) Bupati Raja Bonaran Situmeang diduga kuat telah memanfaatkan promosi jabatan, mutasi-mutasi para PNS di jajaran Pemkab Tapanuli Tengah dan pengangkatan pegawai tenaga honorer menjadi CPNS, menjadi kesempatan ajang mengumpulkan uang untuk kekayaan diri secara melanggar hukum, karena jabatan dan mutasi pada umumnya ditentukan oleh besarnya jumlah uang yang diberikan bukan karena kemampuan dan keterampilan yang dimiliki.

(3) Pemalsuan data pegawai tenaga honorer yang diajukan menjadi CPNS.

(4) Bupati Raja Bonaran Situmeang diduga menerima uang (gratifikasi) dari berbagai pihak, yang disinyalir dipakai membiayai pesta-pesta rakyat, memperkaya diri termasuk membiayai kegiatan bakar ikan sepanjang 7,2 km dalam rangka Ulang Tahun ke-67 Tapanuli Tengah.

(5) Bupati Raja Bonaran Situmeang melakukan pembohongan publik dan pembodohan kepada masyarakat atas informasi yang tidak sesuai dengan kenyataan tentang pelaksanaan pembangunan yang dibiayai oleh APBD 2012 Pemkab Tapanuli Tengah. Dalam keterangannya di media ada 29 pembangunan di Tapanuli Tengah yang sedang berlangsung sekarang, Kenyataannya setelah Tim mencek ke lokasi proyek sesuai dengan pemberitaan, ditemukan tidak ada kegiatan apa-apa di lokasi, bahkan material pun tidak ditemukan di sana.

(6) Bupati Raja Bonaran Situmeang disinyalir dalang kekisruhan yang ada di dalam lembaga DPRD Tapanuli Tengah, yang menyebabkan perpecahan di lembaga rakyat itu demi kepentingan kekuasaannya. Raja Bonaran tidak mau mengikuti Tatib DPRD yang syah untuk penyampaian LKPJ, yang sampai sekarang tetap cacat hukum. Akibatnya, tindakan ini tentu merugikan masyarakat Tapanuli Tengah karena telah menghambat pembangunan disebabkan oleh tidak cairnya dana APBD 2012. Tapi anehnya, dia tetap berkoar-koar kemana-mana Sintong Gultomlah yang menjadi sumber masalah.

(7) Bupati Bonaran Situmeang melindungi oknum-oknum DPRD dari jerat hukum, yang diduga kuat terlibat melakukan tindak pidana korupsi dan pemalsuan stempel Ketua DPRD Tapanuli Tengah dengan mengeluarkan Peraturan Bupati.

(8) Bupati Raja Bonaran Situmeang mempertontonkan diri sebagai orang yang arogan, emosional, reaktif, suka hura-hura, tidak cinta damai (parbada) sehingga sebenarnya tidak pantas menjabat Bupati di Tapanuli Tengah yang cinta damai, rukun, sahata saoloan, dlsb yang merupakan ciri khas hidup masyarakat Tapanuli Tengah.

(9) Banyak hal lainnya yang penting kita sampaikan. Nanti akan diberi kesempatan naik panggung kepada elemen-elemen masyarakat yang bergabung dalam GERAM ini untuk menyampaikan aspirasinya.

Poin-poin tersebut di atas hanya sebagian dari aspirasi masyarakat yang disuarakan oleh kelompok yang menamakan diri sebagai Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM). Karena itu, poin-poin tersebut di atas hanya bisa dimengerti dengan baik dan benar bila dibaca secara utuh. Sikap Gereja Katolik Dekanat Tapanuli

Setelah mendengar penuturan Pastor Rantinus Manalu, pr dan Denis Simalango yang dibarengi dengan fakta-fakta yang mereka miliki, dan juga setelah membaca secara lengkap dan utuh Advertorial yang dimuat dalam Harian Rakyat Tapanuli tersebut, maka para pastor se-Dekanat Tapanuli yakin bahwa mereka berpijak pada nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Prinsip dasar dukungan para pastor se-Dekanat Tapanuli adalah bahwa perjuangan yang mereka lakukan adalah untuk kesejahteraan masyarakat umum (Bonum Communae).

Karena perjuangan terhadap nilai-nilai kebenaran dan keadilan merupakan panggilan yang didasarkan pada hati nurani yang jernih dan murni, maka dengan ini Gereja Katolik Dekanat Tapanuli menyatakan:

(1)Memberikan dukungan penuh, baik moral maupun spiritual, terhadap upaya-upaya memperjuangkan kebenaran dan keadilan untuk kesejahteraan masyarakat.

(2)Mendukung dan mendorong Pastor Rantinus Manalu Pr, Ustadz Shodiqin Lubis dan Denis Simalango untuk meneruskan perjuangan membela kepentingan rakyat, terutama mereka yang tertindas karena ketidakadilan, dengan tetap memperhatikan ketentuan hukum yang berlaku.

(3)Gereja Katolik Dekanat Tapanuli memohon kepada Bapak Kapolda Sumatera Utara untuk meninjau ulang penetapan status Pastor Rantinus Manalu, Ustadz Shodiqin Lubis dan Denis Simalango sebagai tersangka, sebab apa yang mereka lakukan merupakan upaya untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat umum. Dalam hal ini berlaku prinsip: Kepentingan rakyat merupakan Hukum Tertinggi (Salus Populi Suprema Lex). Untuk itu, Gereja Katolik Dekanat Tapanuli menghimbau Bapak Kapolda Sumatera Utara untuk mengusut kebenaran dari opini yang dimuat di dalam Advertorial koran lokal tersebut di atas sebab muatan dari hal-hal yang dikemukakan dalam Advertorial tersebut bukan lagi merupakan rahasia sebab pernah diberitakan oleh media massa sebelumnya. Dengan demikian, muatan dari poin-poin yang dikemukakan dalam Advertorial tersebut bukanlah hal yang baru.

Seruan dan Ajakan

(1)Gereja Katolik Dekanat Tapanuli mengajak seluruh komponen masyarakat Tapanuli Tengah, untuk memberikan dukungan moral maupun spiritual kepada Ustad Shodiqin Lubis, Pastor Rantinus Manalu Pr dan Denis Simalango, agar mereka tetap teguh dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan demi pembaharuan masyarakat Tapanuli Tengah.

(2)Dengan melihat dan memperhatikan apa yang diperjuangkan oleh Ustad Shodiqin Lubis, Pastor Rantinus Manalu Pr dan Denis Simalango, marilah kita ambil bagian memperjuangkan kebenaran, keadilan dan kesejahteraan masyarakat umum tanpa membedakan latar belakang agama, golongan dan status sosial.

Demikianlah pernyataan sikap dan dukungan ini disampaikan kepada publik.

Diterbitkan di : Sibolga, 8 Februari 2013

Atas Nama Para Pastor dan Gereja Katolik se-Dekanat Tapanuli

P. Servasius Sihotang OFMCap

Dekanus Dekanat Tapanuli

P. Tarsisius Tambunan OFMCap

Sekretaris Dekanat Tapanuli

Memang, apa yang dikutip di atas belum tentu 100 % benar. Namun dengan prinsip “tiada asap tanpa api”, maka kecurigaan atas kekurang-puasan rakyat atas kepemimpinan Bonaran tak dapat disembunyikan. Tetapi, di balik itu, harus disadari bahwa memperjuangkan kepentingan rakyat pun kerap banyak tantangan, dan Raja Bonaran Situmeang tampaknya harus berjiwa besar menghadapi semua itu. 

Kepada kedua pejabat penting ini sesungguhnya rakyat berharap agar benar-benar mampu bekerja meningkatkan kesejahteraan rakyat sesuai dengan tanggungjawab yang dipikulkan ke pundak keduanya.

Satu catatan lain, jika Cagub yang datang saat pesta panggang ikan tempohari tercatat menuai kekalahan, meski tak harus dikaitkan dengan kunjungan ke pesta ini, bagaimana nasib Dahlan Iskan dalam pencapresan nanti? Tetapi Indonesia sungguh butuh jawaban, bukan pencitraan.

Shohibul Anshor SIregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: