'nBASIS

Home » ARTIKEL » Caleg Membangun Demokrasi

Caleg Membangun Demokrasi

AKSES

  • 512,716 KALI

ARSIP


Jangan hanya karena kau bermaksud menjadi Presiden pada tahun 2014 sehingga kau pun merasa perlu tahu politik. Itu bukan cara berpikir seorang negarawan

Tulisan ini terinspirasi oleh kisah nyata seorang anak muda yang masih sangat belia, yang menjadi caleg di salah satu dapil Kota Medan untuk pemilu 2014. Dalam aktivitas awalnya membangun jaringan, anak muda yang sedang menyelesaikan studi S-2-nya ini  memulai dengan membuat peta sederhana. Peta sederhana itu dibangun atas informasi awal tentang jumlah pemilih, jumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS), jumlah Kelurahan, jumlah Kecamatan dan nama-nama caleg yang menjadi saingannya di dapil itu. Ia juga memperoleh data dari KPU tentang angka BPP pada pemilu 2009, termasuk caleg-caleg terpilih dan distribusi suara menurut caleg dan partai waktu itu. 

Ia cukup serius menjadikan event dan kesempatan yang diperolehnya menjadi caleg itu sebagai bagian dari proses belajar. Bahkan kelas yang diikutinya pada studi S-2 sering dianggapnya sebagai peluang tersendiri untuk menguji sahih pikiran-pikiran dan praktik (lapangan) politik perkampanyeannya kepada para profesornya yang sedang mengajar. Ia juga akan mengajukan judul Front Stage dan Back Stage dalam Kampanye Politik Tahun 2014 sebagai judul tesis. Ia telaah dengan tegar data Indeks Demokrasi Indonesia yang buruk, termasuk untuk Sumatera Utara yang antara lain disebabkan ketidak-netralan penyelenggara dan buruknya tingkat kejujuran dalam menghitung suara, serta kemaharajalelaan money politic.

Kini ia sudah sangat siap untuk terpilih dan tak terpilih. Tidak ada langkah yang tak direncanakan dan tak dihitung secara cermat dampaknya, termasuk ketika menentukan partai mana yang akan “ditumpang” dan bagaimana mendapatkan status caleg dengan politik luhur, tanpa bayar sepeser pun. Ia sama sekali tak berencana menggelontorkan uang sebagai kelanjutan demokrasi transaksional yang dilembagakan di Indonesia saat ini. Artinya ia berdiri gagah menantang Indonesia yang sudah sedemikian buruk.

Dialog Pencerdasan. Hari sudah menjelang magrib, dan waktu buka puasa sudah terlihat terbersit kuat di wajah orang-orang yang ditemuinya di lapangan saat blusuan dalam rangka membangun jaringan pada bulan ramadhan lalu. Seseorang yang kira-kira sebaya dengan dia telah mengeluarkan pernyataan yang kurang sportif. “Tak ada caleg-caleg lain yang boleh masuk ke wilayah ini. Atribut siapa pun terlarang di sini”, begitu ungkapan orang itu. Memang, ungkapan itu tidak disampaikan langsung kepadanya, melainkan hanya dibuat seperti igauan bersungut-sungut sambil menjauhkan pandangan dan ingin segera berlalu. Anak muda caleg itu bukannya menjadi surut dengan itu, malah merasa memiliki sebuah peluang besar. Terjadilah dialog, meski anak muda caleg itu sebetulnya yang paling banyak berkata-kata, bahkan posisinya menasehati plus memberi indoktrinasi.

“Meskipun bukan familimu, kau kan kenal juga Brad Pitt atau Shahruk Khan atau Jet Lee? (ketiganya adalah bintang filem terkenal dari Negara, tradisi dan mazhab industri perfiliman yang berbeda). Jangan hanya karena kau bermaksud menjadi Presiden pada tahun 2014 sehingga kau pun merasa perlu tahu politik. Itu bukan cara berpikir seorang negarawan. Jangan pula karena tak menjadi pejabat negara kau merasa bukan seorang negarawan. Sungguh, sejujurnya saya merasa sedang berhadapan dengan seorang negarawan”.

Anak muda yang dihadapinya terperangah sejenak untuk kemudian berucap: “saya gak serius, maafkan saya dengan ucapan saya tadi”. Anak muda caleg merasa posisi telah dimenangkan secara moral, dan keadaan akan terus didominasi. Lalu ia seperti berceramah.

Kalau begitu tak ada ruginya kau optimis, dan spanduk saya tidak perlu kau anggap sebagai simbol ajakan untuk peperangan, walaupun misalnya ayah atau ibumu menjadi saingan saya di dapil ini. Mungkin kau hingga kini tak bermaksud memilih saya. Tetapi jika kau lakukan itu hanya karena partaimu berbeda dengan saya, coba renungkan pendirian itu berkali-kali, termasuk saat kau akan tidur nanti malam. Cara memikirkannya antara lain begini: jika semua orang harus dicalonkan melalui partaimu, apakah itu pemilu normal? Itu bukan pemilu. Itu cuma pemilihan pengurus partai? Artinya partaimu itu sangat penting, sepenting partai lain termasuk partai saya.

Jika kau gagal melakukannya, jangan takut, karena sesungguhnya banyak orang yang seperti kau. Pada tahap itu saya masih belum bisa menganggap kau bukan seorang negarawan. Karena saya tahu seorang negarawan sejati pun sering khilaf dan bertindak konyol bahkan merugikan negaranya sendiri. Itu tak menghalangi negara menganugerahinya gelar pahlawan. Yang penting kekonyolan itu jangan jadi habit atau kebiasaan buruk. Tetapi jika kegagalan itu akan kau lanjutkan lagi dengan pengrusakan spanduk saya, urusannya menjadi lain. Bukan hanya kau yang akan bersedih jika dituduh telah dikader oleh partaimu khusus untuk merusak spanduk saya, meski tuduhan itu saya rasakan  berlebihan juga.

Bagaimana kalau kita sederhanakan saja masalahnya? Memang spanduk saya itu adalah bahasa lain untuk memintamu dan orang lain, termasuk ayah, ibu dan saudara-saudaramu serta orang lain yang memiliki hak pilih, untuk memilih saya nanti. Tetapi kau jangan silap, kau boleh juga tidak memilih saya meski hal itu tentu saja tak menyenangkan buat saya.

Di atas segalanya, kau perlu catat bahwa saya tetap pastikan sikap saya bahwa kalau saya nanti terpilih kau pun punya hak mengklaim bahwa saya ini wakilmu di legislatif.

Nah, saya tidak punya banyak waktu. Ini kartu nama saya. Sengaja saya kemas jumlahnya agak banyak. Jika kau masih ingin menyampaikan sesuatu di lain waktu, termasuk misalnya memberitahu saya karena tak semua kartu nama saya ini terbagi habis kepada para pemilih di sini, nomor HP saya tertera di kartu ini. Kau tak usah membelanjakan pulsa untuk “menjangkau” saya, karena dengan miss call saja kau pasti akan saya hubungi.

Serangan Orang Kasep. Seseorang lainnya yang sudah memiliki hak pilih sejak masa orde baru sejak awal memperhatikan dialog itu. Dengan geleng-geleng kepala menyerang dengan kata-kata amat pedas. Begini katanya: “no hp-mu ini pun nanti pasti tidak dapat dihubungi. Nomormu ini hanya aktif sebatas kekuatan pulsa Rp 5000-an. Mengapa bangsa ini tidak sadar untuk memilih orang yang pantas? Bisa apa kau menyogok pemilih dan membayar petugas agar suaramu tak dicuri di TPS dan dalam proses perhitungan selanjutnya hingga pleno di KPU? Saya lebih suka partai kecil berpotensi besar dengan kader handal. Maaf, saya sangat sepakat mengenyahkan caleg berstatus “Anjing pemburu” (barangkali maksudnya ialah caleg yang hanya dianggap memperbanyak suara bagi calon jadi yang dipersiapkan partai meski pemilunya dengan pola suara terbanyak)”.

Anak muda caleg itu tertawa lebar dan dengan tegar membalas: “Saya sangat tidak mengharapkan ucapan itu datang dari seorang yang bagi generasi saya sebetulnya dianggap ikut bertanggungjawab atas kebobrokan negeri ini. Saya tadi berbincang dengan seseorang dari generasi saya. Perasaan kami dalam banyak hal sama, sesama orang yang penuh kecemasan mewarisi kebobrokan negeri ini. Saya sangat faham arah ucapan bapak. Tetapi bukannya menggelar pertaubatan, malah bapak memulai sebuah permusuhan baru dengan ketangkasan yang tak terperikan. Saya tak melihat tanda-tanda kemanfaatan apa pun dalam keseluruhan diri bapak sebagai konsekuensi pengalaman menjadi penerima segepok uang setiap pilihan dalam pemilu. Saya sudah menuduh, jelas ini tidak saya kehendaki. Tetapi saya merasa apatisme bapak sudah dalam tingkat membahayakan negeri kami”.

Sebelum orang itu membalas, anak muda caleg meneruskan: “saya lihat bapak naik pitam menerima bahasa saya. Tetapi saya kira bapak tidak bisa melakukan apa-apa termasuk memukul saya, karena dengan satu gerakan saja dari saya bapak bisa terjungkal dan harus saya gotong ke rumah sakit. Dengan kejadian seperti itu saya bisa memperkirakan mendapat penambahan popularitas di sekitar sini berlipat ganda. Tetapi terserah bapak saja, saya tidak mencari musuh dalam berniat memuliakan nasib generasi saya dan generasi setelah saya”.

Apa yang terjadi kemudian? Orang tua itu menyesal, minta maaf dan berjanji akan membantu sekuat tenaga.

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada, Medan, 2 September 2013, hl B5


1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: